, SEMARANG – Ada banyak peristiwa menarik yang terjadi di Provinsi Jawa Tengah sepanjang tahun 2025.
Kabar tentang bencana, terutama banjir dan longsor, menjadi warna yang sangat kuat pada 2025.
Di luar itu, ada sejumlah peristiwa dengan pelbagai rasa, baik menyedihkan maupun menggembirakan.
Banjir besar di sejumlah daerah, menjadi kabar pembuka tahun yang kurang menggembirakan bagi warga Jawa Tengah.
Pada 20 Januari, Sungai Tuntang meluap.
Tanggul Sungai Tuntang di Dusun Mintreng, Desa Baturagung, Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan, jebol.
Selain melumpuhkan jalur Semarang-Grobogan, banjir menggogos penopang rel KA antara Stasiun Gubung-Karangjati.
Akibatnya rel yang merupakan jalur utama KA Jakarta-Surabaya itu pun lumpuh selama beberapa hari.
Hanya sempat pulih sebentar, pada 9 Maret, tanggul kembali jebol.
Jalur KA pun lumpuh lagi.
Banjir pada awal tahun juga menggenangi sejumlah wilayah di Grobogan.
Tak kurang dari 28 desa di sembilan kecamatan terdampak.
Banjir saat itu juga merendam kantor Bupati Grobogan di kawasan Alun-Alun Purwodadi.
Selain di Purwodadi, banjir juga melanda Kota Semarang, Kabupaten Demak, dan sejumlah daerah lain di Jawa Tengah.
Di Kota Semarang, seperti biasa, banjir pada awal Januari merendam Jalan Raya Kaligawe dan melumpuhkan jalur utama pantura tersebut.
Kepala daerah baru
Kehadiran banjir pada awal tahun seperti menjadi sambutan bagi para kepala daerah baru di Jawa Tengah.
Banjir terjadi tepat sebulan, sebelum Gubernur-Wakil Gubernur Jawa Tengah, Akhmad Luthfi-Taj Yasin Maimoen, dilantik.
Para kepala daerah hasil Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak 2024 tersebut dilantik, pada 20 Februari.
Walhasil, para kepala daerah yang baru dilantik, termasuk Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, dan Bupati Grobogan, Setyo Hardi, pun harus langsung bekerja keras untuk mengatasi banjir.
Selain banjir, Provinsi Jawa Tengah juga memiliki banyak potensi bencana, mulai dari longsor, gunung meletus, hingga gempa bumi.
Bahkan, Luthfi dalam debat perdana Pilkada Jateng 2024, menyatakan bahwa Jawa Tengah dikenal sebagai “supermarket bencana” karena banyaknya bencana di provinsi itu.
Jika banjir menjadi salam pembuka, longsor bisa dibilang menjadi salam penutup.
Pada 13 November, longsor menerjang Desa Cibeunying, Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap, menewaskan 21 orang dan 2 orang hilang.
Enam hari kemudian, pada 19 November, longsor terjadi Desa/Kecamatan Pandanarum, Kabupaten Banjarnegara, menewaskan 17 orang dan 11 orang hilang.
Fenomena Pati
Selain bencana, ada satu peristiwa yang menonjol di Jawa Tengah: demo besar-besaran di Pati.
Demo berawal dari kebijakan Bupati Pati, Sudewo, yang menaikkan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) sebesar 250 persen.
Aksi demo itu kemudian berkembang menjadi tuntutan pelengseran Sudewo dari kursi bupati Pati.
Demo besar-besaran di Pati kemudian menjadi “inspirasi” atas peristiwa serupa di daerah lain, bukan hanya di level Jawa Tengah, melainkan berkembang hingga level nasional.
Meski tidak berkait secara langsung, demo besar-besaran di banyak daerah—dan sayangnya, melebar pada tindakan anarkistis berupa pembakaran sejumlah gedung DPRD dan fasilitas publik—terinspirasi dari demo Pati.
Pascademo, tuntutan pelengseran Sudewo terus melaju hingga pembentukan Pansus Hak Angket di DPRD Kabupaten Pati.
Pada saat yang sama, demo untuk mengawal Pansus tersebut terus berjalan.
Keputusan pansus yang berakhir tanpa pemakzulan Sudewo, pada 30 Oktober, memicu kekecewaan dan berujung pada pemblokiran Jalan Pantura Pati.
Hal itu membuat dua pentolan Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB), Supriyono alias Botok dan Teguh Istiyanto, yang getol menuntut pemakzulan Sudewo, ditetapkan sebagai tersangka.
Pada 24 Desember, keduanya menjalani sidang perdana di Pengadilan Negeri (PN) Pati.
Vonis penembak siswa
Peristiwa lain yang menjadi sorotan nasional, yakni penembakan siswa SMKN 4 Semarang oleh Aipda Robig Zaenuddin, anggota Polrestabes Semarang.
Pada 8 Agustus, Aipda Robig divonis 15 tahun penjara dan denda Rp 200 juta.
Sembilan bulan sebelumnya, pada 24 November 2024, Aipda Robig menembak tiga siswa SMK, salah satu di antaranya, Gamma Rizkynata Oktafandy, tewas.
Di luar itu, masih banyak peristiwa menarik di Jawa Tengah.
Pada 27 Agustus, mantan Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu, dan suaminya, Alwin Basri, divonis dalam kasus korupsi.
Ita, sapaan akrab Hevearita, divonis 5 tahun penjara, sedangkan Alwin 7 tahun penjara.
Pada 2025, terdapat sejumlah tokoh di Jawa Tengah yang meninggal dunia.
Dalang kondang, Ki Anom Suroto, meninggal dunia, pada 23 Oktober.
Tepat sepuluh hari kemudian, pada 2 November, Raja Keraton Solo, Paku Buwono (PB) XIII mangkat.
Hingga kalender berganti, peristiwa itu berbuntut pada “Geger Suksesi Jilid 2”, yang berlarut-larut.
Di antara peristiwa orang meninggal, kasus yang menimpa mahasiswa Fakultas Hukum (FH) Universitas Negeri Semarang, Iko Juliant Junior, boleh dibilang yang paling menyita perhatian.
Iko mengembuskan napas terakhir di RSUP Dr Kariadi, pada 31 Agustus.
Iko bukan tokoh penting, tetapi kematian dan kejanggalan-kejanggalan yang menyertainya berkali-kali menjadi berita utama di media massa, baik lokal maupun nasional.
Versi polisi, Iko meninggal karena kecelakaan, sedangkan versi PBH IKA FH Unnes, ada banyak kejanggalan berkait dengan kematian korban, terutama berhubungan dengan aktivitas Iko dalam unjuk rasa.
Pada 2025 juga terjadi cukup banyak peristiwa kecelakaan yang berujung kematian.
Peristiwa pertama yang paling menyedot perhatian, kecelakaan di Jalan Raya Purworejo-Magelang, Desa Kalijambe, Kecamatan Bener, Purworejo, pada 7 Mei.
Saat itu, truk bermuatan pasir mengalami rem blong dan menyeruduk angkutan kota (angkot) berisi rombongan guru.
Sebelas penumpang meninggal dunia.
Berikutnya, pada Desember, bus Cahaya Trans Jakarta-Yogyakarta mengalami kecelakaan tunggal di Simpang Susun Krapyak, Tol Dalam Kota Semarang.
Kecelakaan yang terjadi tepat pada Hari Ibu, 22 Desember, itu 16 orang meninggal dunia.
Kini saatnya menyobek lembaran kalender 2025.
Saatnya menatap 2026 dengan penuh optimisme.
Tentu saja, kita patut berharap, tahun 2026 akan lebih menghadirkan kabar-kabar yang—mudah-mudahan—lebih menggembirakan. (Achiar M Permana)







