Kenangan Pahit Alissa Wahid Saat Harus Tinggalkan Istana

Kisah Alissa Wahid sebagai putri dari Gus Dur dan pengalamannya saat menghadapi kematian Istana Negara.

Online.comSaat menempuh studi, Alissa mengenal pria idamannya. Pemuda yang bersifat tenang ini tidak membatasi kegiatannya sebagai pekerja sosial. Sayangnya, keduanya tidak bisa melakukan bulan madu setelah menikah.

Bacaan Lainnya

Di mana pun keduanya pergi, selalu diikuti oleh pengawal presiden. Berulang kali Alissa berusaha melarikan diri dari pengawalan ajudan, tetapi tidak pernah berhasil.Berikut adalah kisah Alissa Wahid yang dia sampaikan kepada Tabloid NOVA edisi Maret 2013.

“Saat menjadi mahasiswa, saya bergabung sebagai relawan Sahabat Remaja, PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia) atau bekerja di berbagai LSM. Meskipun Gus Dur cukup aktif dalam Sahabat Remaja dari PKBI pada awal tahun 70-an, saya tidak ingin terlepas dari sosok Gus Dur. Saya tidak pernah merasa “terjebak” dengan hal itu. Justru saya mengasah diri melalui citra dan kemampuan sendiri.”

Konsekuensi lain dari menjadi anak seorang aktivis seperti Gus Dur adalah jarang bisa berlibur bersama seluruh keluarga. Setiap kali merencanakan liburan, selalu batal. Pernah kami berlibur ke Pangandaran. Baru saja sampai di sana, Bapak mengatakan harus kembali ke Jakarta. Katanya harus menghadapi Pak Harto (Presiden Soeharto, Red.) yang saat itu masih memimpin. Akhirnya kami tinggal di Pangandaran tanpa Bapak.

Sama halnya setiap hari raya di Jawa Timur, banyak penghuni pondok pesantren yang sudah menunggu. Bapak selalu “dipanggil” ke berbagai tempat untuk berbicara. Dalam catatan saya, kami baru sempat liburan bersama satu kali, yaitu pada tahun 1991 ke Eropa. Meskipun selama liburan Bapak masih diminta untuk berbicara di Kedutaan Besar RI, tetapi situasi ini lebih “aman” dibanding gangguan sebelumnya. Ha ha ha…

Kali kedua kami bertemu kembali saat Yenny lulus dari Harvard University. Saat itu dia menjadivaledictorian(yang menyampaikan pidato perpisahan) sebagai perwakilan mahasiswa. Kami berkumpul “ala” Ciganjuran. Maksudnya, Anita berangkat dari Jerman, karena dia kuliah di sana. Bapak dan Ibu berangkat melalui Tokyo, karena Bapak harus menjadi pembicara terlebih dahulu di sana. Sementara saya berangkat melalui London. Dan Inayah dari Jakarta. Semua berkumpul selama beberapa hari. Setelah itu kembali ke negara masing-masing lagi, ha ha ha…

Pada tahun 2000, saya menikah dengan Erman Rosyadi, seorang lajang dari Jakarta. Kami bertemu di kampus UGM. Saya mengambil jurusan psikologi, sedangkan Mas Erman kuliah di Fakultas Kedokteran. Kami saling mengenal setelah dikenalkan oleh teman, karena dia ternyata bersahabat dengan teman-teman saya di SMA 8 yang juga kuliah di UGM. Awalnya kami hanya biasa saja. Bahkan dia pernah ingin saya jodohkan dengan teman saya. Ternyata, malah berjodoh dengan saya.

Karena saya seorang aktivis, pertemuan kami dengan Mas Erman menjadi sangat jarang. Ditambah lagi pada tahun 1992 saya menjabat sebagai Sekretaris Jenderal ISEMAPSI (Ikatan Senat Mahasiswa Psikologi Seluruh Indonesia). Oleh karena itu, saya sering pergi ke luar kota. Namun sejak awal dia sudah tahu, saya tidak bisa dilarang untuk berorganisasi. Saya juga tidak ingin kehilangan sahabat hanya karena hubungan pacaran dengan dia. Dia sangat menghargai kebutuhan pribadi saya.

Kurangnya kesempatan bertemu kami semakin memburuk pada tahun 1994 ketika Ibu mengalami kecelakaan yang menyebabkan lumpuh. Meskipun begitu, kami tetap menjaga hubungan, bahkan berkomitmen sebagai pasangan kekasih. Jika saya sedang berada di Jogja, seringkali saya mampir ke rumah neneknya. Dia memang tinggal bersama neneknya di Jogja.

Hubungan kami berlangsung selama 6 tahun. Saya pikir, kami seperti botol yang menemukan tutupnya. Saya membutuhkan seseorang yangajeg, seperti Mas Erman. Ia, ya, orangnyakeep to himself, pendiam. Ia juga tidak terlalu populer. Kecuali hanya dengan orang yang mampu membuatnya merasa nyaman. Dari sanalah saya memperolehsecuritymengenai hubungan kami. Saya percaya, dia adalah orang yang siap mendukung saya.

Susah Bulan Madu

Setelah selesai kuliah, Ibu mulai menanyakan kapan saya akan menikah dan memberi keturunan. Padahal usia saya baru 25 tahun. Sebaliknya, Bapak tidak pernah mengajukan pertanyaan semacam itu. Bapak berkata, jika saya ingin fokus pada karier atau memutuskan tidak menikah, itu adalah pilihan saya. “Jangan sampai kamu menikah hanya karenadioyak-oyakPak tidak apa-apa, Pak mendukung,” itulah ucapan Pak yang membuat saya semakin semangat.

Yenny justru melarang saya untuk segera menikah. Alasannya, dia khawatir setelah saya menikah, giliran dia yang akan ditanya-tanya. Sementara dia masih ingin fokus pada karier. Saya menikah di usia 28 tahun. Saya merasa, saat itu sudah tepat dan hubungan kami sudah berlangsung cukup lama. Saya memutuskan untuk menikah mungkin juga karena faktor usia, ya. Saya ingin memiliki anak agar tidak terlalu terlambat.

Lucu, Yenny justru cemas ketika mendengar keputusan saya. Ia berkata, “Mbak, bukankah kamu masih muda? Masih banyak hal yang ingin dicapai?” Saya dengan tegas menjawab, “Yang ingin saya kejar, akan saya kejar. Menikah tidak boleh menghalangi itu.”

Akibatnya, sebagai pengantin baru saya tidak sepenuhnya bisa menikmati bulan madu, karena Bapak telah menjadi Presiden RI. Setiap kali ingin pergi berduaan selalu ada pengawal yang mengelilingi kami. Sebagai anak presiden, setiap perjalanan pasti diawasi. Nah, karena tidak bisa menikmati bulan madu, akhirnya saya cari jalan keluar.

Pernah suatu kali ada acara di Bali, saya diundang menjadi pembicara oleh Bapak. Setelah acara selesai, rombongan langsung kembali ke Jakarta. Namun, saya memperpanjang masa tinggal tanpa memberitahu pengawal. Ketika pengawal mengetahui hal tersebut, terjadi perdebatan antara saya dan mereka. Saya menyampaikan bahwa saya ingin berbulan madu bersama suami. Akhirnya mereka memahami situasi saya.

Saat rombongan kembali, kami pindah ke hotel yang berbeda. Tapi, pagi harinya di hotel tersebut sudah ada orang-orang dengan rambut pendek. Ketika kami pergi, mereka mengikuti kami. Ya, akhirnya bulan madu kami diawasi oleh tentara. Tidak ada kesenangan sama sekali. Hanya di dalam kamar hotel kami merasa bebas.

Karena tidak bisa menikmati bulan madu berdua, saya mulai mencari cara lain. Saya pergi umrah bersama suami. Tentu saja, selama 10 hari pertama ditemani oleh pengawal. Namun secara diam-diam, saya meminta asisten pribadi untuk memesan tiket pesawat dengan nama saya dan suami agar terbang ke Singapura. Setelah selesai umrah, ketika keluar dari pintu kedatangan di Bandara Soekarno-Hatta, pengawal saya mengizinkan pulang.

Sementara saya berpamitan untuk melanjutkan perjalanan ke Singapura. Mereka kaget. Kami sempat berselisih karena mereka tidak bisa melepaskan kami. Tapi saya berkata, mohon dimengerti. Dengan sedih mereka akhirnya melepaskan kami, meskipun asisten saya juga mendapat teguran dari pengawal. Ha ha ha…

Masih mengenakan pakaian umrah, saya kembali memasuki pintu keberangkatan bandara menuju Singapura bersama Mas Erman.

Alhamdulillah, meskipun hanya dua hari, kami telah lepas dari pengawasan dan bisa pergi ke mana saja berdua. Rencananya setelah menikah, saya ingin menunda memiliki anak. Namun rencana itu batal karena setahun setelah menikah saya tertular hepatitis B. Dokter mengatakan pengobatan hepatitis B membutuhkan waktu satu tahun penuh. Karena masih muda dan baru menikah, saya merasa lebih baik melahirkan terlebih dahulu, sementara pengobatan bisa ditunda. Ibu merasa stres dan menyarankan kami untuk memiliki anak. Pada usia pernikahan yang menginjak tiga tahun, anak pertama kami lahir.

Problema Rumah Tangga

Saat Bapak menjabat sebagai Presiden, Bapak tidak menyukai anak-anaknya terlibat dalam pekerjaan beliau. Jika hanya untuk membacakan sesuatu, boleh saja. Namun, jika ada pesan “sesuatu” yang ingin disampaikan untuk membantu teman atau orang lain, itu dilarang. Tapi mengingat keterbatasan kemampuan, saya harus sering meninggalkan suami untuk menangani urusan Bapak.

Saya diberikan tugas untuk mengelola dapur kerajaan. Karena alasan membantu Bapak, saya lebih sering berada di istana dan meninggalkan suami di Jogja. Terkadang Yenny dan Ina juga ada di istana, karena Bapak dan Ibu tidak mampu pergi ke kamar mandi sendirian pada malam hari. Akibatnya, waktu dan perhatian saya terbagi antara suami serta keluarga.

Hubungan kami memerlukan proses panjang untuk menemukan, “bagaimana rasanya yang enak?”. Dengan bantuan teman-teman dekat, masalah dalam rumah tangga kami akhirnya menemukan jalan keluarnya. Saya menyadari, seberapapun sulitnya, status saya adalah istri dari Mas Erman. Yang menjadi pertanyaan, siapa yang harus diutamakan? Ayah atau suami? Pertanyaan ini terus berputar dalam pikiran saya.

Kami belajar mengenai apa yang kami sebut sebagai urutan prioritas. Jadi, suami menyampaikan apa yang menjadi urutan prioritasnya. Saya juga melakukan hal yang sama. Masing-masing menulisnya di kertas. Kami saling memahami, lalu mencari titik kesepakatan. Memang akhirnya saya menyadari bahwa tidak mungkin bisa menghabiskan 90 persen waktuku untuk Ciganjur dan hanya 10 persen untuk suami. Harusnya 50:50. Kami berusaha tidak menuntut tetapi lebih fokus pada pemberian. Itu terasa sangat menyenangkan.

Saya pamit kepada adik-adik dan Om yang berada di istana. Saya sampaikan kepada mereka bahwa sebagai istri, saya memiliki kewajiban terhadap suami. Mohon dimengerti agar saya dapat memiliki keseimbangan waktu bersama suami. Alhamdulillah, keluarga memahami dan mendukung, meskipun beban akan semakin berat bagi mereka.

Itulah cara saya membangun hubungan pernikahan hingga saat ini, selalu berjalan seiring sejalan. Pak Erman tidak mengambil gelar doktornya. Ia mengelola bisnis properti milik keluarga besar Ciganjur yang berada di Jogja.

Tinggalkan Istana

Ya, saya ingin mengatakan, masa-masa menjadi anak presiden sebenarnya lebih sering tidak menyenangkan, lho. Karena sejak kecil kami sering diberi kebebasan oleh Bapak dalam memilih jalan hidup. Namun, ketika menjadi anak presiden, kebebasan kami justru terbatasi. Setiap pergi kemana-mana selalu diawasi dan kami sering berusaha melepaskan dari pengawasan tersebut.

Misalnya Ina, saat masih menempuh studi sering kali pindah tempat kos setiap kali melihat pengawas mulai berlalu-lalang di dekat rumah kosnya. Saya juga pernah bertemu dengan mantan komandan pengawas Bapak. Ia mengatakan, dulu hampir ditahan di sel oleh komandannya karena saya berhasil lepas dari pengawasan mereka, ha ha ha…

Ada juga tantangan dalam menjadi anak presiden. Pernah suatu saat ada seorang pengusaha yang mengatakan ingin memberikan bantuan kepada korban bencana alam melalui lembaga kemanusiaan di mana saya aktif. Saat menyerahkan bantuan, pengusaha tersebut menyebut bahwa uangnya sudah disiapkan. Namun, ia menyampaikan pesan agar saya menyampaikannya kepada Gus Dur, karena sedang memiliki proyek tertentu. Jelas saja saya menolak bantuan itu dan meminta dia menyerahkan bantuan melalui LSM lain.

Pengalaman pahit sebagai anak seorang presiden juga saya alami menjelang Bapak mundur. Kami merasa sangat tertekan. Kami, kan, tidak diajak terlibat dalam proses politik oleh Bapak, sehingga kami tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Gus Dur selalu meminta kami mengabaikan isu-isu negara.

Sebulan sebelum pergantian, Bapak sempat meminta Ibu dan anak-anak kembali ke Ciganjur. Kami menolak, apa pun yang terjadi kami harus tetap bersama Bapak. Kami kemudian mengadakan rapat keluarga dan keputusannya adalah kami menolak untuk pulang. “Tapi ini berbahaya, Nak!” kata Bapak saat itu. “Kami tidak peduli,” jawab saya. Pada momen kritis seperti itu, apa pun bisa terjadi terhadap Bapak. Mungkin beliau sudah membayangkan nasibnya akan sama seperti Sukarno. Bisa saja tiba-tiba dijemput paksa dan dikucilkan.

Situasi pada saat itu memang sangat mendesak. Saya benar-benar tahu apa yang terjadi di luar istana karena jendela kamar saya berada tepat di depan. Jadi, saya dapat melihat dengan jelas orang-orang yang melakukan demonstrasi. Di dalam istana, orang-orang terus membaca Al-Quran, karena Ibu mengadakan acara khataman Al-Quran setiap hari. Akibatnya, suara para demonstran dan suara orang yang membaca Al-Quran saling bercampur.

Saya sangat tegang, terlebih lagi saya sedang dalam keadaan hamil. Keadaannya begitu membebani sampai kami tak berani menonton acara TV lokal. Satu-satunya tayangan yang saya tonton adalah MTV. Saya pernah bertanya, mengapa situasi ini dipertahankan? Mengapa begitu keras ingin menjadi presiden? “Ini merupakan perubahan yang tajam dari kondisi tertekan orde baru menuju situasi sekarang, sangat besar perubahannya. Siapa pun yang menjadi presiden akan mengalami goncangan yang luar biasa. Sayang bagi orang lain yang menjadi presiden. Yang kuat hanyalah orang seperti Bapak ini, yang terbiasa dihancurkan dan dihina,” jawab Gus Dur.

Saya memahami keputusan Bapak yang bersifat idealis. Kami tidak tahu bagaimana dampaknya terhadap Bapak. Kami benar-benar dalam keadaan kacau. Istana benar-benar terbuka untuk banyak orang. Protokol pun hanya sebagian mengatur pergerakan orang yang masuk dan keluar dari istana. Titik perubahan Gus Dur untuk meninggalkan istana terjadi ketika menerima kabar bahwa pendukung Gus Dur sudah masuk Jakarta, siap bertaruh nyawa untuk membela beliau. Gelombang besar warga NU memiliki sikap keras terhadap kiai. Oleh karena itu, Gus Dur memutuskan untuk keluar dari istana. Beliau tidak ingin terjadi pembunuhan.

Dua hari sebelumnya, Bapak mengatakan kepada kami bahwa ia akan kembali ke Ciganjur karena tidak ada kekuasaan yang layak dipertahankan melalui tumpahan darah. Jadi, alasan Bapak meninggalkan istana bukanlah pengakuan atas kesalahan. Ia merasa tidak bersalah. Dari segi prosedur hukum, juga terdapat kelemahan. Sebagai anak dari Gus Dur, saya menyimpulkan bahwa turunnya Bapak dari kursi presiden hanya disebabkan karena ia kalah dalam dunia politik.

Pada tahun 2009 kesehatan Gus Dur menurun secara signifikan. Saya sering kali pergi ke Jogja dan Jakarta. Suamiku yangtake oversegala urusan keluarga. Jika saya tidak pergi ke Jakarta, dia justru bertanya. Dia memahami bahwa pikiran saya tidak mampu menangani dua hal sekaligus, yaitu urusan rumah tangga dan ayah. (Gus Dur meninggal pada hari Rabu, 30 Desember 2009, di RS Cipto, Jakarta, pukul 18.45 WIB).

“Menjahit” Gusdurian

Setelah wafatnya Gus Dur, kami sekeluarga berkumpul untuk membahas bagaimana cara merawat warisan perjuangan Gus Dur. Bentuknya seperti apa? Akhirnya kami sepakati, masing-masing anak Gus Dur memiliki tugas yang berbeda. Mengenai politik praktis, dapat diurus oleh Yenny melalui partai politik. Sedangkan perjuangan kultural Gus Dur yang berada di luar politik praktis dapat dilakukan melalui murid-murid Gus Dur.

Keputusan dari keluarga besar adalah mengundang para murid Gus Dur untuk berdiskusi bersama mengenai perawatan warisan perjuangan budaya Gus Dur. Dari pertemuan tersebut, dibentuk sebuah jaringan yang bersifat cair, tanpa organisasi formal, tidak memiliki pusat maupun cabang. Siapa pun yang merasa sebagai murid Gus Dur dan mendukung perjuangan budayanya dapat bergabung, saling bertemu, serta saling membantu dalam belajar. Nama jaringan ini adalah Gusdurian.

Murid Gus Dur, ya, jumlahnya sangat banyak, ada di mana-mana. Saya mendapat tugas untuk “menjahit” para Gusdurian. Dari sini pula saya merancang strategi dalam memperjuangkan visi saya. Yaitu, Indonesia yang harmonis dalam keragaman dan adil, beradab. Untuk mencapainya, syaratnya sangat banyak. Membutuhkan perjuangan yang berat.

Saya juga berkeinginan untuk menciptakan keluarga Indonesia yang berlandaskan kearifan lokal serta menjadi bagian dari bangsa Indonesia yang adil dan harmonis. Dua hal tersebutlah yang kini mengisi waktu saya, sehingga sering kali saya harus melakukan perjalanan ke luar kota bahkan ke luar negeri selama beberapa hari. Pekerjaan lapangan saya yang berkaitan dengan Gusdurian, misalnya membantu masyarakat adat dalam memperoleh hak-hak mereka. Bisa juga terkait dengan isu diskriminasi sosial atau kemiskinan. Setiap daerah memiliki tantangan yang berbeda.

