Jejak Karier Bos Antam Untung Budiharto dan Tim Mawar Kopassus

Pengangkatan Direktur Utama Antam dan Latar Belakang Untung Budiharto

Pada Senin, 15 Desember 2025, RAPAT Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT Aneka Tambang (Persero) Tbk. atau Antam mengangkat Untung Budiharto sebagai Direktur Utama perusahaan. Pengangkatan ini menandai perubahan penting dalam kepemimpinan perusahaan, yang sebelumnya dipimpin oleh Achmad Ardianto.

Direktur Pengembangan Usaha Antam, I Dewa Wirantaya, menyampaikan bahwa keputusan RUPSLB menunjukkan komitmen perseroan terhadap tata kelola perusahaan yang baik dan patuh terhadap regulasi terbaru. Dengan dukungan pemegang saham, pihak perusahaan memiliki landasan yang lebih solid untuk memastikan kesinambungan strategi dan kinerja perusahaan.

Bacaan Lainnya

Selain pengangkatan Untung Budiharto, RUPSLB juga memberhentikan Rauf Purana sebagai Komisaris Utama merangkap Komisaris Independen Antam terhitung sejak 28 Oktober 2025. Dewan Komisaris dan Direksi Antam mengucapkan terima kasih kepada Rauf Purnama dan Achmad Ardianto atas dedikasi mereka terhadap perseroan selama menjabat.

Profil Untung Budiharto

Dalam situs Transjakarta, Untung Budiharto tercatat sebagai Komisaris Utama PT Transportasi Jakarta sejak 8 Juni 2025. Lahir di Tegal, Jawa Tengah, pada 26 April 1965, Untung adalah eks anggota Tentara Nasional Indonesia. Dia lulus dari Akademi Militer, Magelang, Jawa Tengah, pada 1988, kemudian masuk ke satuan infanteri Komando Pasukan Khusus atau Kopassus.

Pada 1997-1998, Untung yang masih berpangkat kapten terdaftar sebagai salah satu dari sebelas anggota Tim Mawar Kopassus. Tim ini terlibat dalam penangkapan aktivis prodemokrasi yang dianggap tak sejalan dengan kepentingan Orde Baru.

Pada 2016-2017, karier Untung dan sejumlah eks anggota Tim Mawar melejit. Mereka dipromosikan mengemban jabatan Brigadir Jenderal. Untung Budiharto menjadi Wakil Asisten Operasi Kepala Staf Angkatan Darat pada 2017-2019. Selanjutnya, ia menjadi Kepala Staf Kodam XVIII/Kasuari pada 2019-2020, dan Panglima Kodam Jakarta Raya pada 2022. Setahun kemudian, ia juga menjabat sebagai Komisaris PT TransJakarta sejak 2023 hingga saat ini.

Peran Tim Mawar dalam Menculik Aktivis 1998

Tim Mawar dibentuk oleh Mayor Inf. Bambang Kristiono pada Juli 1997. Anggotanya terdiri atas 11 orang, termasuk Kapten Inf. Untung Budiarto. Target tim ini adalah memburu dan menangkapi aktivis yang dianggap radikal. Sebanyak 22 aktivis diculik, dengan sembilan orang kembali dalam keadaan hidup, sedangkan 13 lainnya hilang hingga saat ini.

Kasus penculikan tersebut telah diadili oleh Mahkamah Militer. Bambang dihukum 22 bulan penjara dan dipecat sebagai anggota TNI. Pengadilan juga memvonis Multhazar, Nugroho, Julius Stefanus, dan Untung Budi masing-masing 20 bulan penjara, serta memecat mereka sebagai anggota TNI.

Eks Anggota Tim Mawar Dapat Promosi

Tahun 2016, empat eks anggota Tim Mawar yang pernah divonis bersalah –tiga di antaranya bahkan dipecat dari TNI– diangkat menjadi jenderal setelah menyandang pangkat Brigadir Jenderal (Brigjen). Keempatnya dipromosikan menjadi jenderal setelah menerima promosi ke jabatan yang diemban oleh seorang Brigjen.

Karier Untung pun tetap moncer setelah tak jadi dipecat dari TNI. Kini pria berpangkat Mayor Jenderal itu diangkat menjadi Pangdam Jaya. Sementara Brigjen TNI Dadang Hendrayudha dan Brigjen TNI Yulius Selvanus menjadi pejabat eselon 1 di lingkungan Kementerian Pertahanan yang dipimpin oleh Prabowo Subianto.

Karier Eks Anggota Tim Mawar

Beberapa eks anggota Tim Mawar seperti Bambang Kristiono dan Fauka Noor Farid terjun ke dunia politik. Bambang aktif dalam tim kampanye Megawati-Prabowo dan kini menjabat sebagai Ketua Badan Pengawas dan Disiplin (BPD) Partai Gerindra. Sementara itu, Fauka Noor Farid juga terlibat dalam partai bentukan Prabowo Subianto.

Sementara itu, empat bekas anggota lainnya, Kapten Inf. Joko Budi Utomo, Serka Sunaryo, Serka Sigit Sugianto, dan Sertu Sukadi, tak terdengar kabarnya. Chairawan Kadarsyah Nusyirwan, yang pernah dipecat dari TNI, kini banyak berkiprah di dunia intelijen.

Dewi Nurita berkontribusi dalam penulisan artikel ini.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *