Jennifer Aniston, yang dikenal sebagai salah satu bintang terkenal di dunia hiburan, baru-baru ini memberikan wawancara yang menarik mengenai masa lalu yang penuh kontroversi. Dalam wawancara dengan Vanity Fair, ia secara singkat menyentuh periode setelah perceraian dengan aktor Brad Pitt, yang kala itu hubungannya dengan rekan sefilmnya, Angelina Jolie, menjadi sorotan media.
Aniston menyebut masa tersebut sebagai “tahun-tahun cinta segitiga” dan mengakui bagaimana ia berusaha melewati situasi tersebut. “Hanya ambil dirimu sendiri dengan tali sepatumu dan terus berjalan, gadis,” katanya, menyederhanakan strategi penghadapannya dalam satu kalimat tanpa basa-basi.
Ia juga mengingat betapa hebohnya peristiwa itu bagi publik. “Itu adalah bacaan yang sangat menarik bagi orang-orang. Jika mereka tidak punya serial drama, mereka memiliki koran tabloid,” ujarnya. “Ini adalah malu bahwa hal itu harus terjadi, tapi itu terjadi. Dan ya, aku benar-benar merasa pribadi.”
Aniston mengingat kembali siklus media pada masa itu, yang menurutnya bisa membangun seseorang dan kemudian dengan cepat meruntuhkannya. “Mereka sedang membangun kita dan kemudian merobohkanmu… Oh Tuhan, apakah aku baru saja mengutip The Morning Show?” katanya tertawa. Tapi di balik lelucon itu, ia mengakui betapa dalamnya dampaknya baginya. “Aku tidak memiliki kekuatan cukup untuk tidak terpengaruh olehnya. Kita manusia, meskipun beberapa orang tidak ingin percaya kita adalah manusia. Mereka pikir, Kau telah menandatangani itu, jadi kau menerimanya. Tapi kita benar-benar tidak menandatangani itu.”
Ia juga membandingkan jurnalisme pada masa itu seperti olahraga kompetitif. “Tentu saja ada trauma PTSD yang kita semua miliki, itulah sebabnya ini menakutkan… Bagaimana mereka akan menginterpretasikan kata-kataku atau mengambil sesuatu keluar dari konteks? Dan satu kalimat sekarang…” ia menghentikan ucapan, menyiratkan bahwa komentar publik saat ini masih berisiko ditafsirkan secara salah.
Dengan berbicara secara jujur—meski hanya singkat—Aniston mengakui baik beban pribadi maupun budaya media yang mendorong narasi “cinta segitiga” tersebut. Meskipun ia tidak menggali lebih dalam tentang masa lalu, kata-katanya jelas menunjukkan bahwa pengalaman itu meninggalkan kesan mendalam.







