Hujan datang tanpa janji

Langit sore itu menggantung rendah tanpa tanda apa pun. Tidak gelap, tidak terang, hanya luas dan diam. Kafe kecil di atas bukit berdiri menghadap hamparan sawah yang terbuka lebar. Bau kayu basah yang lama, bercampur dengan tanah kering dan rumput, tercium samar. Udara terasa hangat di kulit, tidak menyengat, hanya cukup untuk membuat napas berjalan lebih pelan.

Bacaan Lainnya

Aku duduk menghadap pagar kayu, membiarkan mataku turun jauh ke bawah. Sawah terbentang luas, hijau, dan hidup . Dari atas sini, beberapa orang tampak kecil, tapi gerakannya jelas, langkah kaki yang masuk ke lumpur, tangan yang sibuk, dan topi caping yang sesekali dimiringkan. Air di sawah berguncang pelan setiap kali mereka bergerak, menciptakan pantulan cahaya yang tak pernah diam.

“Kalau dilihat dari jauh gini, capeknya kelihatan, tapi kok kayak tenang ya.” kataku pelan,

“Uhm iyaa. Kayaknya karena mereka tau harus ngapain. Kita yang duduk aja malah ribet mikir.” Ucap Nara.

Aku tertawa kecil. “Haduh kena juga.”

Di atas meja, segelas es coklat berdiri dengan embun yang terus turun. Saat kugenggam, dinginnya langsung menjalar ke telapak tangan. Aroma coklat naik perlahan, manis, lembut, bercampur susu. Saat kuminum, rasa pahit-manisnya mengisi mulut dengan tenang, tidak terburu-buru, seperti sore yang memang tidak minta diselesaikan cepat.

Nara mengaduk minumannya, sedotannya beradu dengan gelas.

“Minuman dingin tapi cuacanya gini tuh aneh ya,” ujar Nara ringan.

“Aneh, tapi pas,” sahutku singkat.

Kami kembali diam. Angin bergerak pelan, cukup untuk membuat daun di sekitar kafe bergeser. Hingga akhirnya hujan turun tanpa aba-aba.

Awalnya hanya satu-dua tetes yang jatuh, lalu tiba-tiba bunyinya menjadi ramai. Atap bergetar oleh air, suara hujan bertabrakan dengan daun dan tanah. Udara berubah cepat. Bau tanah basah naik kuat, menusuk hidung.

“Eh tiba-tiba banget deh,” celetuk Nara spontan.

Pandangan ke arah sawah mulai kabur. Orang-orang yang tadi terlihat jelas kini berubah menjadi bayangan di balik hujan. Topi caping mereka tampak samar, tubuh-tubuh itu bergerak lebih cepat, seolah ingin segera menyelesaikan sesuatu. Air sawah bergetar hebat oleh hujan, memantulkan cahaya secara acak.

Aku memperhatikan sisi lain bukit. Di area vila yang masih satu lingkungan dengan kafe, dua anak kecil justru berlarian di tengah hujan. Mereka tertawa keras, pakaian menempel di tubuh. Salah satu dari mereka meloncat ke kolam kecil vila, air muncrat ke mana-mana.

“Nar, liat itu.” sambil menunjuk ke rah vila.

Ia mengikuti arah jariku, lalu tertawa.

“Mau bilang aneh tapi kayaknya seru juga berenang sambil hujan hahaha.” kata Nara sambil tertawa kecil.

“Iyaa sihhh, kita di sini malah ngeluh dingin.” ucapku sambil tertawa kecil.

“Padahal hujan buat mereka kayak bonus,” lanjut Nara.

Hujan semakin deras. Suaranya menelan percakapan lain. Bau tanah basah semakin kuat, bercampur dengan aroma kayu kafe dan sisa coklat di meja. Lalu semangkuk mie kuah datang, diletakkan pelan di depan kami. Uapnya langsung naik, membawa aroma bawang goreng, kaldu, dan lada.

“Ini timing-nya pas banget,” ujar Nara pelan.

“Ini bau yang bikin pengen diem.” gumamku setelah menghitup uapnya.

Saat garpu menyentuh mangkuk, terdengar bunyi kecil. Seruputan mie bercampur dengan suara hujan, menciptakan ritme yang aneh tapi menenangkan. Kuahnya hangat, mengalir perlahan di tenggorokan, membuat tubuh terasa kembali utuh.

“Enak nggak?” tanya Nara sambil meniup uapnya.

“Enak. Apalagi pas hujan gini.” jawabku tanpa ragu.

Kami makan sambil sesekali melirik ke sawah. Orang-orang yang tadi menyawah kini satu per satu keluar dari petak sawah, bayangan mereka menghilang di balik hujan. Sawah ditinggalkan dalam keadaan basah dan berkilau.

Pelan-pelan, hujan melemah. Suaranya berubah menjadi tetesan terpisah. Bau tanah basah masih tertinggal, tapi tidak lagi menekan. Udara terasa lebih ringan, seperti baru saja dibersihkan.

Sawah kembali terlihat jelas. Airnya tenang, warnanya lebih hijau dari sebelumnya. Jejak langkah orang-orang tadi tertinggal samar di lumpur. Anak-anak di vila mulai keluar dari kolam, suara tawa mereka menjauh.

Sore itu tidak membawa apa-apa yang besar. Tidak ada rencana, tidak ada kesimpulan. Hanya hujan yang datang lalu pergi, sawah yang kembali tenang, dan dua orang yang duduk diam, merasakan dunia lewat bau, suara, dan rasa yang pelan-pelan menetap di ingatan.

Pos terkait