Jujur saja, tahun 2025 ini tidak seperti yang kubayangkan. Bukan karena penuh kejutan menyenangkan, tapi lebih karena terasa jauh lebih melelahkan dari perkiraan. Setiap hari seperti menjalani maraton tanpa garis finis yang jelas—bangun pagi, bersih-bersih rumah, berangkat kerja, pulang malam untuk kuliah, lalu tidur sebentar sebelum siklus itu berulang lagi keesokan harinya.
Ketika Energi Terkuras Setiap Hari
Momen yang paling menguras energiku tahun ini adalah menjalani dua peran sekaligus: bekerja sambil kuliah. Kedengarannya mungkin biasa, karena banyak orang melakukannya. Tapi ketika kamu benar-benar menjalaninya, baru terasa betapa beratnya menyeimbangkan keduanya.
Pagi hari dimulai dengan membersihkan rumah. Bukan sekadar merapikan tempat tidur atau mencuci piring, tapi rutinitas lengkap yang harus diselesaikan sebelum berangkat kerja. Lalu seharian penuh di kantor, menghadapi deadline, tuntutan atasan, dan dinamika kerja yang tidak selalu menyenangkan. Begitu pulang, bukan waktu istirahat yang menanti, melainkan kuliah malam dengan segudang tugas, diskusi kelompok, dan materi yang harus dipahami meski kelopak mata sudah berat.
Bagian paling berat? Saat tubuh sudah mengirim sinyal kelelahan, tapi tanggung jawab tidak bisa ditunda. Saat ingin istirahat sejenak, tapi to-do list terus bertambah. Saat merasa sendirian dalam perjuangan ini, karena orang-orang di sekitar mungkin tidak sepenuhnya memahami betapa melelahkannya menjalani rutinitas seperti ini hari demi hari.
Hal Kecil yang Menjadi Alasan Bertahan
Tapi di tengah semua kelelahan itu, ada hal-hal kecil yang membuatku tetap bertahan. Salah satunya adalah melihat idolaku—seseorang yang juga berjuang keras mencapai posisinya sekarang. Ketika melihat pencapaian dan kerja kerasnya, entah kenapa aku merasa tidak sendirian. Kalau dia bisa melewati masa-masa sulitnya dan sekarang bisa menghibur banyak orang termasuk aku, kenapa aku tidak bisa?
Idola bukan hanya sekadar hiburan. Bagi sebagian orang, mereka adalah cermin bahwa perjuangan itu nyata, bahwa kelelahan itu wajar, dan bahwa hasil tidak mengkhianati usaha. Setiap kali merasa menyerah, aku ingat perjalanan mereka, dan itu memberiku energi untuk melanjutkan satu langkah lagi.
Selain itu, hobiku menjadi pelarian yang sehat. Dance, misalnya, menjadi cara melepas stres paling efektif. Saat musik mengalun dan tubuh bergerak mengikuti irama, semua beban seolah terlupakan sejenak. Tidak perlu sempurna, tidak perlu dipertontonkan, cukup untuk diriku sendiri—sebagai ruang bernapas di tengah padatnya jadwal.
Membaca buku juga membantuku “kabur” sebentar dari realitas. Masuk ke dunia cerita orang lain, merasakan emosi karakter fiksi, atau menyerap ilmu dari buku nonfiksi memberiku perspektif baru. Ada kenyamanan dalam membaca, sebuah jeda yang tidak menuntut apa-apa selain kehadiran penuh dalam momen itu.
Menonton film pun sama. Dua jam tenggelam dalam cerita di layar adalah terapi tersendiri. Kadang aku butuh film yang ringan untuk tertawa, kadang yang berat untuk menangis—apapun itu, menonton film membantuku mereset pikiran sebelum kembali menghadapi kenyataan.
Pelajaran yang Ingin Kubawa ke Tahun Berikutnya
Tahun 2025 mengajariku banyak hal. Yang paling penting: kamu tidak harus kuat sepanjang waktu, tapi kamu harus punya cara untuk tetap bertahan. Kekuatan bukan berarti tidak pernah lelah atau tidak pernah mengeluh. Kekuatan adalah tetap bangun besok pagi meski hari ini terasa sangat berat.
Aku juga belajar bahwa hal-hal kecil itu penting. Kadang kita terlalu fokus pada tujuan besar—lulus kuliah, dapat promosi, mencapai target—sampai lupa bahwa perjalanan itu panjang. Dan di perjalanan panjang itu, hal-hal kecil seperti menari sejenak, membaca satu bab buku, atau menonton satu episode drama favorit adalah yang membuat kita tidak patah di tengah jalan.
Pelajaran lain yang ingin kubawa: tidak apa-apa meminta bantuan dan mengakui keterbatasan. Aku tidak harus sempurna dalam semua hal. Kadang pekerjaan bisa diminta bantuannya pada rekan kerja, tugas kuliah bisa dikerjakan bareng teman, dan urusan rumah bisa disederhanakan. Bukan berarti aku lemah, tapi karena aku manusia dengan kapasitas terbatas.
Dan yang terakhir, idola dan hobi bukan sekadar pelarian, tapi sumber energi yang sah. Dulu aku sering merasa bersalah kalau meluangkan waktu untuk hal-hal yang “tidak produktif” seperti menonton konser idola atau sekadar menari di kamar. Tapi sekarang aku tahu, itu adalah investasi untuk kesehatan mentalku. Tanpa itu, aku mungkin sudah burnout sejak lama.
Menutup 2025 dengan bersyukur
Tahun 2025 mungkin bukan tahun terbaikku dalam hal pencapaian eksternal. Tapi ini adalah tahun di mana aku belajar banyak tentang diriku sendiri—tentang batasku, tentang apa yang membuatku bahagia, tentang bagaimana cara bertahan ketika segalanya terasa berat.
Aku tidak tahu apakah tahun berikutnya akan lebih mudah. Tapi aku tahu aku sekarang punya toolkit yang lebih baik untuk menghadapinya: idola yang menginspirasi, hobi yang menyembuhkan, dan pemahaman bahwa tidak apa-apa tidak baik-baik saja—asalkan aku tetap mencoba.
Jadi, untuk 2026, aku berharap bisa lebih baik dalam menyeimbangkan semuanya. Mungkin menemukan cara kerja dan kuliah yang lebih efisien, mungkin lebih berani menetapkan batasan, atau mungkin sekadar lebih baik dalam merayakan kemenangan-kemenangan kecil.
Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang tidak pernah jatuh, tapi tentang selalu menemukan alasan untuk bangkit lagi. Dan tahun ini, aku menemukan alasan-alasanku.







