Isi Artikel
Sebuah nisan yang menarik perhatian banyak orang telah menjadi viral di TPU Bonoloyo, Solo. Nisan tersebut memiliki bentuk patung dua bocah yang sedang bermain bola. Di balik keunikan ini, terdapat cerita yang sangat mengharukan.
Lokasi dan Deskripsi Nisan
Nisan unik ini terletak di kompleks sisi utara TPU Bonoloyo, Solo, Jawa Tengah. Letaknya tidak jauh dari jalan utama, sehingga mudah ditemukan bagi pengunjung. Bentuk nisan ini mencolok dibandingkan makam-makam lainnya. Panjangnya kurang dari dua meter, dengan ornamen patung dua bocah berwarna coklat serta bola berwarna hitam-coklat di atas nisan. Pada nisan tersebut tertera nama almarhum Ignatius Toto Endratmo, yang lahir pada 11 April 1994 dan meninggal pada 17 Oktober 2010. Toto wafat pada usia 16 tahun.
Sejarah Pembuatan Nisan
Menurut keterangan Sukimin, petugas kebersihan di kompleks pemakaman itu, nisan patung dua bocah bermain bola sudah lama terpasang. “Sepertinya tidak sampai setahun setelah dimakamkan, patungnya sudah dibuat,” ujarnya. Meski begitu, dia tidak tahu secara detail tentang keluarga mendiang. Namun, ia menjelaskan bahwa pemasangan patung di TPU Bonoloyo bukan hal baru. Ada tradisi tak tertulis bahwa keluarga sering membuat patung sesuai hobi atau profesi jenazah.
Menurut dugaan Sukimin, Toto sangat menyukai sepakbola. Ia menjelaskan bahwa ada juga makam dengan patung mobil balap karena jenazahnya adalah mantan pembalap. Sementara itu, ada juga makam dengan patung gamelan karena jenazahnya adalah mantan penabuh gamelan.
Latar Belakang Toto Endratmo
Ignatius Toto Endratmo adalah putra pasangan suami-istri asal Solo. Sang ibu, Niken, menjelaskan bahwa patung dua bocah yang tengah bermain bola memiliki makna khusus. Toto dikenal sangat mencintai sepakbola sejak kecil. Meskipun bersekolah di Seminari Menengah Mertoyudan, Magelang, Toto tetap aktif bermain sepakbola pada 2009. Bahkan, ia menjadi wasit untuk beberapa pertandingan di daerah sekitar sekolah.
Menurut cerita Niken, Toto bercita-cita menjadi pemain sepakbola profesional dan ingin berkarier di Meksiko, tanpa meninggalkan panggilannya sebagai calon pastor. “Sangat-sangat suka sepakbola, bahkan sekolah di seminari sana itu biar bisa jadi pemain bola di Meksiko karena ada koneksi dari sekolah seminari dengan sepak bola di Meksiko sana. Bahkan saat itu Toto sudah jadi wasit juga, terus juga sering jadi wasit di pertandingan bola di daerah sana,” ujar Niken.
Kecelakaan dan Peristiwa Tragis
Toto masuk seminari karena tertarik dengan fasilitas olahraga di sana. “Ketertarikannya yang utama karena di situ ada lapangan sepak bola yang sangat bagus menurutnya. Tapi kemudian sangat puas dan bahagia karena di seminari mendapatkan banyak kesempatan belajar musik, teater, bahasa latin, dan lain-lain. Menurutnya di seminari ‘kecekel’ semua yang diinginkan,” tambahnya.
Namun, cita-cita itu hanya jadi harapan. Setelah setahun menempuh pendidikan di Seminari Mertoyudan, Toto mengalami kecelakaan lalu lintas, tepatnya pada 11 Oktober 2010, tak jauh dari sekolahnya. Saat itu, Toto sedang mengantar temannya berbelanja ke sebuah minimarket. “Jadi Toto ditabrak truk saat nganter temannya ke Indomaret dekat seminari dan meninggal dunia waktu itu,” tutur Niken.
Makna Patung Dua Bocah Bermain Bola
Jenazah Toto kemudian dimakamkan berdekatan dengan kakaknya, yang juga dikenal gemar bermain bola. Niken mengaku merasakan firasat tak biasa beberapa hari sebelum peristiwa tragis itu. Dia beberapa kali bermimpi aneh. Sepuluh hari sebelum meninggal, Toto juga sempat pulang ke Solo dan menunjukkan sikap lebih hangat kepada ibu dan adiknya, yang memiliki keterbatasan.
“Sepuluh hari sebelum kejadian itu, Toto sempat pulang ke Solo. Sempat juga boncengin adiknya yang punya keterbatasan, muter-muter naik kendaraan sama saya. Tapi sudah ada firasat, kok Toto kelihatan bersih dan bersinar,” ujar Niken. Dia bahkan sempat bertanya apakah Toto tidak lagi bermain bola di seminari. Jawaban Toto, tidak ada hal berbeda di sekolah.
Masih menurut Niken, patung bocah bermain bola tidak langsung dipasang setelah Toto dimakamkan. Dia dan suaminya menunggu hingga 1.000 hari setelah kepergian sang putra. Kakak Niken yang merupakan pemahat patung turut membantu mendesain dan membuat patung tersebut. Ide dua bocah bermain bola dipilih sebagai simbol dua putranya yang sama-sama menggemari sepak bola.
“Itu dari saya. Kebetulan kakak saya tukang patung, jadi saya buatin patung itu. Setelah seribu hari atau tiga tahun baru patungnya dibuat. Kebetulan kan samping makamnya ada makam kakaknya juga,” kata Niken. “Iya, itu karena anak saya dua di sana dimakamkan. Jadi saya buatkan dua patung anak-anak bermain bola. Bayangan saya supaya di surga mereka bisa main bersama.”
Yang jelas, Niken tidak menyangka patung tersebut akan menjadi viral dan ramai diperbincangkan. Dia cuma berharap, publik tidak salah paham. “Apa yang saya lakukan itu hanya bentuk sayang saya sebagai seorang ibu kepada putra-putra saya,” ujarnya.







