Kemana perginya Permainan Tradisional Anak itu?

Penulis: Dina Amalia (Kaka D)

Majalah Panggilan Adzan edisi Agustus 1992 memuat topik permainan anak. Baru mau baca, saya dijulurkan pertanyaan: Kemana perginya Gobag Sodor itu? Lantas saya menyahut: Kemana perginya Permainan Tradisional Anak itu? 

Bacaan Lainnya

Pertanyaan spesifik versus cakupan luas, sama-sama ditanya dan dicari sebab memudar bak ditelan bumi. Kalau diingat-ingat, terakhir kali memainkan dan melihat bocah bermain benteng, congklak, lompat tali, bola bekel, gobag sodor, cublak-cublak suweng… itu saat masa-masa SMP.

Setelahnya dan sekarang? Jarang betul! Kalau kata anak zaman now: sudah tergantikan dengan generasi nunduk. Alias, anak-anak yang lebih suka bermain game handphone, sembari mabar di gang-gang atau tongkrongan.

***

Pertanyaan dari majalah Panggilan Adzan membuat saya kepikiran. Maka, saya putuskan sebelum membacanya untuk bereksperimen terlebih dahulu: dengan berjalan menyusuri gang-gang, barangkali masih menemukan bocah yang lihai memainkan beberapa permainan tradisional.

Di Cipete, saya mulai melewati gang-gang. Disambut segerombolan bocah SD yang asyik bermain bola, “Woy gua duluan anj*ng bangs*t!!!” iya saya tak salah dengar. Umpatan yang terlontar berulang kali. Sesekali suportif, sesekali ribut.

Di samping mereka bermain, terlihat pula sekelompok anak SMP yang saling menunduk bermain game handphone dengan sautan lontaran serupa, “Maju terus anj*ng abisin!”

Kedengarannya renyah bagi dua security yang sedang berjaga kawasan, “Renyah banget, ngomong binatang kaya nggak punya dosa,” ujarnya bersamaan sembari geleng-geleng kepala dan ngelus dada.

Saya tak menggugat, sebab sepakat dan menganggukan kepala tanpa berbicara. Sontak mendengar; dahi mengernyit, hati miris. Sedikit bergumam dalam hati, sebegitunyakah pergaulan bocah zaman sekarang? Tanpa pengawasan sedikit, lidah mencabik.

Permainan Tradisional yang Tergiling Zaman

Bereksperimen singkat, cukup memberikan gambaran baru untuk saya, khususnya mengenai permainan dan bahasa. Membuat saya tak ingin berlama-lama. Hanya ingin cepat pulang membaca majalah Panggilan Adzan dan bernostalgia.

Majalah Panggilan Adzan bercerita: “Minggu sore, permainan sekelompok anak di pinggirian barat daya kota Jakarta itu rupanya menarik perhatian… Suara tambah meriah ketika ada salah seorang yang terjamah oleh anak yang membentangkan tangannya itu. Suara jerit dan teriakan gembira antara pemain dan penonton berbaur menjadi satu.”

Saya merasakan! Asyiknya memainkan Gobag Sodor di tanah lapang. Sampai lupa waktu! Permainan itu baru berhenti saat menjelang adzan maghrib, ketika lantunan ayat-ayat Al-Qur’an mulai menggema.

Saat majalah Panggilan Adzan bertanya: Kemana perginya Gobag Sodor itu? Adalah bohong jika saya tak ikut mencarinya. Mengingat, betapa gembiranya dahulu memainkan permainan yang tak mengeluarkan biaya sepeser pun itu. Dulu amat populer, kini mungkin sudah tak ditemukan lagi. Sebutan gobag sodor pun agaknya semakin asing di telinga bocah kekinian.

Majalah Panggilan Adzan juga membaca zaman: “Banyak permainan yang dulu sangat populer di kalangan anak-anak kecil sampai umur belasan, tapi tidak banyak dikenal oleh generasi anak sekarang. Permainan-permainan itu ada yang sekedar hiburan, tapi tak sedikit yang mengandung unsur pendidikan dan kreativitas, atau simbol-simbol yang menggambarkan tata tertib dalam kehidupan kita.”

Lagi-lagi saya tak menggugat, menerima dengan menganggukan kepala. Kalau diperhatikan, permainan tradisional tak lagi dilirik bukan hanya menyangkut kreativitas anak, tetapi juga erat berkaitan dengan pergeseran tata nilai dalam kehidupan masyarakat. Hentinya pengenalan, sampai kalah bersaing dengan produk baru yang lebih maju.

Di sisi serupa, Drs. Hardjana dalam majalah Panggilan Adzan ikut menyorot mengenai budaya instan “tinggal beli”, bentuk dari bergesernya kreativitas, misalnya dalam hal merekayasa atau membuat permainan.

“Dulu, untuk main sepak bola saja anak-anak harus membuat bolanya terlebih dahulu. Begitu pun layang-layang. Tapi kalau sekarang, bikin layang-layang saja anak tidak mampu, karena lebih mudah membelinya,” ujar Drs. Hardjana pada halaman 55.

Saya tak membantah, begitulah realitanya. Dahulu, mau buat layang-layang saja kudu mengumpulkan bahan satu per satu. Nyicil dari uang jajan. Kalau sudah lengkap, pergi ke rumah teman untuk rakit bersama. Makanya, ketika diterbangkan putus dan jadi bahan rebutan, nyeseknya ampun!

Arti Gobag Sodor

Majalah Panggilan Adzan mengajak saya untuk memahami arti kata ‘Gobag Sodor’. Ia paham betul, dahulu saya hanya rajin memainkannya, tapi tak pernah tau arti dan cerita dibalik kata-nya.

“Konon jenis permainan ini lahir pada zaman Daendeles, gubernur jenderal yang merintis jalan dari Anyer sampai Panarukan. Para serdadu asing itu kerap memainkan jenis permainan ‘go back through the door’. Lama-lama, di kalangan pribumi permainan itu dikenal dengan nama ‘gobag sodor’.”

Nah! Saya baru tahu. Sejauh memainkan, hanya tertuju pada kata “Yuk, main Gobag Sodor!” dimulai dengan hom pim pah (gambreng), belasan teman langsung mengambil posisi. Beberapa menempati garis pembatas lapangan bulu tangkis, beberapa di pinggir tanah lapang berdebu itu, dan permainan dimulai. Ah rindunya!

Saya bukan anak 90-an, tapi memainkan ragam permainan tradisional semacam gobag sodor, egrang, engklek, bekel, gundu, congklak… masih saya rasakan di masa 2000-an dan melekat hangat di ingatan hingga sekarang. Tanpa internet, tanpa perkataan-sautan kasar.

Nostalgia Permainan Kapal Inggris

Tentu saya ingat, salah satu permainan favorit yang tergolong kuno dari Aceh dan asyik saat diajak memainkannya di Jakarta. Bernama ‘Kapai-Kapai Inggreh’ atau dalam bahasa Indonesia disebut ‘Kapal Inggris’.

Kali ini, majalah Panggilan Adzan mengajak saya untuk kembali memainkannya:

“Peu kapai nyo?

Kapai Inggreh

Pei ji peuding?

Ate tapeh”

Yap, permainan ini sama sekali tak menunjukkan perilaku kapal atau cara merebut kapal. Melainkan Kapai Inggreh diucapkan dalam adegan pokok permainan dan merupakan kunci yang menentukan para pemain berhasil atau tidak.

Dimainkan malam hari, permainan ini amat membutuhkan kecermatan pendengaran. 1 dari 6 anak wajib menebak seorang yang bersembunyi di dalam kain sarung. Penebak hanya boleh mengenali melalui ciri suara yang di dapat ketika mengajukan pertanyaan,

“Peu kapai nyo? (kapal apa ini?)” tanya penebak. “Kapal Inggris,” jawab anak di dalam sarung dengan suara agak dikecilkan agar tak dikenali.

“Apa muatannya?”, “Hati sabut kelapa”. Jika penebak bisa menyebut nama teman di dalam sarung, artinya dia menang. Pertanyaan dan jawaban itu tak boleh berubah, hanya tentang Kapal Inggris itu, dan pakai bahasa Aceh tentu.

Nostalgia! Bayangkan betapa khidmatnya dahulu bisa memainkan Kapal Inggris ini. Tanpa biaya, tanpa kata umpatan. Semua anak keasyikan dan cekikikan memainkan permainan yang dilatarbelakangi oleh sejarah penjajahan masa lalu itu.

Kembali Menyusuri Gang-Gang dan Kota Tua

Selepas bernostalgia dengan majalah Panggilan Adzan, saya kembali menyusuri gang-gang. Penuh harap, bisa melihat bocah memainkan permainan tradisional.

Masih di kawasan Cipete, terlihat bocah seusia 4-5 tahun memenuhi gang. Rapi berpakaian muslim, menggambar engklek di tengah jalan dengan kapur dan tertawa sembari melempar gacoan pilihannya.

Langkah saya terhenti, menikmati! Beberapa ikut bermain sembari membawa jajanan jamu cekek. Tak ada ponsel! Bocah yang lebih tua menggandeng dan mengajarkan yang lebih kecil. Mata ini melotot, hati bergetar. Nostalgia! Saya masih menemukannya…

Saat saya bertanya, rupanya mereka sedang menggunakan jam istirahat mengaji untuk bermain dan jajan. Hati berbisik, “Dulu saya ada di posisi ini!”

Asyik Membuat dan Bermain Balon Lempar

Beberapa pekan lalu, di Kota Tua, masih menyimpan jejak nostalgia di catatan perjalanan saya.

Tepat di pinggir Kali Besar, beberapa bocah tampak menggerombol. Dilirik, mereka sedang bergantian menunggu jajanan balon lempar. Dibuat langsung oleh Bapak penjual dengan aneka bentuk, tetapi dominan hanya berbentuk lurus saja bercover plastik.

Tak nampak ponsel di tangan mereka. Hanya ada balon dan tawa yang memenuhi waktu sorenya. Begitu asyik melempar balon panjang dan mengejarnya. Saya ikut menikmati dan berbahagia…

Sadar kamera, mereka menghampiri dan ngajak bermain. Lantas, saya bertanya, “Berapa harga balonnya?”, dengan wajah polosnya mereka menjawab, “Dua ribuan.”

Menjadi hari-hari paling berbahagia saya, bisa bertemu anak-anak yang keasyikan bermain bersama teman sebayanya tanpa ponsel di tangan, juga tak terdengar kata umpatan.

***

Berkat majalah Panggilan Adzan, saya bisa kembali menikmati waktu menyaksikan bocah bermain permainan tradisional.

Sebagian waktu lainnya, saya gunakan untuk ikut bermain-bernostalgia di lembaran-lembaran majalah lawas ini yang ramah menyediakan ragam permainan dan pengetahuan yang kian tak tersentuh zaman.

Terima kasih sudah mampir membaca ulasan dan perjalanan saya kali ini. Semoga bermanfaat. Salam sehat dan bahagia selalu untuk dirimu yang lagi membaca. 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *