Hutan Pinus, Wahyu Sapta, dan Pembicaraan Setelah Kemenangan

Pertemuan Kembali dengan Mbak Wahyu Sapta

Pesan dari Mbak Wahyu Sapta muncul menjelang kepulangan saya ke kampung halaman di Ungaran. Pesannya sederhana, “Mbak Ire masih sering ke Ungaran? Mampir Mbak, ke Pinusia Park.” Saya mengenalnya dari event https://soeara.com bertahun-tahun lalu. Hanya sekali bertemu secara langsung, selebihnya komunikasi kami terjalin lewat WhatsApp dan interaksi di media sosial.

Tapi tunggu sebentar. Pinusia Park? Bukankah itu tempat wisata? Mengapa Mbak Wahyu menyuruh saya ke sana dan bukan malah ke rumahnya di Ngaliyan?

Bacaan Lainnya

“Rumah keduaku, tapi bukan punyaku,” pesan lanjutan datang dan justru membuat saya bertambah penasaran. Itulah awal mula pertemuan kembali saya dengan Kompasianer Mbak Wahyu Sapta setelah terakhir bertemu tahun 2019 lalu. Wajahnya masih sama cerianya dan sikapnya tetap hangat.

Dari gerbang masuk, ia menuntun saya menuju ke sebuah tenant beratap jerami yang berdiri terpisah dari 2 tenant lainnya. Rupanya di tempat itulah Mbak Wahyu mencurahkan perhatiannya selama 2 tahun terakhir. Sebuah warung makan di dalam taman wisata bertema hutan pinus di kawasan Ungaran. Terlihat 2 orang pegawai membantunya menjalankan usaha kuliner itu.

Soal kuliner saya tak begitu heran. Beberapa waktu belakang beliau memang gemar membagikan resep masakan di https://soeara.com. Kini resep-resep itu tak lagi sekadar tulisan, semua telah teruji dan menjadi menu andalan di warungnya.

Saya sempat menengok papan menu yang terpajang di depan warung. Ada satu menu yang dari dulu ingin sekali saya coba: Nasi Gandul. Resepnya ia racik sendiri, tak lepas dari latar belakangnya sebagai orang Pati.

Saya bukan Kompasianer pertama yang datang ke sana. Kompasianer Mbak Gana Stegman pernah mampir dan tanpa sengaja bertemu Mbak Wahyu di sana. Wah, kalau begini modelnya, kita bisa agendakan tempat ini menjadi basecamp pertemuan kompasianer-kompasianer Semarang dan sekitarnya, nih, batin saya.

Apa yang kurang dari tempat ini? Udara sejuk, ada hamparan rumput hijau, hutan pinus, kolam renang, pendopo, live music, playground -semua ada. Tak heran jika orang-orang dari luar kota kerap menyewa tempat ini untuk berbagai acara pertemuan.

Pinusia Park tak hanya sejuk dan asri tapi juga terlihat unik dari segi penataan. Dari obrolan kami yang cukup panjang, saya baru tahu bahwa alm. suami Mbak Wahyulah yang mendesain area ini. Memang saya tahu suami beliau adalah seorang desainer taman, tapi baru kali ini saya melihat langsung hasil karyanya.

Bisa dibilang ini adalah karya terakhir dari almarhum Pak Berbudi Listyo Wibowo. Seketika saya jadi paham mengapa Mbak Wahyu menyebut tempat itu sebagai rumah kedua. Di tempat itulah keluarganya berkumpul; ia dengan warungnya, almarhum suaminya dengan kesibukan pekerjaannya, anak perempuannya (Lia) yang bekerja dibagian Flora dan Fauna dan anak laki-lakinya (Luthfi) yang sering datang untuk membantu aktivitas di warung.

Ya, ada seorang anak laki-laki berusia 20 tahunan yang sedari tadi terlihat hilir mudik di warungnya. Rupanya itu adalah Luthfi, anak bungsu yang kini masih menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi negeri di Magelang.

Bisa dibilang, tempat itu adalah karya terakhir dari ayah mereka, dan benar, seperti rumah kedua.

Kami berkeliling menyusuri area taman. Detail demi detail hiasan terasa begitu alami dan terlihat jelas dirancang dengan penuh pertimbangan. Mbak Wahyu menjelaskan hampir setiap sudut yang kami lewati. Ia hapal dari mana suaminya mendatangkan benda-benda yang ada di sana. Contohnya pendopo yang kami tuju, didatangkan langsung dari Jogja lengkap dengan gentengnya.

Untuk menjaga kealamian, material yang digunakan didominasi bahan-bahan alam, seperti kayu dan batu. Ada juga bajak-bajak tua yang sengaja dipasang di sisi jalan seolah menyambut pengunjung yang datang.

Sudah berjam-jam kami berkeliling sambil bercerita, lambung pun mulai berteriak seolah menyuruh kami kembali ke warung. Inilah salah satu momen yang saya paling tunggu, mencicip Nasi Gandul buatan Mbak Wahyu. Akhirnya saya bisa mencobanya langsung, menyudahi lapar dan ngiler yang sejauh ini timbul pasca membaca tulisan-tulisan beliau.

Sesuai niat, saya memesan seporsi Nasi Gandul, begitupun Mbak Wahyu yang berniat menemami saya makan. Rupanya nasi Gandul itu nasi dengan daging berkuah santan yang kaya akan rempah. Kuah panasnya membuat suasana yang tadinya adem perlahan menghangat. Wah, rasanya seperti memakan gultik, hanya saja irisan dagingnya lebih besar; bikin ketagihan dan ingin nambah. Pantas saja beberapa kawan dari Pati kerap merindukan hidangan ini. Rupanya memang secandu itu.

Setelah melepas rasa lapar, kami duduk di sebuah kursi kayu di bawah pohon. Daunnya yang rimbun menyelamatkan kami dari rintikan gerimis. Suasana syahdu pun tercipta, bukan bersama pasangan melainkan seorang kawan lama.

“Ini temennya ibu menulis, tapi masih muda,” ucap Mbak Wahyu ketika mengenalkan saya ke Lia, putrinya. Saya sendiri senang dibilang muda, apalagi anak perempuannya mengira saya sebaya dengannya. Rasanya angka usia saya menyusut seketika. Pada kenyataannya masa-masa itu sebenarnya sudah berlalu cukup lama.

Kami lanjut berbincang, soal https://soeara.comAwards, komunitas, kawan-kawan kompasianer dan yang baru-baru ini banyak diperbincangkan: menulis pasca memperoleh kemenangan. Fenomena mulai jarang menulis pasca menang memang menarik untuk dibahas. Terlebih kami sama-sama ada di posisi itu.

Mbak Wahyu memenangkan kategori Best in Fiction di tahun 2018, sementara kemenangan yang saya peroleh masih hangat, fresh from the oven. Saya ingin berguru padanya; bagaimana menghadapi hari-hari pasca kemenangan, apa yang membuat para pemenang itu menghilang dan apakah sebuah target kemenangan sedemikian besar pengaruhnya terhadap semangat menulis.

Arah perbincangan sore itu seolah membidik diri kami sendiri. Apa yang harus kami kerjakan setelah ini? Karya apalagi yang harus kami buat?

Soal menerbitkan buku sempat mencuat di sela-sela obrolan kami. Keren saja seandainya kami punya buku terbitan sendiri. Jadi setiap kali bertemu kawan penulis, kami bisa saling bertukar karya.

Kami juga membicarakan soal taman baca. Saya sudah lama memimpikannya, sebuah taman baca dengan cafe kecil di dalamnya. Mbak Wahyu pun berpikir demikian, ia kepikiran untuk membawa buku-bukunya ke warung, membuatkan mereka tempat khusus agar bisa dibaca oleh pengunjung.

Kami lalu membicarakan skema yang aman agar buku-buku itu tetap terjaga. Ada kekhawatiran soal buku-buku yang dibawa pulang tanpa ijin oleh pengunjung.

“Tapi sepertinya hal semacam itu tidak mungkin, seorang pembaca buku tidak akan mencuri dan seorang pencuri tidak akan membaca buku, bukan?” kata kami seolah sepakat soal itu.

Kami mengakhiri sore itu dengan sebuah harapan, kelak jika kami bertemu lagi, kami ingin bertukar buku terbitan masing-masing.

Langit Ungaran di bulan Desember selalu murung, tak ada hari tanpa mendung. Saya memutuskan pulang sebelum langit berubah gelap, menerobos rintik hujan dengan penuh rasa syukur. Bersyukur masih diberi kesempatan berbincang dengan kawan lama di tengah hijaunya rumput dan rimbunnya pohon pinus.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *