Hal-hal yang belum terjawab dalam kematian sekeluarga di Warakas Jakut

JAKARTA, — Misteri tewasnya satu keluarga di sebuah rumah kontrakan di Jalan Warakas VIII Gang 10, Tanjung Priok, Jakarta Utara, hingga kini masih menyisakan banyak tanda tanya.

Sebab, masih banyak hal-hal yang belum teungkap dari peristiwa tewasnya satu keluarga itu.

Bacaan Lainnya

Peristiwa itu baru diketahui warga sekitar setelah terdengar teriakan histeris dari dalam kontrakan sekitar pukul 07.30 WIB, Jumat (2/1/2026).

Teriakan itu berasal dari anak kedua korban yang baru saja pulang bekerja dan menemukan anggota keluarganya tergeletak tak bernyawa.

Salah satu warga, Aryuni Wulan Febri (51), mengaku mendengar teriakan minta tolong dari dalam kontrakan korban.

“Pas sudah masuk, enggak lama sekitar lima menit itu masnya teriak-teriak gitu. Saya kedengaran kan kirain saya mungkin berantem,” ungkap Aryuni saat temui di lokasi kejadian, Sabtu (3/1/2026).

Mendengar teriakan tersebut, Aryuni segera keluar rumah untuk mengecek kondisi kontrakan.

Saat itu, ia mendapati seorang ibu berinisial S (50), anak perempuan AA (27), dan anak laki-laki AA (13) sudah tergeletak tak bernyawa di lantai. Sementara itu, satu anak korban lainnya ditemukan dalam kondisi kritis.

Aryuni kemudian menghubungi ketua RT setempat dan pihak kepolisian. Setelah dilakukan pemeriksaan awal, ketiga jenazah langsung dievakuasi ke Rumah Sakit Polri Kramat Jati untuk menjalani otopsi.

Adapun korban yang kritis dilarikan ke rumah sakit guna mendapatkan perawatan intensif.

Benarkah para Korban tewas akibat keracunan?

Menurut keterangan anak kedua korban, ibu, kakak, dan adik-adiknya diduga meninggal dunia akibat keracunan. Dugaan itu muncul karena ketiga jasad ditemukan dalam kondisi mulut berbusa.

Polisi membenarkan temuan tersebut. Jasad S, AA, dan AA memang ditemukan dalam kondisi kaku dan mulut berbusa. Namun, satu anak yang masih kritis tidak menunjukkan gejala serupa.

Karena perbedaan kondisi tersebut, polisi belum dapat menyimpulkan penyebab pasti kematian satu keluarga itu.

“Namun, penyebabnya apa atau sebanyak apa, karena apa, masih dalam pemeriksaan dari dokter forensik yang menanganinya,” ungkap Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Utara AKBP Onkoseno Gradiarso Sukahar saat ditemui di kantornya, Jumat.

Selain mulut berbusa, polisi juga menemukan ruam merah pada tubuh ketiga jenazah. Hingga kini, dokter masih memeriksa apakah ruam serupa juga terdapat pada tubuh korban yang kritis.

Mengapa hasil otopsi belum ungkap penyebab kematian?

Proses otopsi terhadap ketiga jenazah telah selesai dilakukan di Rumah Sakit Polri Kramat Jati.

“Jenazah sudah diotopsi dan sudah diserahkan,” ungkap Kepala Rumah Sakit Polri Kramat Jati Brigjen Pol Prima Heru, Sabtu (3/1/2026).

Meski demikian, Heru menegaskan, hasil otopsi belum cukup untuk menjelaskan secara rinci penyebab kematian para korban. Polisi masih menunggu hasil pemeriksaan lanjutan berupa uji toksikologi.

“Untuk hasil nunggu hasil toksikologi,” sambung Heru.

Uji toksikologi merupakan serangkaian tes ilmiah untuk mendeteksi keberadaan zat kimia berbahaya, seperti obat-obatan atau pestisida, yang dapat menyebabkan efek merugikan hingga kematian.

Keracunan atau bunuh diri?

Kuasa hukum keluarga korban, Azam Khan, menyatakan pihak keluarga masih menunggu hasil resmi penyelidikan untuk memastikan apakah kematian tersebut disebabkan oleh keracunan atau merupakan tindakan bunuh diri.

Menurut Azam, kepastian hanya bisa diperoleh dari hasil otopsi dan penyelidikan kepolisian.

Jika hasil pemeriksaan menyatakan korban meninggal akibat keracunan, pihak keluarga akan menelusuri asal makanan atau minuman terakhir yang dikonsumsi para korban.

“Nanti kalau memang hasil labor atau otopsi Polri menyatakan benar keracunan, kita akan mencari tahu dia beli makanan itu di mana,” ungkap Azam saat ditemui di rumah duka, Jumat.

Azam menegaskan, jika terbukti keracunan, kasus ini harus diusut tuntas karena telah menelan tiga korban jiwa. Namun, jika hasil pemeriksaan menyimpulkan adanya unsur bunuh diri, maka proses hukum pidana dinyatakan tertutup.

Barang bukti apa yang jadi kunci penyelidikan polisi?

Dalam proses olah tempat kejadian perkara (TKP), polisi telah mengamankan sejumlah barang bukti dari dalam kontrakan korban. Barang bukti tersebut antara lain sisa botol minuman dan bungkus makanan.

Seluruh barang bukti kini tengah diperiksa oleh Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) untuk mengetahui kemungkinan adanya kandungan zat berbahaya.

Selain itu, polisi juga telah memeriksa sejumlah saksi, termasuk dua orang anggota keluarga korban. Salah satunya adalah anak korban yang masih kritis dan kini menjalani perawatan intensif di rumah sakit.

Pemeriksaan terhadap korban tersebut dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi kesehatannya yang belum stabil.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *