Isi Artikel
- 1 Penyebab Banjir di Bandung Selatan yang Tidak Hanya Akibat Curah Hujan
- 2 Penurunan Muka Tanah yang Signifikan
- 3 Eksploitasi Air Tanah sebagai Faktor Dominan
- 4 Kolam Retensi Belum Mampu Menjawab Masalah Penurunan Tanah
- 5 Penurunan Tanah Bisa Jadi Faktor Dominan Banjir
- 6 Pengendalian Air Tanah Jadi Kunci Antisipasi Banjir di Bandung Selatan
Penyebab Banjir di Bandung Selatan yang Tidak Hanya Akibat Curah Hujan
Banjir yang kembali melanda wilayah Bandung Selatan, Jawa Barat, terutama di Kecamatan Dayeuhkolot, Bojongsoang, dan sekitarnya, tidak hanya disebabkan oleh tingginya curah hujan. Sebaliknya, penurunan muka tanah yang berlangsung selama bertahun-tahun menjadi faktor utama yang memperparah banjir dan menyulitkan genangan air untuk surut.
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat mengidentifikasi penurunan permukaan tanah sebagai salah satu penyebab utama banjir tahunan di wilayah tersebut. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menjelaskan bahwa kondisi ini membuat sejumlah wilayah kini berada lebih rendah daripada permukaan air. Akibatnya, luapan sungai semakin sulit dikendalikan meski curah hujan tidak terlalu ekstrem.
“Bandung ini permukaannya sudah sangat di bawah laut. Itulah kenapa air selalu naik setiap musim hujan,” ujar Dedi saat ditemui di Kantor Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, Rabu (10/12/2025).
Penurunan Muka Tanah yang Signifikan
Peneliti dari Jurusan Geodesi Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Institut Teknologi Bandung (ITB), Dr Ir Heri Andreas ST MT, menjelaskan bahwa wilayah Bandung Selatan mengalami penurunan muka tanah yang cukup signifikan. Pada fase awal, laju penurunan tanah bisa mencapai 8 hingga 10 sentimeter per tahun.
“Kalau penurunan ini terjadi terus-menerus selama bertahun-tahun, maka akan terakumulasi dan membentuk cekungan atau subsidence. Secara alami, air akan mengalir ke tempat yang lebih rendah. Akibatnya, wilayah tersebut berubah menjadi cekungan banjir,” ujar Heri, dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Selasa (16/12/2025).
Kondisi itu menyebabkan kawasan Dayeuhkolot dan Bojongsoang kini menyerupai mangkuk raksasa. Air dari berbagai arah, termasuk limpasan sungai dan air hujan, akan berkumpul di wilayah tersebut.
“Itulah sebabnya, ketika banjir terjadi, air sangat sulit cepat kering. Airnya sudah terlanjur terkumpul di satu cekungan besar,” kata Heri.
Eksploitasi Air Tanah sebagai Faktor Dominan
Menurut Heri, penurunan muka tanah di Bandung Selatan pada awalnya dipicu oleh aktivitas industri yang berkembang cukup masif. Industri-industri tersebut banyak memanfaatkan air tanah dalam jumlah besar, sehingga tekanan terhadap lapisan tanah meningkat.
Seiring waktu, pertumbuhan penduduk dan pesatnya pembangunan permukiman memperparah kondisi tersebut. Masalah pasokan air perpipaan membuat warga ikut bergantung pada air tanah untuk kebutuhan sehari-hari.
“Awalnya dari industri, lalu jumlah penduduk bertambah. Ketika suplai air perpipaan bermasalah, masyarakat juga mengambil air tanah. Jadinya eksploitasi air tanah ini berlangsung secara masif, bisa dibilang ‘berjamaah’. Dampaknya, tanah makin turun,” ujar Heri.
Ia menegaskan bahwa eksploitasi air tanah merupakan faktor paling dominan dibandingkan beban bangunan atau infrastruktur. Beban bangunan memang memberi kontribusi, tetapi relatif kecil.
“Beban bangunan mungkin hanya 1 sampai 2 sentimeter. Sementara penurunan tanah bisa mencapai 10 sentimeter per tahun. Jadi jelas, faktor utama tetap pengambilan air tanah,” katanya.
Kolam Retensi Belum Mampu Menjawab Masalah Penurunan Tanah
Pemerintah pusat dan daerah sejauh ini telah membangun sejumlah kolam retensi di beberapa titik rawan banjir, seperti di kawasan Andir. Namun, Heri menilai solusi tersebut belum memadai jika tidak diiringi dengan pengendalian penurunan tanah.
“Kolam retensi memang menambah daya tampung air, tetapi kapasitasnya masih terlalu kecil dibandingkan volume air hujan, apalagi jika hujan deras berlangsung berhari-hari,” ujarnya.
Menurut Heri, kolam retensi relatif efektif untuk hujan dengan intensitas rendah hingga sedang. Namun, dalam kondisi hujan ekstrem seperti yang terjadi belakangan ini, kolam retensi tetap akan meluap.
“Di Bandung, idealnya kolam retensi itu harus sangat besar atau dibuat banyak kolam kecil di berbagai lokasi. Kalau tidak, air yang masuk tetap jauh lebih besar daripada kapasitas tampungannya,” kata Heri.
Penurunan Tanah Bisa Jadi Faktor Dominan Banjir
Meski belum ada pemodelan detail khusus untuk Bandung, Heri menyebut penurunan muka tanah sangat mungkin menjadi faktor dominan penyebab banjir tahunan. Ia merujuk pada pengalaman Jakarta, di mana penurunan tanah terbukti memperluas wilayah banjir secara signifikan.
“Di Jakarta, kontribusi penurunan tanah terhadap perluasan banjir bisa mencapai 50 persen, bahkan dalam kondisi tertentu hingga 100 persen. Jadi di Bandung pun, penurunan tanah sangat mungkin berperan besar,” ujarnya.
Heri menilai Bandung dan Jakarta memiliki kemiripan karakter, terutama dalam hal terbentuknya cekungan-cekungan subsiden. Air akhirnya terus berkumpul di titik-titik tersebut dan menyebabkan banjir berulang.
“Pola itu sekarang terlihat jelas di Bandung, khususnya di wilayah selatan yang mengalami penurunan tanah cukup parah,” katanya.
Pengendalian Air Tanah Jadi Kunci Antisipasi Banjir di Bandung Selatan
Heri menekankan, upaya paling mendesak untuk menekan risiko banjir berulang adalah pengendalian pengambilan air tanah, baik oleh industri maupun masyarakat. Selain itu, pembenahan manajemen air perpipaan juga menjadi kunci.
“Kalau suplai air perpipaan baik, ketergantungan terhadap air tanah bisa dikurangi. Masalahnya, saat ini PDAM pun masih mengambil air tanah untuk distribusi. Ini menambah tekanan terhadap lapisan tanah,” ujar Heri.
Ia menilai kebijakan penghentian atau pengetatan izin pembangunan perumahan saja tidak cukup jika tidak dibarengi pengelolaan air tanah yang serius.
“Kalau pengambilan air tanah tidak dikendalikan, penurunan tanah akan terus terjadi. Dan selama itu pula, banjir di Bandung Selatan akan sulit diatasi secara tuntas,” kata Heri.






