Isi Artikel
Fenomena Jasa Sewa Pacar di Kalangan Gen Z
Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan pola hidup, muncul berbagai inovasi yang menarik perhatian masyarakat. Salah satunya adalah jasa sewa pacar, yang kini mulai populer di kalangan Gen Z. Bagi sebagian orang, ini bisa menjadi solusi untuk mengatasi rasa kesepian atau keinginan untuk memiliki pengalaman hubungan tanpa komitmen.
Pengalaman Seorang “Pacar Sewaan”
Anya (25 tahun) adalah salah satu talent yang telah menjalani layanan ini selama setahun (2023-2024). Ia memilih bergabung dengan layanan ini karena sedang merasa gabut dan ingin mencoba hal baru. Layanan yang ia tawarkan terbatas pada chatting melalui Telegram. Menurut Anya, tarif yang diberikan oleh klien bervariasi, mulai dari 5.000 hingga 40.000 per hari. Namun, ia tidak mengatakan secara pasti apakah klien yang ia temui melebihi angka tersebut.
“Jasa yang saya tawarkan hanya chatting. Jam kerjanya tergantung pada pilihan klien, baik dalam bentuk hourly maupun daily. Tidak ada ekspektasi bahwa saya harus selalu available seperti pacar biasa,” ujar Anya. Ia juga menambahkan bahwa perannya sebagai “pacar sewaan” bersifat fleksibel, sesuai dengan keinginan klien.
Anya menjelaskan bahwa sebagai talent, ia dihubungkan oleh seorang penengah yang menjaga jarak antara dirinya dan calon klien. Ada batasan-batasan yang jelas, seperti tidak membahas isu politik atau topik seksual. “Kami tidak biasanya berbagi identitas nyata, sehingga privasi tetap terjaga,” katanya.
Namun, tidak semua pengalaman dianggap menyenangkan. Beberapa talent pernah mengalami kasus harassment atau pelanggaran batasan. Dalam situasi seperti ini, talent berhak mengajukan pembatalan, pengembalian dana, atau penjadwalan ulang sesuai aturan yang berlaku.
Pengalaman Menggunakan Jasa Sewa Pacar
Rina (24 tahun) pernah menggunakan jasa ini dan bercerita tentang prosesnya. Ia pertama kali mengenal layanan ini melalui Twitter pada tahun 2019. Tujuan utamanya adalah untuk mencoba hal baru dan memenuhi rasa penasaran.
Menurut Rina, tahapan penggunaan layanan ini cukup sederhana. Pengguna dapat mengirimkan “menfess” ke base, lalu memilih siapa yang ingin mereka “rent”. Kriteria bisa disampaikan melalui pesan tersebut. Selanjutnya, pengguna bisa mengirim DM kepada talent atau manajer talent tersebut.
Layanan yang pernah ia coba hanya berupa chatting biasa, tanpa sampai ke ranah nyata seperti teleponan atau nonton bareng. Durasi penggunaan berkisar antara 3 hingga 7 hari. Tarif yang ditawarkan mulai dari Rp 6.000 per jam, belum termasuk tambahan layanan seperti main game, telepon, atau kencan virtual.
“Kalau repeat order tidak pernah, karena saya mudah bosan. Jika ingin “rent” lagi, saya tidak akan mengambil orang yang sama atau tempat yang sama,” kata Rina. Ia mengungkapkan bahwa total penggunaan layanan ini sekitar tujuh kali, namun saat ini sudah tidak lagi digunakan karena merasa sayang duit.
Alasan Gen Z Menggunakan Jasa Sewa Pacar
Menurut Anya, banyak alasan mengapa Gen Z tertarik menggunakan layanan ini. Salah satunya adalah karena tidak romantis seperti hubungan nyata. Ada juga yang merasa kesepian atau tidak punya waktu untuk hubungan nyata, sehingga memilih layanan ini sebagai pengalaman hubungan.
Selain itu, beberapa orang ingin mengalami hubungan yang tidak bisa mereka dapatkan di dunia nyata, misalnya mencari figur saudara. “Banyak juga yang ingin merasakan dicintai sesuai dengan ‘pacar idaman’ mereka,” ujar Anya.
Rina juga setuju dengan pendapat ini. Ia mengatakan bahwa Gen Z lebih suka pengalaman yang instan dan tidak terlalu rumit. Dengan layanan ini, mereka bisa mendapatkan perhatian tanpa adanya komitmen yang berat.
Jasa sewa pacar memang menawarkan solusi yang unik bagi sebagian orang. Meski masih kontroversial, fenomena ini menunjukkan bagaimana generasi muda beradaptasi dengan kebutuhan dan keinginan mereka di era digital.






