Isi Artikel
.CO.ID, JAKARTA — Sepanjang 2025, pasar modal Indonesia menorehkan capaian historis di tengah tekanan geopolitik global, perlambatan ekonomi dunia, serta dinamika domestik yang menantang. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi menutup perdagangan akhir tahun di level 8.644,26, menguat 22,10 persen secara tahunan. Penguatan tersebut sekaligus mendorong kapitalisasi pasar mencetak rekor tertinggi hingga menembus Rp16.000 triliun.
Penutupan perdagangan Bursa Tahun 2025 dilakukan pada Selasa (30/12/2025) oleh Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Inarno Djajadi. OJK menilai kinerja pasar modal Indonesia tetap solid meski dihadapkan pada tekanan global dan domestik sepanjang tahun.
“Pasar Modal Indonesia menunjukkan resiliensi dan daya saing yang semakin menguat. Berbagai tantangan telah menguji ketangguhan dan ketahanan kita dalam mendorong pertumbuhan pasar modal yang berkelanjutan dan memperkokoh pondasi Pasar Modal Indonesia ke depan,” kata Inarno.
Rekor Sepanjang Tahun
Sepanjang 2025, IHSG mencatat rekor all time high sebanyak 24 kali. Capaian ini sejalan dengan penguatan kapitalisasi pasar yang beberapa kali menyentuh level tertinggi sepanjang sejarah. Aktivitas perdagangan juga menunjukkan peningkatan signifikan, dengan rata-rata nilai transaksi harian mencapai Rp18,06 triliun, volume transaksi harian 30,27 miliar saham, serta frekuensi transaksi sekitar 1,78 juta kali per hari.
Direktur Utama Bursa Efek Indonesia, Iman Rachman, menyebut 2025 sebagai periode pembuktian ketahanan pasar modal nasional.
“Tahun 2025 menjadi tahun pembuktian ketahanan dan kesiapan pasar modal Indonesia, meskipun di tengah tekanan domestik dan global yang tinggi, pasar mampu menjaga stabilitas, bangkit kembali, dan menorehkan capaian kinerja yang solid,” ujar Iman.
Namun, perjalanan IHSG sepanjang tahun tidak sepenuhnya mulus. Pada paruh pertama 2025, pasar sempat mengalami tekanan cukup dalam. IHSG bahkan menyentuh level terendah di 5.996 akibat dinamika geopolitik global, pelemahan nilai tukar, serta kebijakan tarif dagang Amerika Serikat.
“Pada paruh pertama tahun 2025, pergerakan indeks mengalami tekanan cukup dalam hingga mencapai level terendah di 5.996,” kata Iman.
Memasuki paruh kedua 2025, penguatan investor domestik dan respons kebijakan regulator mendorong pemulihan signifikan, hingga IHSG kembali mencetak rekor demi rekor.
Investor Domestik Jadi Penopang
Salah satu faktor utama penguatan pasar modal sepanjang 2025 adalah lonjakan basis investor domestik. Deputi Komisioner Pengawas Pengelolaan Investasi Pasar Modal dan Lembaga Efek OJK, Edi Manindo Harahap, mencatat jumlah Single Investor Identification (SID) meningkat signifikan.
“Jumlah Single Investor Identification per 23 Desember 2025 bertambah 5,34 juta menjadi 20,2 juta SID,” ujar Edi.
Secara total, jumlah investor pasar modal meningkat 36,67 persen dibandingkan tahun sebelumnya menjadi sekitar 20,3 juta investor. Dari jumlah tersebut, investor saham dan surat berharga lainnya bertambah lebih dari 2,2 juta menjadi 8,59 juta investor saham. Rata-rata investor aktif bertransaksi mencapai lebih dari 901 ribu per bulan, dengan lebih dari 250 ribu investor aktif harian.
Dominasi investor ritel, khususnya generasi muda, semakin kuat. Lebih dari 79 persen investor individu tercatat berusia di bawah 40 tahun, memperkuat peran investor domestik sebagai penopang stabilitas pasar.
Lonjakan basis investor tersebut tercermin langsung pada aktivitas perdagangan. Rata-rata nilai transaksi harian saham sepanjang 2025 naik 40,54 persen menjadi Rp18,06 triliun, jauh di atas capaian 2024 sebesar Rp12,85 triliun.
“Rata-rata nilai transaksi harian saham sepanjang 2025 meningkat 40,54 persen menjadi Rp18,06 triliun,” kata Edi.
Penghimpunan Dana dan Integritas Pasar
Dari sisi penghimpunan dana, pasar modal Indonesia mencatat realisasi Rp268,14 triliun sepanjang 2025 dari 210 penawaran umum. Untuk IPO saham, BEI membukukan 26 emiten baru dengan dana dihimpun Rp18,1 triliun, enam di antaranya merupakan lighthouse IPO. Meski jumlah IPO menurun dibandingkan tahun sebelumnya, nilai penghimpunan dana saham justru meningkat 26,6 persen secara tahunan. Total perusahaan tercatat di BEI pun mencapai 956 emiten.
Di sisi lain, penguatan pasar juga diiringi dengan pengetatan pengawasan. Sepanjang 2025, OJK melakukan 219 pemeriksaan teknis dan 155 pemeriksaan khusus, serta menjatuhkan sanksi administratif dengan total denda Rp123,3 miliar.
“Secara umum, kinerja pasar modal Indonesia menunjukkan capaian yang cukup menggembirakan menjelang penutupan tahun 2025,” ujar Edi.
Dari sisi infrastruktur, sistem kliring dan penyelesaian transaksi tetap terjaga di tengah lonjakan aktivitas. Direktur Utama Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), Iding Pardi, menyampaikan nilai penyelesaian transaksi mencapai sekitar Rp5 triliun per hari dengan efisiensi settlement mendekati 70 persen.
Menuju 2026
Penguatan investor domestik dan tingginya aktivitas transaksi menempatkan Indonesia sebagai bursa dengan kapitalisasi pasar terbesar di ASEAN dan masuk 20 besar dunia, dengan nilai transaksi harian sekitar 1 miliar dolar AS atau masuk kategori one billion stock exchange.
Menatap 2026, OJK dan BEI menegaskan fokus pada pendalaman pasar, penguatan integritas, serta peningkatan jumlah investor baru guna menjaga momentum pertumbuhan pasar modal nasional. Tahun 2025 pun dicatat sebagai fase penting dalam perjalanan IHSG—tahun ujian sekaligus tahun pembuktian ketahanan pasar modal Indonesia di tengah ketidakpastian global.







