Ira Fatana

Pengalaman Setelah Bebas dari Tahanan

Pada suatu malam, saya bertemu dengan Ira Puspadewi dan Harry Muhammad Adhi Caksono saat makan malam. Mereka baru saja bebas dari tahanan selama tiga hari. Saya mengajukan pertanyaan tentang rencana mereka setelah mendapatkan rehabilitasi.

“Belum tahu. Ini masih jetlag,” jawab Harry sambil bercanda. Ira menimpali dengan senyum. Mereka memang sedang dalam proses penyesuaian diri setelah berada di lingkungan yang sangat berbeda.

Bacaan Lainnya

Salah satu hal yang membuat mereka merasa seperti jetlag adalah cahaya. Mereka terbiasa dengan lampu redup di tahanan. Di rumah, Ira merasa lampu terlalu terang, hingga ia meminta untuk mengganti lampu tersebut. Suami Ira, Zaim Uchrowi, menjawab bahwa itu adalah lampu lama, yang menunjukkan bahwa Ira benar-benar sudah terbiasa dengan kondisi di tahanan selama 10 bulan.

Saya meminta mereka segera melupakan rasa jetlag dan fokus pada kehidupan baru. Tidak boleh terus menangis atau menerima wawancara media. Saya melihat bahwa Ira masih kesulitan mengatasi emosinya ketika muncul di media.

Perjumpaan dengan Mantan Teman

Saat makan malam di Pacific Place, Ira bertemu dengan teman lamanya yang juga berjilbab. Mereka saling berpelukan dan berbicara dalam bahasa Sunda. Ira menahan air mata, lalu membuat panggilan video dengan keluarganya untuk menunjukkan siapa yang sedang bersamanya. Saya penasaran dengan identitas teman tersebut.

“Aduh, kuper banget. Dia kan Reza…,” kata Ira, mengenali penyanyi terkenal itu. Ira menyebutkan bahwa Reza terlihat berbeda dibanding saat di panggung.

Setelah itu, kami berjalan keluar mal. Saya bertanya kepada Ira tentang aktivitasnya saat di tahanan.

“Yah… membaca. Atau mengaji,” jawab Ira. Ia tidak ingat berapa kali ia telah menyelesaikan Alquran yang terdiri dari 6666 ayat. Ia sering berhenti di surah Ad-Dhuha dan membacanya berulang-ulang.

Ira membawa Quran ke tahanan, yang dilengkapi terjemahan dalam bahasa Inggris. Menurutnya, surah itu seperti menyindir dirinya sendiri. Ia tumbuh di keluarga pesantren, sehingga menjadi imam salat lima waktu. Ada delapan tahanan wanita bersamanya, termasuk satu orang Kristen.

Kehidupan di Tahanan

Saya melihat bahwa Ira tetap menjaga bentuk tubuhnya. Ia tetap langsing dan energik. Rupanya, ia bisa terus berolahraga di tahanan. Ia melakukan pilates setiap hari meski hanya dengan alat minimalis. Selain itu, ia juga belajar bermain pingpong dan berhasil mengalahkan semua temannya. Ia bisa mencapai skor 15-0, atau jika baik hati, 15-1.

Saya ingin tahu buku apa saja yang ia baca selama di tahanan. Umumnya, buku tentang ekonomi, bisnis, manajemen, dan leadership dalam bahasa Inggris. Ia juga suka membaca novel, terutama yang berkaitan dengan tokoh atau peristiwa masa lalu. Contohnya novel karya Elif Shafak, Forty Rules of Love, yang menceritakan tentang Jalaluddin Rumi.

Selain itu, Ira juga membaca karya A. Helwa, Secrets of Divine Love. Buku ini memberikan perspektif baru tentang cinta Tuhan kepada manusia, bukan sekadar ancaman dan hukuman. Buku ini membantu Ira menemukan ketenangan dan memahami makna fitnah.

Penelitian dan Karier

Ira lahir yatim di Malang, pendidikannya di SMAN 1 Sidoarjo, lalu kuliah di fakultas peternakan di Universitas Brawijaya. Doktornya dari Universitas Indonesia, dengan disertasi tentang kepemimpinan di sosiopreneur. Penelitiannya melibatkan 600 koperasi di seluruh Jawa.

Saya bertanya tentang kesimpulan disertasinya. “Untuk menjadi sosiopreneur, harus berhasil sebagai entrepreneur dulu,” jawab Ira. Ia pun membuat jurnal ilmiah yang masuk dalam Scopus Liga Satu.

Sebagai mantan direktur di perusahaan Amerika, Ira terbiasa menghadapi jetlag. Ia tahu cara terbaik untuk mengatasinya adalah dengan segera bekerja dengan target tinggi. Meski beberapa orang membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih, Ira sudah menguasai teknik ini.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *