Mimpi yang Tak Terkendali
Setiap orang memiliki harapan masing-masing, baik itu kebaikan maupun keburukan. Yang terpenting adalah letak kebahagiaan yang tersimpan dalam diri. Namun, tidak semua harapan bisa tercapai. Ada yang mudah diwujudkan, dan ada pula yang terasa begitu jauh dari jangkauan.
Aku adalah seorang gadis yang hanya bisa bermimpi dan mengkhayal. Dengan mimpi-mimpi yang tak terkendali, aku berusaha menembus awang-awang dengan keyakinan dan kekuatan hati. Aku percaya bahwa segala sesuatu mungkin terjadi jika Tuhan menghendaki.
Pagi hari tiba dengan sang mentari yang malu-malu menyapa dunia. Cahaya matahari perlahan menembus cakrawala, membangunkanku dengan silau yang mengintip melalui celah-celah mata. Burung-burung berkicau menjadi pengingat masa lalu, namun itu hanyalah kenangan yang telah berlalu.
Sambil meregangkan otot-otot yang kaku, aku melafalkan doa dalam hati dan harapan untuk hari ini. Belum saja selesai, tiba-tiba ada gedoran dan gebrakan yang menghantam kamar ku. Itu adalah abangku, yang selalu menjadi penghalang bagi impian-impianku.
Abang adalah saudara kandungku, lahir dari rahim yang sama, tumbuh bersama, tapi mengapa ia membenciku? Ia selalu mengatakan bahwa mimpi-mimpi yang kubuat terlalu jauh dan tidak akan tercapai. Kata-kata itu sangat menyakitkan, membuatku meragukan diri sendiri.
Harapan adalah harga dari diri, sedangkan keinginan adalah tujuan dalam diri. Kita berharap apa yang kita inginkan, tetapi hanya diri sendiri yang bisa memahami perasaan itu. Harapan dan keinginan datang dari dalam diri, dan akhirnya juga pergi dari sana.
Entah apa dendam yang Abang pendam, ia seperti tidak memiliki ikatan denganku. Kami menjadi rival dengan status kembar yang samar. Ia selalu menciptakan keraguan di tengah keyakinanku. Aku tidak ingin dipaksa menjadi sempurna.
Maka, aku memutuskan untuk memiliki prinsip: teruslah melangkah dan jangan pernah menyerah. Tidak ada hidup tanpa masalah, dan tidak ada yang berjuang tanpa rasa lelah. Mencapai sesuatu adalah anugerah, sedangkan terhenti adalah hal yang wajar. Semua tergantung pada keyakinan dan kekuatan diri sendiri.
Abang adalah luka, tapi juga penyembuh lara. Meski jauh dari padaku, dia adalah keindahan dalam hidupku. Mimpi-mimpi yang ku jadikan pujangga dalam hati.
Di sore hari, aku pergi bersama payung putih yang senada dengan pakaianku. Taman masih ramai, namun terasa sunyi. Payung itu adalah bukti dari keterlambatan isi hati. Aku pernah menjadi yang tersakiti, namun dengan percaya diri aku yakin bahwa semua seni bisa mengobati.
Namun, itu semua adalah tanda dari sebuah luka yang menusuk jiwa dan menyeret lara dalam raga. Putih adalah warna yang ku pakai dengan sentuhan cinta, lambang kesucian yang terkesan menyakitkan. Payung kehidupan yang membuat ku kehilangan seorang pahlawan.
Ketika rintik hujan turun, aku memainkan payung itu meskipun sedikit kehujanan. Di bawah pohon dengan dedaunan yang rindang, aku mengucapkan rindu yang tak terbalaskan. Senja mulai datang, menenggelamkan matahari di ufuk barat dan menggantinya dengan bulan. Taman mulai menyepi, aku hanya seorang diri, memeluk rindu yang menyelimuti.
Tiba-tiba ada sesuatu yang menyentuh pundakku dengan tenang dan menenteramkan. Aku terhanyut, tidak langsung menoleh untuk mengetahui siapa orang tersebut. Suara itu pelan namun tegas, memberitahu bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini, baik kebahagiaan maupun keterpurukan. Karena hanya Tuhan yang menakdirkan.
Ia berkata, “Kamu bisa meski kejamnya dunia meraja.” Lalu mengusap pundakku pelan, seolah-olah menguatkan keyakinanku. Suaranya serak, aku menduga dia seorang pria tua. “Terus semangat meski banyak yang menghambat!” Ucapnya lagi, membuatku semakin terhanyut.
Perlahan usapan di pundakku tak terasa, lalu ia mengacak rambutku dengan lembut, sebelum pergi meninggalkanku sendirian. Aku merasa iri, iri dengan siapa pun yang menjadi anggota keluarga pak tua itu. Aku mencari pemilik suara itu, tapi ia sudah pergi jauh, punggungnya terlihat rapuh dan langkahnya pelan.
Aku pulang dengan impian dan harapan yang mungkin jauh dari kenyataan. Malam itu langit bertaburan bintang, bulan menjadi tambatan lawan. Setelah hujan yang singkat, malam berganti cerah namun sedikit pekat.
Kata-kata pak tua itu masih teringat jelas. “Tidak ada yang abadi di dunia ini, mau itu kebahagiaan ataupun keterpurukan. Karna hanya Tuhan yang menakdirkan.”
Jika kebahagiaan tidak abadi maka kesedihan harus diakhiri. Aku percaya pada takdir yang diberikan Tuhan, meski hati tidak menyambut dengan sopan, tapi akan ku ikhlaskan. Jika semua yang ditakdirkan padaku hanyalah harapan yang tidak bisa menjadi kenyataan.
Namun, aku yakin dengan doa dan usaha yang ku lakukan akan membuat sesuatu yang tak mungkin menjadi nyata. Aku bisa meski aku tahu betapa kejamnya dunia, karena kejamnya dunia hanya sementara.
Aku akan membuktikan pada dunia dan warga bahwa aku bisa! Bisa menjadi apa yang ku harapkan dan ku impikan!






