Gletser Kiamat Mulai Runtuh: Jakarta Bakal Tenggelam Lebih Cepat dari Ramalan?

Jakarta, ibukota Indonesia, menghadapi ancaman serius akibat penurunan permukaan tanah yang terus berlangsung. Berdasarkan data dan studi terbaru, kota ini semakin rentan tenggelam akibat kombinasi faktor seperti pengambilan air tanah berlebihan, pembangunan infrastruktur yang tidak terkendali, serta kenaikan permukaan laut akibat pemanasan global. Fenomena ini menimbulkan kekhawatiran besar bagi warga dan pemerintah.

Gletser Thwaites di Antartika, yang dikenal sebagai “Gletser Kiamat”, menjadi salah satu penyebab utama kenaikan permukaan laut. Pencairannya yang pesat dapat meningkatkan permukaan laut hingga 60 cm, bahkan hingga 3 meter jika lapisan es Antartika Barat runtuh. Meski prediksi waktu pencairan gletser ini masih menjadi perdebatan, tren pencairan yang terjadi sejak beberapa dekade terakhir memberi sinyal bahwa risiko kenaikan laut akan semakin nyata.

Di Jakarta, penurunan permukaan tanah mencapai rata-rata 17 cm per tahun. Data dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan bahwa sekitar 160,4 km² wilayah Jakarta akan terendam air pada tahun 2050. Wilayah Jakarta Utara, yang paling rentan, mengalami penurunan hingga 25 cm per tahun. Jika tidak ada tindakan, 95% wilayah Jakarta Utara bisa berada di bawah permukaan laut.

Faktor utama penyebab penurunan tanah adalah pengambilan air tanah dalam yang berlebihan. Sebanyak 80-90% penurunan permukaan tanah disebabkan oleh penggunaan air tanah dalam yang tidak terkontrol. Banyak bangunan, termasuk perumahan dan gedung-gedung bertingkat, menggunakan air tanah untuk kebutuhan sehari-hari karena ketergantungan pada PDAM yang hanya memenuhi 40% kebutuhan air bersih.

Upaya mitigasi telah dilakukan, seperti pembangunan giant sea wall dan peningkatan sistem drainase. Namun, solusi jangka panjang tetap memerlukan penghentian eksploitasi air tanah dalam. Profesor Heri Andreas dari Institut Teknologi Bandung menekankan bahwa penghentian pengambilan air tanah dalam adalah langkah penting untuk menghentikan penurunan permukaan tanah.

Selain itu, revitalisasi sungai-sungai di Jakarta, seperti Sungai Citarum, menjadi harapan untuk menyediakan sumber air alternatif. Namun, proses ini membutuhkan waktu yang cukup lama dan komitmen serius dari pemerintah dan masyarakat.



Penurunan Permukaan Tanah Jakarta 2050

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *