Kemenhut datangkan dokter gajah dari India ke Riau, cegah kematian akibat infeksi EEHV



PEKANBARU – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) memberikan perhatian khusus terhadap upaya perlindungan gajah Sumatra setelah seekor gajah betina bernama Nurlaila meninggal di Pusat Konservasi Gajah (PKG) Sebanga, Duri, Kabupaten Bengkalis, Riau.

Gajah yang berusia 1 tahun 6 bulan tersebut dilaporkan mati akibat infeksi Elephant Endotheliotropic Herpes Virus (EEHV). Untuk mencegah kejadian serupa terulang, Kemenhut menggandeng Fauna Land Indonesia untuk mendatangkan tim dokter spesialis gajah dari Vantara, India.

Bacaan Lainnya

Menurut Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, tim ahli gajah dari India telah tiba di Riau sebagai bentuk komitmen pemerintah dalam mencegah kematian gajah Sumatra akibat virus EEHV.

“Sesuai janji saya saat mengunjungi PKG Sebanga pada 28 November lalu, akhirnya tim ahli gajah dari India datang ke Riau. Ini adalah langkah serius untuk menjaga kelangsungan hidup gajah Sumatra,” ujarnya.

Vantara merupakan pusat penyelamatan, rehabilitasi, dan konservasi satwa liar raksasa di Jamnagar, Gujarat, India. Tempat ini dikenal memiliki salah satu rumah sakit gajah tercanggih di dunia.

Dalam kerja sama dengan Vantara India dan Fauna Land Indonesia, Kemenhut melakukan sejumlah langkah, seperti pemeriksaan medis, tindakan pencegahan dini, serta peningkatan kapasitas perawatan gajah oleh para mahout di lapangan.

Pencegahan kematian gajah akibat infeksi EEHV memerlukan pengetahuan dan keterampilan khusus, terutama dalam mendeteksi gejala sejak dini. Oleh karena itu, kolaborasi lintas negara ini dinilai penting untuk memperkuat sistem perlindungan gajah Sumatera yang populasinya semakin terancam.

“Ancaman terhadap gajah Sumatera tidak hanya berasal dari kehilangan habitat, tetapi juga dari penyakit seperti EEHV. Karena itu, kita belajar dari pakar terbaik di dunia demi menjaga setiap nyawa gajah,” kata Raja Juli Antoni.

CEO Fauna Land Indonesia, Danny Gunalen, menyampaikan bahwa pihaknya siap mendukung penuh pemerintah dalam survei serta penanganan kesehatan gajah di Indonesia.

Sebagai perwakilan Vantara di Indonesia, Fauna Land Indonesia memfasilitasi kehadiran tim dokter spesialis gajah dari India.

“Tim dari Vantara telah melakukan diagnosis awal, mempelajari kondisi kesehatan dan kesejahteraan gajah, terutama pasca merebaknya penyakit herpes pada gajah,” jelas Danny.

Kolaborasi ini dimulai di Taman Wisata Alam (TWA) Buluh Cina, Kabupaten Kampar, Riau, namun upaya preventif akan diperluas ke seluruh kantong populasi gajah di Sumatra. Termasuk Taman Nasional Tesso Nilo, PKG Sebanga Bengkalis, Taman Nasional Way Kambas, serta lokasi-lokasi lainnya di Indonesia.

Kerja sama lintas negara ini diharapkan mampu memperkuat sistem perlindungan gajah di Indonesia secara lebih terukur, berbasis data, dan berorientasi pada pencegahan dini. Hal ini bertujuan untuk memastikan kelangsungan hidup gajah Sumatra di masa depan.

Pos terkait