Tahun 2025 ini, memperlihatkan bagaimana menjalani hari bisa terasa seperti berjalan di lorong yang lampunya tidak semuanya menyala. Tidak gelap sepenuhnya, tapi juga tidak cukup terang untuk memberi keyakinan.
Saya bangun pagi tanpa janji besar, menjalani hari tanpa kepastian yang menggembirakan, lalu tidur dengan tubuh lelah dan pikiran yang belum sepenuhnya tenang. Banyak rencana tidak berjalan seperti yang dibayangkan, sebagian bahkan berhenti di tengah jalan tanpa penjelasan yang adil.
Di titik tertentu, harapan terasa tipis. Sepanjang tahun 2025 ini, saya menyadari bahwa rencana tidak selalu berjalan seperti yang dibayangkan. Bukan karena saya berhenti berharap, melainkan karena berharap terlalu tinggi justru menambah beban. Ada waktu, dimana melangkah saja rasanya sudah cukup.
Tidak ada selebrasi, tidak ada pencapaian yang bisa dipamerkan. Hanya satu hal sederhana, “saya tidak menyerah pada hari itu”. Bertahan menjadi bentuk keberanian paling sunyi, dan tahun 2025 ini mengajarkan bahwa keberanian tidak selalu datang dengan sorak.
Perlahan saya belajar bahwa hidup tidak selalu meminta keyakinan penuh, kadang ia hanya meminta kehadiran. Harapan yang dulu menjadi pegangan mulai memudar, bukan karena saya kalah tetapi karena saya menurunkan ego diri agar tetap bisa berjalan.
Saya hidup dengan ekspektasi yang lebih rendah, bukan untuk menghindari kekecewaan semata, melainkan untuk memberi ruang bernapas. Ternyata, tidak semua hal harus pasti agar bisa dijalani. Tidak semua langkah, membutuhkan peta yang lengkap.
Ada ketenangan aneh ketika saya menerima, bahwa banyak hal berada di luar kendali. Saya tetap bergerak, meski tidak yakin hasilnya akan seperti apa. Bukan menyerah, bukan juga pasrah tanpa usaha. Rasanya, lebih seperti berdamai dengan ketidakjelasan.
Saya, berhenti memaksa hidup untuk menjawab semuanya sekarang. Ada hal-hal yang cukup dijalani dulu, lalu dipahami belakangan.
Di tengah ketidakpastian itu, saya tetap mencoba yang terbaik. Bukan versi terbaik yang gemilang atau mudah dikenali orang lain, melainkan versi yang jujur dengan kemampuan dan kondisi saya. Usaha kecil, yang justru sering diremehkan.
Saya tetap bangun setiap pagi, tetap mengulang hal-hal yang sama, tetap melakukan yang bisa dilakukan, menyelesaikan tugas meski hasilnya biasa saja, dan mengulang lagi setelah gagal dengan banyak cerita.
Terbaik versi saya, sangat mungkin berbeda dari versi orang lain. Ada yang terbaiknya adalah bertahan di pekerjaan yang melelahkan, ada yang terbaiknya adalah belajar menerima diri sendiri, dan ada pula yang terbaiknya adalah berani beristirahat. Semua itu sah, dan semua itu nyata.
Menikmati setiap perjalanan di tahun 2025 ini, bukan berarti menutup mata dari rasa pahit. Saya tetap merasakannya, tetap mengakuinya. Tapi, saya juga memberi ruang bagi diri sendiri untuk bernapas. Untuk menyadari bahwa di tengah keterbatasan, saya masih bisa merasakan kehangatan, meski tipis, Masih bisa bersyukur, meski pelan. Masih bisa berjalan, meski tertatih.
Kini saat saya menoleh ke belakang, tahun 2025 ini mungkin bukan tahun yang indah atau terbaik. Namun ia tahun yang jujur, ia memperlihatkan siapa diri saya saat harapan menipis dan jalan terasa sepi.
Saya mungkin tidak menemukan daftar pencapaian yang panjang, dan tidak banyak hal besar yang bisa dibanggakan. Tapi saya menemukan sesuatu yang lebih jujur, yaitu “saya sedang bertahan”.
Terima kasih, tahun 2025. Bukan karena semuanya berjalan baik, melainkan karena saya berhasil melewatinya. Karena saya tetap mencoba, meski tidak sempurna. Karena saya belajar menikmati perjalanan, bukan hanya menunggu tujuannya.
Terima kasih, tahun 2025. Bukan karena semuanya indah, melainkan karena tahun ini apa adanya. Karena ia mengajarkan bahwa hidup tidak selalu tentang menang, tapi tentang terus hadir meski kalah berkali-kali.
Terima kasih, karena memberi ruang untuk belajar menerima. Bukan menerima dengan putus asa, melainkan dengan kedewasaan.
Saya sendiri, tidak menutup tahun 2025 ini dengan janji besar untuk tahun berikutnya. Tidak ada resolusi bombastis, tidak ada target yang dipaksakan. Cukup kesiapan untuk melanjutkan langkah, “satu hari, satu usaha kecil, dan satu penerimaan”.
Hari di tahun berikutnya mungkin tidak lebih mudah, tapi saya sudah tahu satu hal, “SAYA BISA MELEWATINYA”.







