Gempa low frequency di Tangkuban Parahu meningkat, Badan Geologi bilang masih normal

PIKIRAN RAKYAT – Pemantauan kegempaan Gunung Tangkuban Parahu dalam tiga hari terakhir ini teramati rekaman jenis Gempa Low Frequency (LF) mulai meningkat. 

Bacaan Lainnya

Pada tanggal 24 Desember 2025 terjadi 10 kali kejadian, dan 25 Desember 2025 terjadi 10 kali kejadian.

Gunung api Tangkuban Parahu merupakan gunung api aktif yang berada di wilayah Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat. Gunung api ini memiliki sembilan kawah dengan dua kawah utama berada di area puncak, yaitu Kawah Ratu dan Kawah Upas.

Erupsi Gunung Tangkuban Parahu pada umumnya berupa letusan freatik dari Kawah Ratu. Keindahan pemandangan sekitar kawah menjadikan area sekitarnya sering dikunjungi oleh wisatawan dari dalam maupun luar negeri.

Plt. Kepala Badan Geologi Lana Saria menjelaskan, pada periode Bulan Juni hingga Juli 2025 terjadi peningkatan jenis Gempa LF di Tangkuban Parahu hingga mencapai jumlah maksimum 270 kejadian pada tanggal 3 Juni 2025. Bersamaan dengan peningkatan kejadian gempa LF ini juga diikuti oleh terjadinya bualan lumpur pada Kawah Ratu.

“Hembusan asap dari Kawah Ratu teramati berwarna putih tipis hingga sedang, bertekanan lemah sampai sedang dengan ketinggian 5–150 meter dari dasar kawah. Pemantauan kegempaan dalam 3 hari terakhir ini teramati rekaman jenis Gempa LF mulai meningkat,” katanya dalam siaran pers, Minggu 28 Desember 2025.

Rekaman kegempaan pada tanggal 26 Desember 2025 tercatat 38 kali Gempa LF. Pemantauan seismik pada nilai dV/V belum menunjukkan pola penurunan yang signifikan, mengindikasikan belum terjadi peningkatan tekanan akibat naiknya fluida ke permukaan.

Sedangkan pemantauan visual pada Kawah Ratu, asap kawah berwarna putih, bertekanan lemah hingga sedang, intensitas tipis hingga sedang dengan ketinggian 5–80 meter dari dasar kawah. Asap Kawah Ecoma berwarna putih, tekanan lemah hingga sedang, intensitas tipis dengan ketinggian 5–40 meter dari dasar kawah.

Pengamatan deformasi permukaan menggunakan alat EDM, GNSS dan Tiltmeter belum menunjukkan perubahan tekanan yang signifikan di bawah tubuh gunung api. 

Data pemantauan EDM menunjukkan kecenderungan pola deflasi pada segmen Pilar – UPAS dan pola inflasi pada segmen Pilar – LERENG, yang mengindikasikan fluktuasi tekanan pada kedalaman dangkal di bawah tubuh gunung api.

“Hal ini perlu menjadi perhatian karena potensi erupsi freatik tetap dapat terjadi secara tiba-tiba, tanpa didahului gejala vulkanik yang jelas. Dengan mempertimbangkan semua data tersebut di atas, tingkat aktivitas Gunung Tangkuban Parahu masih berada pada Level I (Normal),” kata Lana.

Meski demikian, masyarakat di sekitar Gunung Tangkuban Parahu dan para pengunjung tetap diimbau untuk tidak mendekati area dasar kawah, tidak berlama-lama di kawasan kawah aktif, serta segera menjauh jika teramati peningkatan intensitas hembusan atau tercium bau gas menyengat.

Meskipun aktivitas menurun, kewaspadaan harus tetap diperhatikan. “Pemerintah Daerah dan BPBD diminta terus menjalin koordinasi dengan Pos Pengamatan Gunung Api Tangkuban Parahu di Desa Cikole serta Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di Bandung,” katanya.

Dia juga berharap agar masyarakat tetap tenang, tidak mudah terpengaruh oleh isu-isu yang belum dapat dipertanggungjawabkan, serta mengikuti perkembangan informasi resmi melalui aplikasi MAGMA Indonesia atau situs web https://magma.esdm.go.id.

Evaluasi tingkat aktivitas Gunung Tangkuban Parahu akan dilakukan secara berkala atau sewaktu-waktu apabila terjadi perubahan signifikan. Masyarakat diharapkan tetap tenang, waspada, serta mengikuti arahan dari pihak berwenang demi keselamatan bersama. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *