Isi Artikel
Pameran Lukisan “Jejak Waktu” di Beri Kopi
Pameran lukisan bertajuk “Waktu Sebagai Memori, Momentum, dan Proses” digelar di Beri Kopi, Jalan Raya Samarang No.38, Langensari, Kecamatan Tarogong Kaler, Kabupaten Garut, Jawa Barat dari 15 Desember 2025 hingga 1 Januari 2026. Pameran ini menampilkan karya-karya seniman yang berusaha menangkap esensi waktu dalam berbagai bentuk dan dimensi.
Menurut Dado Bima Sena, seorang perupa yang telah malang melintang di Kabupaten Garut hingga ke tingkat nasional, waktu merupakan sebuah entitas yang tak tampak, namun efeknya membekas di setiap jengkal kehidupan. Ia bergerak tanpa kita bisa tahan, namun dalam seni lukis, waktu menemukan cara untuk membeku. Pameran “Jejak Waktu” hadir untuk merayakan paradoks ini, dengan lukisan-lukisan yang berusaha menangkap esensi waktu dalam berbagai bentuk dan dimensi.
Pameran ini bukan hanya tentang jam atau tanggal yang tercatat dalam kalender. “Jejak Waktu” adalah sebuah antologi visual, pertemuan antara para perupa dengan latar belakang beragam, dari yang akademis hingga otodidak, dari realis hingga abstrak, dan dari generasi X, Y, Z (Baby Boomers). Perbedaan latar belakang ini tidak disembunyikan, melainkan dirayakan sebagai spektrum yang memperkaya cara kita memahami dan merasakan waktu itu sendiri.
Paradoks Waktu dan Gambar, Memori yang Terjebak dalam Bingkai
Waktu bergerak cepat. Namun kata Dado, dalam karya seni lukis, ia dipaksa untuk berhenti, dibekukan dalam satu bingkai. Di “Jejak Waktu”, para seniman mengundang kita untuk menyelami dimensi visual waktu melalui tiga pendekatan utama: sebagai memori, momentum, dan proses.
Waktu sebagai Memori (Masa Lalu)
Dado berpendapat, sebagian karya dalam pameran ini bertindak sebagai arsip ingatan. Mereka tidak sekadar menggambarkan peristiwa, tetapi juga perasaan yang tertinggal. Sapuan warna yang pudar, tone sepia, serta objek-objek nostalgik menghadirkan kenangan yang menyentuh, seakan mengajak kita kembali ke masa lalu.
Dado menggambarkan, lukisan-lukisan ini mengingatkan kita bahwa ingatan sering kali lebih tajam daripada kenyataan itu sendiri. “Lukisan ini adalah cara saya untuk menyelamatkan sesuatu yang bisa terlupakan,” ungkap sperupa yang sering mengikuti pameran baik di tingkat lokal maupun nasional ini.
Lukisan tentang masa lalu bukan hanya mengabadikan kejadian, tetapi juga jejak emosional yang mengikutinya, sesuatu yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata.
Waktu sebagai Momentum (Masa Kini)
Waktu, di sisi lain, juga adalah tentang momen-momen yang hanya terjadi sekali. Dalam karya-karya ini, para seniman menangkap detik yang krusial, saat-saat yang cepat berlalu namun begitu berarti. Goresan kuas yang dinamis dan ekspresif, serta permainan cahaya yang intens, menekankan bahwa momen ini adalah bagian dari kefanaan.
Dado juga menyebutkan, mereka mengajak kita untuk berhenti sejenak, untuk melihat sesuatu yang akan segera hilang, dan menemukan keindahan dalam ketidakkekalan. Ada pula karya yang menampilkan wajah-wajah yang sedang tersenyum atau burung yang tengah terbang, dengan setiap garis yang menggambarkan perjalanan hidup yang singkat.
“Inilah perayaan akan transiensi, yang mengingatkan kita untuk menghargai apa yang ada di depan mata, meski itu akan cepat berlalu,” cetus Dado.
Waktu sebagai Proses (Durasi)
Namun Dado menegaskan, waktu tidak hanya dilihat dari apa yang terekam, tetapi juga dari bagaimana karya itu tercipta. Di sini, kita melihat waktu sebagai proses, sebagai jejak fisik dalam lukisan itu sendiri. Penumpukan lapisan cat, keretakan tekstur, hingga proses pengerjaan yang berlangsung berbulan-bulan menjadi bukti nyata dari dedikasi seorang perupa.
Lukisan adalah rekaman dari tubuh perupa yang bergerak dalam rentang waktu, sebuah performa visual dari perjalanan panjang yang kadang tak tampak. “Bahkan bagi mereka yang tidak terbiasa mengamati seni lukis, kadang sulit untuk membayangkan betapa banyak waktu yang diperlukan untuk mencapai hasil yang memukau,” ujar Dado Bima.
Waktu Lambat di Tengah Era Kecepatan
Dado mengatakan, di tengah dunia yang serba cepat ini, di mana segala sesuatu bisa didapatkan dalam hitungan detik melalui scroll culture di media sosial, lukisan memberikan kita ruang untuk merasakan waktu lambat (slow time). Ini adalah ajakan untuk berhenti sejenak, merenung, dan menghargai proses. Lukisan mengingatkan kita bahwa meskipun dunia terus berputar, ada cara untuk menangkap momen yang tak bisa didapatkan dengan cepat.
Melalui “Jejak Waktu”, mengundang para apresiator seni untuk melihat lukisan tidak hanya sebagai objek estetika, tetapi juga sebagai spiegel, sebuah cermin untuk merefleksikan perjalanan waktu kita sendiri. “Apa yang kita tinggalkan di dunia ini, apa yang akan kita ingat, dan bagaimana kita akan dikenang oleh generasi mendatang? Ini bukan sekadar pertanyaan, tetapi juga jejak yang kita bentuk, satu lapisan cat demi lapisan cat,” ujar Dado.
Refleksi Pameran dan Pembukaan oleh Bupati Garut ke 26
Lanjut dikatakan Dado, pameran ini tidak hanya menawarkan pengalaman visual, tetapi juga sebuah renungan mendalam bagi kita semua tentang bagaimana kita memahami waktu dalam hidup kita. Dengan 19 perupa yang berpartisipasi, “Jejak Waktu” membawa kita pada perjalanan multidimensi, merentang dari masa lalu, menghidupkan detik-detik sekarang, hingga merekam proses panjang yang tak tampak.
Pameran ini dibuka pada 15 Desember 2025, oleh Bupati Garut ke-26 Dr. (Hc) H. Rudy Gunawan, S.H., MH., M.P., yang menyambut baik acara ini sebagai bentuk dukungan terhadap perkembangan seni di Garut. Dalam sambutannya, Rudy menekankan bahwa pameran ini adalah refleksi dari kemampuan masyarakat Garut untuk berinovasi, terutama dalam bidang seni, yang menjadi sarana penting dalam memperkaya pemahaman budaya lokal.
Di sisi lain, Iqbal Sanova, pengelola Beri Kopi, tempat penyelenggaraan pameran ini, juga menyampaikan sambutannya dengan antusias. Ia berharap pameran ini bisa menjadi titik balik bagi perkembangan seni rupa di Garut, serta membuka dialog antara seniman dan publik yang lebih luas.
Ajak Bergabung dan Rasakan Jejak Waktu
Dado mengimbau, “Jejak Waktu” akan berlangsung hingga 1 Januari 2026 di Beri Kopi. Jangan lewatkan kesempatan untuk menyelami spektrum waktu melalui karya seni yang menggugah dan penuh makna. Pameran ini bukan hanya tentang melihat, tetapi juga tentang merasakan dan merenung.
“Tunggu apa lagi? Ayo datang dan biarkan waktu mengalir di atas kanvas! Selamat datang di Jejak Waktu. Di sini, kita tidak hanya melihat masa lalu, tetapi merasakan perjalanan waktu itu sendiri,” pungkas Dado.