Berikut adalah beberapa variasi dari teks tersebut: 1. Berikutnya, pernikahan saya dengan Mas Erman menghasilkan empat orang anak, yaitu Parikesit Nuril Azmi, Sabrina Aksara Ashakiran Arinka, Dimas Adjani Ismoyo Maulana Annadhief, dan Aretta Zakiah Saka Asmara. 2. Selanjutnya, dari pernikahan saya bersama Mas Erman, kami memiliki empat putra-putri, yakni Parikesit Nuril Azmi, Sabrina Aksara Ashakiran Arinka, Dimas Adjani Ismoyo Maulana Annadhief, serta Aretta Zakiah Saka Asmara. 3. Setelah itu, pernikahan saya dengan Mas Erman telah melahirkan empat anak, antara lain Parikesit Nuril Azmi, Sabrina Aksara Ashakiran Arinka, Dimas Adjani Ismoyo Maulana Annadhief, dan Aretta Zakiah Saka Asmara. 4. Dalam pernikahan saya dengan Mas Erman, kami dikaruniai empat anak, yaitu Parikesit Nuril Azmi, Sabrina Aksara Ashakiran Arinka, Dimas Adjani Ismoyo Maulana Annadhief, serta Aretta Zakiah Saka Asmara. 5. Selanjutnya, dari pernikahan saya bersama Mas Erman, terlahir empat anak, yakni Parikesit Nuril Azmi, Sabrina Aksara Ashakiran Arinka, Dimas Adjani Ismoyo Maulana Annadhief, dan Aretta Zakiah Saka Asmara.

Saat anak pertama saya lahir pada tahun 2001, saya mulai berpikir, jika anak saya ingin bermain, apakah ada tempat yang ramah untuknya? Akhirnya saya dan teman-teman yang bekerja di LSPPA (Lembaga Studi dan Pengembangan Psikologi untuk Anak) mendirikan perpustakaan interaktif di Jalan Timoho. Buku-bukunya banyak, nyaman, dan tersedia workshop. Ternyata tidak hanya untuk membaca, akhirnya banyak orang tua yang menitipkan anak mereka sehari penuh. Karena jumlahnya semakin banyak, akhirnya kami membuat daycare. Lalu para orang tua meminta kami membuatplay group.

Nah, dalam perkembangannya kami mengembangkan TK, daycare, dan play group. Pada tahun 2010 kami mendirikan PAUD Fastrack. Ini merupakan pengembangan dari minat saya terhadap psikologi keluarga, serta berawal dari kebutuhan pribadi. Visi Fastrack adalah mempersiapkan anak-anak menjadi warga dunia yang memiliki akar kearifan lokal. Oleh karena itu, kami memilih nama Fastrack.

Bahasa yang digunakan dalam pembelajaran bilingual, karena kami ingin menjadikan anak-anak sebagai bagian dari masyarakat global. Tapiliving value-nya tetap Pancasila. Kami berharap setelah anak-anak lulus dari Fastrack, mereka menjadi anak-anak yang memiliki sifat ke-Indonesiaan yang kuat serta siap menjadi warga dunia.

Selain membangun Fastrack, saya masih membantu teman-teman melalui kelas Twitter. Di platform media sosial tersebut, saya masih dapat mengekspresikan profesi saya sebagai psikolog. Karena itu, saya tidak memiliki waktu lagi untuk membuka praktik.

Ya, demikianlah, inti dari perjalanan hidup yang saya alami selama ini. Saya menjalaninya dengan prinsip, menjadi ikan besar di kolam kecil lebih baik daripada menjadi ikan kecil di kolam yang lebih luas. Semangat berjuang.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *