Di masa di mana hampir semua kegiatan bisa diubah menjadi konten, kebaikan juga tidak terlepas dari perhatian kamera. Kita melihat seseorang membagikan makanan kepada para pemulung, membantu ibu-ibu yang kesulitan mengangkat barang, hingga memberikan sedekah kepada anak yatim, semuanya direkam, diunggah, dan menyebar dengan cepat. Ribuan orang memberi like, membagikan, bahkan terinspirasi untuk melakukan hal yang sama.
Namun di balik popularitas tindakan baik, muncul sebuah pertanyaan penting. Apakah kebaikan tetap murni ketika menjadi tontonan?
Bukanlah pertanyaan untuk menilai orang lain. Pertanyaan ini justru mengarah kembali pada diri kita sendiri, apa sebenarnya maksud dan tujuan kita?
Antara Amal Saleh dan “Validasi” Masyarakat
Islam mengajarkan bahwa perbuatan baik yang paling utama adalah perbuatan yang paling tulus. Dalam berbagai ayat dan hadis, kita diingatkan bahwa Allah menilai hati dan niat, bukan hanya penampilan luar.
Di dunia digital, godaan untuk mencari pengakuan, like, tayangan, dan pengikut sering muncul tanpa kita sadari. Pada awalnya, niat kita mungkin tulus ingin memberi semangat. Namun lama-kelamaan, rasa bahagia saat video mendapat banyak pujian bisa membuat kita melupakan tujuan awal.
Bukan berarti semua bentuk kebaikan itu salah. Banyak orang benar-benar terinspirasi untuk beramal atau membantu sesama setelah menonton video yang memotivasi. Yang dipertanyakan bukan hasilnya, melainkan apa yang tersimpan di dalam hati.
Apakah pernah terjadi ketika kita merasakan keinginan yang berbeda saat kamera menyala?
Perilaku kita, senyuman, atau tindakan membantu orang lain bisa berubah secara mendadak. Kita menjadi versi yang “lebih baik” karena menyadari sedang diawasi.
Dalam tradisi Islam, terdapat nilai mulia mengenai melakukan kebaikan secara sembunyi-sembunyi. Nabi menyebutkan salah satu kelompok yang akan diberi naungan oleh Allah pada hari kiamat adalah mereka yang “membagikan sedekah dengan tangan kanan, sehingga tangan kiri tidak mengetahui apa yang dilakukan tangan kanan.”
Makna hadis ini tidak hanya berkaitan dengan amal, tetapi juga mengenai menjaga kejujuran dalam niat melakukan hal baik tanpa mengharapkan pujian.
Bisa Saja Membuat Konten Positif Tapi…
Waktu telah berubah. Media sosial kini menjadi tempat untuk berdakwah dan memberikan inspirasi. Banyak orang mendapatkan manfaat, pengetahuan, serta dorongan dari konten yang memiliki dampak positif. Oleh karena itu, tidak adil jika kita melarang seluruh konten yang baik.
Apa yang harus kita pertahankan adalah kejujuran terhadap diri sendiri.
Sebelum mengklik tombol “unggah”, kita bertanya
Apakah ini bertujuan untuk menginspirasi atau hanya sekadar mencari perhatian?
Apakah orang yang kita rekam menyetujui atau justru merasa tidak nyaman?
Apakah saya tetap akan memberikan bantuan ini meskipun tidak menggunakan kamera?
Jika jawaban tersebut memberikan ketenangan pada hati, lakukan saja. Jika masih ada perasaan tidak nyaman, mungkin kita perlu mengulang pertimbangan kembali.
Kebaikan yang Tidak Terlihat Tetap Diingat
Pada akhirnya, nilai kebaikan yang paling berarti adalah ketika dilakukan tanpa adanya pujian. Allah memperhatikan hal-hal yang tidak terlihat oleh manusia.
Kebaikan kecil yang tidak terlihat oleh kamera, tidak dipublikasikan, dan tidak mendapatkan dukungan melalui likes bisa menjadi amal yang besar di sisi-Nya. Di dunia digital, kita mungkin tidak diingat. Namun di hadapan Allah, tidak ada kebaikan yang sia-sia.
Penutup
Kita dan Keheningan Niat
Sosial media hanyalah alat. Ia mampu menjadi jalan untuk kebaikan, atau jadi jalur yang tersembunyi dari kesombongan. Segalanya kembali pada hati yang menggerakkan tangan kita saat mengklik “rekam” dan “unggah.”
Di tengah dunia yang penuh dengan tampilan, mungkin kebaikan terbersih justru muncul dari tempat yang sunyi, di mana hanya kita dan Tuhan yang mengetahuinya.
Semoga setiap tindakan kita, baik yang terlihat maupun yang sembunyi, senantiasa berada di bawah bimbingan serta kecintaan-Nya.
