Istri Tewas 20 Tusukan, Suami Tuduh Anak Kandung, Keluarga Buka Suara: Tidak Percaya Alibinya

Kasus Pembunuhan Ibu oleh Anak Kandung di Medan

Kasus pembunuhan yang menimpa Faizah Soraya, seorang ibu rumah tangga yang ditemukan tewas bersimbah darah di rumahnya di Jalan Dwikora, Kelurahan Tanjung Rejo, Kecamatan Medan Sunggal, Sumatera Utara, masih menjadi misteri. Kejadian tragis ini terjadi pada Rabu (10/12/2025) sekitar pukul 05.00 WIB, dan korban diduga ditusuk sebanyak 20 kali oleh putri bungsunya, SAS, yang berusia 12 tahun.

Fakta-Fakta Terkait Peristiwa

Faizah Soraya ditemukan dalam kondisi sangat mengenaskan, dengan luka tusukan yang cukup banyak. Saat kejadian, ia tidur bersama kedua anaknya di kamar lantai satu, sedangkan suaminya, Alham, tidur sendiri di kamar lantai dua. Keduanya dikabarkan sudah pisah ranjang karena Alham telah menjatuhkan talak setelah ketahuan selingkuh. Namun, Faizah menolak untuk berpisah karena memikirkan kedua putrinya.

Bacaan Lainnya

Anak pertama Faizah, yang menemukan ibunya dalam kondisi tersebut, berteriak histeris saat melihat sang ibu sudah tewas. Hal ini menimbulkan rasa syok dan kaget bagi keluarga. Sementara itu, Alham mengaku bahwa dirinya melihat putri bungsunya memegang pisau di dekat tubuh korban. Menurut pengakuannya, peristiwa ini dipicu oleh kesalahan yang dilakukan oleh putri bungsunya, yang merasa dendam karena ibunya memarahi kakaknya.

Namun, pengakuan Alham justru ditolak mentah-mentah oleh keluarga Faizah. Mereka justru meminta agar Alham yang diselidiki lebih lanjut, karena ada indikasi kuat bahwa ia memiliki niat tertentu.

Penyelidikan Polisi

Polrestabes Medan kini tengah melakukan penyelidikan terhadap kasus ini. Pelaku, yang berinisial A (12), kini sudah diamankan dan sedang menjalani pemeriksaan intensif. Kasat Reskrim Polrestabes Medan, AKBP Bayu Putro Wijayanto, menyatakan bahwa proses pemeriksaan dilakukan dengan hati-hati mengingat usia pelaku yang masih di bawah umur dan kondisi psikologisnya.

“Masih kita periksa, karena masih kecil dan trauma, dan harus ada pendamping nih,” ujar AKBP Bayu saat dikonfirmasi awak media. Ia juga menegaskan bahwa motif di balik perbuatan keji tersebut masih menjadi fokus penyelidikan.

Karakteristik Anak Pelaku

Warga sekitar mengaku terkejut dengan tindakan yang dilakukan oleh SAS. Mereka mengenal anak ini sebagai sosok yang baik, pendiam, ramah, dan berprestasi di sekolahnya. “Kami tidak menyangka anaknya bisa melakukan itu. Ia adalah anak yang paling ramah, baik saat bertemu dengan orang. Tak hanya itu, ia juga berprestasi dalam mengikuti lomba di sekolahnya,” ujar warga tersebut.

Selain itu, warga juga mengungkapkan bahwa keluarga korban termasuk tertutup dan jarang berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Korban hampir tidak pernah bergaul dengan tetangga dan sangat jarang keluar rumah. “Mereka itu orangnya tertutup, jadi satu keluarga itu jarang keluar rumah. Hanya saja, ketika berpapasan barulah mereka menegur kami. Korban memang tidak pernah bergaul dengan tetangga dan tidak pernah keluar,” lanjutnya.

Dugaan Motif Pembunuhan

Meski belum ada konfirmasi resmi dari pihak berwajib, warga menduga kuat bahwa motif pembunuhan berawal dari masalah rumah tangga. “Mungkin karena emaknya itu cerewet, jadi mungkin sakit hati. Padahal, sudah mau tamat sekolah pelaku ini. Dalam agama, keluarga mereka kuat,” katanya.

Kesimpulan

Kasus ini masih dalam penyelidikan pihak berwajib, dan masyarakat menantikan hasil investigasi yang lebih jelas. Bagi keluarga korban, hal ini menjadi momen yang sangat berat dan membutuhkan dukungan serta pemahaman dari lingkungan sekitar.




Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *