Kisah Ibu Oki: Menyatukan Warung Nasi Ayam Tradisional dengan Dunia Digital di Bali

Ringkasan berita:

  • Dari toko tradisional ke sistem digital: Warung Nasi Ayam Ibu Oki di Bali berubah dari bisnis konvensional menjadi tempat makan yang menerima pesanan secara online agar sesuai dengan perkembangan zaman.
  • Pandemi menjadi titik balik: saat pembatasan sosial berbasis wilayah diberlakukan, 70–80 persen penjualan berasal dari online, sehingga bisnis tetap bertahan dengan pengelolaan dapur dan persediaan yang lebih teratur.
  • Layanan digital meningkatkan jumlah pengunjung: penggunaan Grab Dine Out membantu mengelola tamu kelompok dan mendorong peningkatan pendapatan di Warung Nasi Ayam Ibu Oki.

BALI, – Perubahan pola konsumen dan pesatnya pemanfaatan teknologi digital mendorong banyak pelaku usaha kuliner tradisional untuk menyesuaikan diri.

Bacaan Lainnya

Salah satu contohnya adalah yang dialami oleh pemilik Warung Nasi Ayam Ibu Oki di Bali, Sri Maryawati yang secara perlahan “mengubah” restoran tradisionalnya agar mampu menerima pesanan makanan secara online.(online).

Sri, yang biasanya dikenal sebagai “Ibu Oki”, mengakui bahwa awalnya tidak mudah bagi usaha kuliner tradisional seperti miliknya untuk masuk ke dalam platform digital.

Karena, bergabung dengan ekosistem digital memiliki tantangan yang unik, terutama dalam menyesuaikan sistem pemesanan.onlinedengan pengoperasian dapur dan penyajian makanan secara langsung di lokasi.

Namun, perkembangan zaman membuat tindakan tersebut tidak dapat dihindari.

Waktu sebelum saya memasukionline, saya mengakui bahwa saya perlu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Perkembangan pesanonlinedi dalam makanan saat ini sudah tidak bisa dihindari,” kata Ibu Oki kepada pada Minggu (21/12/2025) kemarin. 

Ibu Oki mengatakan bahwa tantangan terbesar dalam memasuki sistemonlinemerupakan menyesuaikan sistem pemesanan online dengan operasional dapur dan layanan makan di tempat.

Ia mengatasinya dengan pengelolaan produksi yang lebih terstruktur, termasuk menyediakan stok setengah jadi dan mempertahankan kualitas rasa agar tetap stabil meskipun jumlah pesanan meningkat.

“Order onlinedan tamu yang makan di tempat datang secara bersamaan. Ini merupakan tantangan besar. Namun sampai saat ini kami masih mampu mengelolanya,” jelas Ibu Oki.

Pandemi Covid-19 jadi momentum

Ibu Oki menambahkan bahwa restoran miliknya sebelumnya menerapkan sistem pesan makan secaraonlinesejak sebelum wabah Covid-19, sekitar tahun 2018-2019.

Pada masa pandemi dan penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), restoran mengalami penurunan pengunjung, sedangkan saluran digital menjadi tulang punggung utama dalam menjaga kelangsungan bisnis.

“Waktu PSBB, keadaan sangat sulit karena orang dilarang pergi ke restoran. Namun kami tetap beroperasi. Pada masa itu, 70 hingga 80 persen penjualan justru berasal darionlinedan kami bersyukur masih bisa bertahan sampai saat ini,” kata Ibu Oki.

Perubahan digital yang dilakukan Ibu Oki tidak berhenti pada layanan pesan-antar. Tiga minggu yang lalu, ia setuju untuk menyediakan layanan Grab Dine Out (layanan makan di tempat melalui aplikasi Grab) di semua restoran yang dimilikinya.

Ibu Oki merasa kehadiran layanan ini memberikan pengaruh yang baru bagi usaha warungnya, khususnya untuk pelanggan yang menyantap makanan langsung di lokasi.

“Baru sekitar tiga minggu setelah layanan Grab Dine Out diluncurkan, restoran kami semakin ramai dibanding sebelumnya dan kami mencatatkan kenaikan pendapatan,” ujar Ibu Oki.

Ia tidak menjelaskan besarnya kenaikan yang diperoleh setelah adanya layanan ini. Namun jelas, kehadiran Grab Dine Out mengubah pola kunjungan pengunjung ke restoran.

Jika sebelumnya banyak tamu yang datang secara pribadi atau dalam keluarga kecil, kini semakin banyak pelanggan yang datang dalam bentuk rombongan.

Sekarang banyak rombongan yang datang. Jika jumlahnya melebihi 10 orang, biasanya kami sarankan menggunakan pesan via Grab Dine Out agar bisa mendapatkanvoucher dan diskon,” katanya.

Grab Dine Out membantu mengelola peningkatan jumlah pengunjung

Selain bermanfaat bagi pelanggan, Ibu Oki juga menyebutkan bahwa Grab Dine Out dapat membantu sistem pemesanan makanan di restoran.

Karena, fitur ini dapat membantu dia mengatur peningkatan jumlah tamu atau pengunjung di seluruh restoran yang dimilikinya.

“Dengan layanan ini, kami mampu dengan mudah mengawasi siapa saja yang makan di restoran kami, khususnya bagi mereka yang datang dalam kelompok,” kata Ibu Oki.

Mengenai transformasi digital, Ibu Oki menyatakan bahwa ia akan terus memantau perkembangan ini serta mengembangkan sistem layanan di restoran sesuai dengan perubahan jaman.

Karena ini bukan sekadar mengikuti perkembangan tren, melainkan strategi untuk bertahan dan berkembang di tengah persaingan industri kuliner Bali yang semakin ketat.

“Kami tidak mungkin berdiam diri. Kami harus terus bergerak dan mengikuti perubahan, sambil mempertahankan rasa serta kualitas hidangan yang kami sajikan di restoran Warung Makan Nasi Ibu Oki,” tutupnya.

Saat ini, Warung Nasi Ibu Oki, yang telah beroperasi sejak tahun 2000, kini memiliki tiga cabang di Bali, yaitu Cabang Nusa Dua, Cabang Kuta, dan Cabang Sanur.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *