Hanya Dubai dan Amsterdam? Ini 3 Karya Arsitektur Indonesia yang Dikenal Dunia

Momen Akhir Tahun dan Perjalanan Wisata Arsitektur

Akhir tahun menjadi momen penting bagi banyak orang untuk merencanakan liburan panjang, khususnya ke luar negeri. Ketika topik perjalanan berfokus pada wisata arsitektur, wisatawan biasanya merencanakan perjalanan ke berbagai kota metropolitan di dunia, seperti Dubai, Hong Kong, New York, Amsterdam, Tokyo, Barcelona, Berlin, atau Taipei. Kota-kota tersebut menawarkan jaminan bangunan ikonik dengan desain mutakhir, inovasi konstruksi, dan capaian desain yang telah diakui secara internasional.

Di Hong Kong, misalnya, M+ Museum menjadi bangunan monumental sebagai pusat seni visual dan desain berkelas dunia. Gedung karya firma arsitektur Herzog & de Meuron pada 2021 ini menampilkan blok horizontal bertekstur keramik dengan fasad LED raksasa. Ini menjadi contoh arsitektur monumental abad 21. Pencapaian museum tersebut diakui dengan meraih “Grand Award” pada ajang Design for Asia Awards (DFA) 2022.

Sementara itu, di Eropa, Amsterdam menjadi sorotan berkat Valley Building (MVRDV) yang memiliki struktur mixed-use menyerupai tebing terasering dipenuhi vegetasi. Dengan fasad batu alam yang tampak “dipahat”, bangunan ini membawa konsep future urban living ke level baru. Desain ini mengantarkan Valley Building meraih Global Winner pada ajang Emporis Skyscraper Award 2021.

Dari sisi inovasi geometrik, Taipei Performing Arts Center di Taiwan karya Office for Metropolitan Architecture (OMA) pada 2022 menjadi benchmark baru dalam desain pusat kesenian. Proyek ini mendefinisikan ulang pusat kesenian dengan struktur “bola raksasa” (the Sphere) yang tampak menembus kotak utama. Desain non-konvensional ini melambangkan keberanian dan eksperimentasi desain arsitektur modern. Ini membuat Taipei Performing Arts Center masuk daftar TIME’s Greatest Places 2021.

Kebangkitan Arsitektur Tanah Air

Melihat dominasi karya luar negeri, wajar bila wisata arsitektural sering diasosiasikan dengan luar negeri. Namun, narasi tersebut kini mulai berubah. Indonesia perlahan tapi pasti mulai menunjukkan potensinya sebagai negara dengan destinasi arsitektural berkelas global. Melalui perpaduan material lokal, inovasi struktural yang berani, dan filosofi ruang yang khas, Indonesia memiliki bangunan-bangunan yang menawarkan kualitas desain dan konstruksi tak kalah memukau.

Berikut tiga bangunan ikonik Indonesia yang memperkuat potensi tersebut:

1. Masjid Al-Safar, Bandung, Jawa Barat

Masjid Al-Safar yang berlokasi di kilometer (km) Tol Cipularang menjadi salah satu bangunan modern paling ikonik di Indonesia hasil karya mantan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil. Dibangun pada 2019, masjid ini menggunakan pendekatan geometri futuristik melalui teknik folded plate atau lipatan bidang yang membentuk struktur atap bersudut tajam.

Desain lipatan ini menghasilkan permainan cahaya dan bayangan yang dramatis dan menenangkan di bagian interior. Ini menciptakan atmosfer spiritual yang kuat tanpa membutuhkan ornamen berlebihan. Dengan pendekatan minimalis tapi monumental, Masjid Al-Safar dianggap sebagai karya eksperimental yang mendorong batas arsitektur keagamaan di Indonesia. Reputasinya menembus batas negara melalui nominasi masjid berasitektur terbaik pada ajang Abdullatif Al Fozan Award 2019 dari Arab Saudi.

2. The Arc, Green School, Ubud, Bali

The Arc di Green School Ubud merupakan tonggak penting arsitektur berkelanjutan Indonesia dan dunia. Diselesaikan pada 2021, bangunan hasil rancangan Ibuku ini menggunakan bambu sebagai material utama. Meski memakai bahan alami, struktur The Arc sangat kompleks berkat penerapan sistem tension–compression ring yang memungkinkan bentang lebar tanpa perlu kolom tengah. Ini merupakan pencapaian teknik yang jarang terjadi dalam arsitektur bambu.

Desainnya yang melengkung organik berpadu harmonis dengan lanskap tropis Bali. Ini menghadirkan pengalaman visual yang futuristik tetapi tetap alami. Melalui inovasi tersebut, The Arc kerap disebut sebagai salah satu struktur bambu paling ambisius yang pernah dibangun di dunia. The Arc di Green School Ubud meraih berbagai penghargaan global, termasuk Dezeen Awards 2021 – Sustainable Building of the Year, Design of the Year 2021 dari Architecture Master Prize, serta “Architecture +Innovation 2025” dari Architizer A+ Awards.

3. Yogyakarta International Airport (YIA)

Yogyakarta International Airport (YIA) di Kulonprogo yang selesai dibangun pada 2020 merupakan contoh elegan dari perpaduan arsitektur modern tropis dengan identitas budaya Jawa. Bandara tersebut dirancang sebagai gerbang modern yang tetap menghormati sejarah dan budaya Yogyakarta. Atap bangunannya mengadopsi pola geometris yang terinspirasi dari motif Batik Kawung. Sementara itu, interiornya dirancang luas dan terang dengan memanfaatkan pencahayaan alami dan struktur masif untuk memperkuat kesan megah.

Selain sebagai infrastruktur transportasi, YIA juga menjadi representasi visual Yogyakarta yang kaya sejarah dan budaya. Kualitas desain bandara ini pun sudah diakui secara global. Terbaru, YIA mendapatkan penghargaan “Best Airport of 2 to 5 Million Passengers in Asia-Pacific” pada ASQ Awards 2025.

Dukungan Material Berkualitas Tinggi

Tiga karya monumental tersebut membuktikan bahwa arsitek Indonesia memiliki visi, bakat, dan kemampuan eksekusi untuk bersaing di kancah arsitektur global. Namun, di balik setiap desain visioner, terdapat faktor krusial yang menjamin ketahanan dan keberlanjutan karya tersebut, yakni kualitas material konstruksi.

Mewujudkan geometri rumit folded plate Masjid Al-Safar atau struktur masif dan terbuka YIA membutuhkan material dasar, seperti semen yang konsisten dalam kualitas, kuat, dan mampu mendukung inovasi struktural yang kompleks. Kualitas material menjadi penentu ide arsitektur yang dapat diimplementasikan menjadi bangunan kokoh dan berumur panjang.

Untuk mendalami lebih jauh mengenai isu arsitektur kontemporer, potensi wisata arsitektur Indonesia, serta peran fundamental material dalam mewujudkan desain visioner, Semen Merah Putih menghadirkan diskusi menarik melalui Podcast Ruang Ratih episode 5. Podcast tersebut membahas tren dan potensi wisata arsitektur sekaligus memberikan perspektif mengenai kolaborasi antara desain yang inovatif, teknik konstruksi yang canggih, dan komitmen terhadap material berkualitas untuk membentuk wajah perkotaan dan infrastruktur di masa depan.

Untuk menyaksikan Podcast Ruang Ratih episode 5, Anda dapat mengunjungi kanal You Tube Semen Merah Putih di laman https://youtu.be/_CKWXIeFVm4.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *