Afghanistan, sebuah negara yang selama lebih dari dua dekade menjadi pusat konflik global, terus menghadapi tantangan besar dalam menjaga keamanan dan stabilitas nasional. Kekuatan militer Afghanistan, yang sebelumnya diperkuat oleh pasukan asing seperti NATO dan Amerika Serikat, kini sedang berjuang untuk membangun kemampuan sendiri setelah penarikan pasukan asing. Perkembangan ini memiliki dampak signifikan baik secara domestik maupun internasional.
Pada 2018, pemerintah AS mengumumkan rencana untuk menarik sekitar 7.000 tentara dari Afghanistan, yang merupakan separuh jumlah pasukan AS di sana. Keputusan ini dilakukan sebagai bagian dari strategi pengurangan perang yang diumumkan oleh Presiden Donald Trump. Meskipun tidak ada konfirmasi resmi dari Departemen Pertahanan AS, laporan media menyebutkan bahwa penarikan akan dilakukan dalam beberapa bulan mendatang. Hal ini memicu kekhawatiran tentang kemampuan militer Afghanistan dalam melawan Taliban, yang masih aktif melakukan serangan di berbagai wilayah.
Sebelum penarikan pasukan asing, militer Afghanistan didukung oleh bantuan dari NATO dan AS, termasuk pelatihan, logistik, dan operasi udara. Namun, setelah penarikan, pasukan lokal harus menghadapi ancaman dari kelompok militan seperti Taliban dengan sedikit dukungan eksternal. Situasi ini terlihat jelas ketika Taliban berhasil merebut kota Kunduz pada 2015, yang sempat direbut kembali oleh pasukan gabungan Afghanistan dan NATO. Meski berhasil mengembalikan kota tersebut, korban jiwa dalam pertempuran tetap tinggi, dan situasi keamanan tetap rentan.
Perkembangan kekuatan militer Afghanistan juga mencerminkan perubahan strategi politik dan militer negara-negara Barat. Setelah operasi militer AS di Afghanistan berakhir pada 2014, banyak pasukan AS tetap berada di sana untuk menjaga keamanan dan memberikan bantuan kepada pihak berwenang Afghanistan. Namun, rencana penarikan pasukan semakin menguat setelah Presiden Trump mengumumkan kebijakan “America First” yang menekankan pengurangan kehadiran militer di luar negeri.
Dampak dari penarikan pasukan AS tidak hanya terasa di tingkat militer, tetapi juga ekonomi dan sosial. Banyak penduduk di daerah-daerah yang sebelumnya aman kini menghadapi ancaman dari Taliban, yang semakin percaya diri dalam melakukan serangan. Selain itu, pengurangan pasukan asing juga memengaruhi sistem pelatihan dan pengelolaan angkatan bersenjata Afghanistan, yang masih bergantung pada bantuan eksternal.
Secara keseluruhan, kekuatan militer Afghanistan kini berada di ujung tanduk. Meskipun pasukan lokal telah menunjukkan kemampuan dalam bertempur, mereka masih membutuhkan dukungan yang lebih kuat untuk menjaga keamanan negara. Tantangan terbesar adalah bagaimana membangun kepercayaan diri dan kapasitas militer yang mandiri, tanpa tergantung pada pasukan asing. Perkembangan ini akan menjadi indikator penting bagi masa depan stabilitas Afghanistan dan hubungan internasional yang terkait.




