Isi Artikel
- 1 Makna resmi dari pengelompokan terbaru ini
- 2 Keputusan Trump dianggap sebagai ‘tindakan politik’
- 3 Fentanyl: Asal, penggunaan dalam bidang kesehatan, serta bahayanya
- 4 Mekanisme kerja fentanil — hanya beberapa miligram saja sudah cukup untuk mengakibatkan kematian
- 5 Tablet, plester, dan campuran yang mematikan
- 6 Jaringan pasokan global: Tiongkok, Amerika Latin, dan Amerika Serikat
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyebut fentanil sebagai “senjata pemusnah massal.” Apa makna penting dari pengklasifikasian ini? Bagaimana dampak fentanil dan mengapa sangat berbahaya?
Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah menerbitkan sebuah dekrit yang menggolongkan fentanil sebagai “senjata pemusnah massal” — istilah politik yang sangat ekstrem untuk suatu zat yang telah secara diam-diam membunuh banyak orang selama beberapa dekade. “Obat ini jauh lebih berbahaya daripada dampak ledakan bom,” kata Trump. Ia menyatakan bahwa setidaknya 200.000 hingga 300.000 orang tiap tahun meninggal akibat penggunaan fentanil.
Angka yang sebenarnya, seperti yang dilaporkan oleh otoritas kesehatan masyarakat Amerika Serikat, yaitu Centers for Disease Control and Prevention (CDC), memang menimbulkan kekhawatiran, tetapi jauh lebih rendah dibandingkan klaim yang beredar. CDC mencatat bahwa lebih dari 76.000 orang meninggal akibat overdosis fentanil pada tahun 2023. Namun, jumlah tersebut turun menjadi 48.422 kematian pada tahun 2024. Di Eropa, angka kematian akibat fentanil tetap berada di kisaran ratusan orang.
Apa yang membuat obat ini—yang sebenarnya dibuat untuk mengurangi rasa sakit yang sangat parah—menjadi begitu berbahaya? Dan apakah benar fentanil bisa disebut sebagai senjata penghancur besar?
Makna resmi dari pengelompokan terbaru ini
Revisi klasifikasi yang dilakukan oleh Trump berarti bahwa fentanil tidak hanya diatur oleh hukum kesehatan dan pidana. Sekarang, fentanil juga dipandang sebagai masalah keamanan nasional. Lembaga intelijen dan militer, secara prinsip, bisa terlibat lebih dalam—misalnya dalam melawan kartel narkoba, atau jika ada seseorang yang dicurigai merencanakan penggunaan fentanil dalam serangan tertentu.
Dalam penelitiannya pada tahun 2019 yang berjudulFentanyl sebagai Senjata Kimia(Bahan Kimia Fentanil), Pusat Studi Senjata Musnah Massal (CSWMD) menyatakan bahwa tidak ada “dasar atau kebutuhan apa pun untuk secara resmi mengklasifikasikan senyawa fentanil sebagai senjata pemusnah massal, setidaknya bagi Kementerian Pertahanan Amerika Serikat.”
CSWMD berada di bawah Institute for National Strategic Studies, sebuah unit dari National Defense University (NDU) yang berlokasi di Washington, D.C., dan didanai oleh Kementerian Pertahanan Amerika Serikat.
Namun, penulis laporan tersebut, John P. Caves, juga memberi peringatan bahwa “setidaknya ada risiko bahwa senyawa fentanil bisa digunakan sebagai senjata kimia.” Ia menyarankan agar penggunaan agen aerosol yang memengaruhi sistem saraf—seperti fentanil—dalam penerapan hukum harus dilarang dengan tegas, karena hal itu “tidak sesuai dengan Konvensi Senjata Kimia.” Ia juga menyebutkan bahwa Departemen Pertahanan seharusnya “terus memperdalam pemahaman mengenai senyawa fentanil sebagai ancaman potensial sebagai senjata kimia.”
Keputusan Trump dianggap sebagai ‘tindakan politik’
Dennis Fitzpatrick, seorang ahli keamanan nasional dan mantan asisten jaksa distrik Amerika Serikat, mengkritik kategori baru ini. Ia menyebutnya sebagai “tindakan politik” yang “tidak memiliki alasan nyata,” karena menurutnya: “Kita sudah memiliki undang-undang yang berlaku, yang telah diuji, yang biasa digunakan oleh jaksa dan aparat penegak hukum, yang jelas, dan yang mencapai tujuan yang sama.”
Radio Nasional Amerika (NPR) berdiskusi dengan berbagai ahli kesehatan masyarakat dan pencegahan kecanduan, yang menekankan bahwa secara teknis sangat sulit untuk menggunakan fentanil seperti senjata pemusnah massal tradisional dalam serangan teror. Mereka menyatakan bahwa sebagian besar kematian akibat fentanil terjadi pada pengguna narkoba jalanan yang telah mengonsumsi bahan yang dicampur atau dipalsukan, bukan karena serangan yang sengaja direncanakan.
Para pakar di bidang ini mengatakan bahwa klasifikasi baru tersebut tidak akan mengurangi kelimpahan fentanil di pasar gelap maupun jumlah kematian akibat overdosis. Sebaliknya, mereka memandangnya sebagai langkah lanjutan dalam militerisasi “perang melawan narkoba.” Di sisi lain, upaya pencegahan, pengobatan, dan kebijakan sosial masih mengalami kekurangan dana serta mendapat perhatian yang jauh dari cukup.
Tindakan ini juga menyulitkan kerja sama internasional—terutama dengan Tiongkok, terkait bahan-bahan pendahulu—karena menimbulkan kesan bahwa Beijing secara tidak langsung disangka mendukung produksi “senjata penghancur massal.”
Pihak-pihak di kalangan komunitas keamanan yang mendukung tindakan ini, serta organisasi korban seperti Families Against Fentanyl, menyatakan bahwa jumlah kematian dan kerusakan ekonomi yang terjadi setara dengan “senjata pemusnah massal dalam gerak lambat”, sehingga pemerintah dianggap berhak menggunakan seluruh sumber daya yang dimilikinya, mulai dari intelijen dan militer hingga tekanan internasional.
Fentanyl: Asal, penggunaan dalam bidang kesehatan, serta bahayanya
Fentanyl merupakan obat opioid yang dibuat secara sintetis. Ia adalah obat penghilang rasa sakit yang sangat efektif, yang umumnya digunakan dalam anestesi dan juga dalam perawatan pasien kanker stadium akhir.
Kekuatan fentanil jauh lebih besar dibandingkan opioid tradisional seperti morfin atau oksikodon. Bahkan dalam dosis yang sangat kecil, fentanil mampu mengatasi rasa sakit yang sangat parah. Fentanil awalnya diciptakan sebagai anestesi yang sangat efisien dan mudah dikontrol. Di dunia kesehatan, obat ini dianggap penting, tetapi penggunaannya harus dilakukan dengan pengawasan ketat terkait dosis dan metode pemberian.
Mekanisme kerja fentanil — hanya beberapa miligram saja sudah cukup untuk mengakibatkan kematian
Fentanil bekerja dengan mengikat reseptor opioid di sistem saraf pusat, mengurangi rasa sakit, dan sering kali menyebabkan perasaan bahagia serta ketenangan yang sangat kuat. Kombinasi ini membuatnya menarik sebagai zat narkoba untuk keperluan rekreasi, namun juga sangat berbahaya. Hanya sedikit miligram saja sudah cukup untuk mengurangi dorongan pernapasan hingga seseorang hanya bisa bernapas dangkal atau bahkan berhenti sama sekali.
Akibatnya adalah kekurangan oksigen, kehilangan kesadaran, koma, dan dalam kasus terparah, henti napas, yang bisa menyebabkan kematian dalam waktu singkat. Fentanil juga sangat menimbulkan ketergantungan, dan tingkat toleransi pada pengguna meningkat dengan cepat, sehingga mereka cenderung meningkatkan dosis. Jarak antara dosis yang menimbulkan efek“high”dan dosis yang berbahaya sangat sedikit.
Tablet, plester, dan campuran yang mematikan
Di rumah sakit, fentanil biasanya diberikan melalui suntikan intravena atau menggunakan plester yang melepaskan obat secara perlahan dan terus-menerus melalui kulit. Di lingkungan ilegal, fentanil umumnya tersedia dalam bentuk bubuk atau pil yang diproduksi secara tidak sah. Semakin sering juga ditemukan dalam bentuk yang bisa dihisap atau dihirup.
Masalahnya adalah para produsen ilegal tidak mengukur dosis dengan tepat. Mereka juga mencampurkan fentanil dengan obat-obatan lain, seperti kokain atau heroin, sehingga pengguna tidak pernah tahu seberapa kuat zat yang mereka konsumsi.
Hanya dua miligram fentanil saja sudah cukup untuk menyebabkan kematian. Cukup dengan satu plester yang tercampur tidak tepat atau sekali tarikan yang berlebihan. Bahkan plester fentanil bekas masih mungkin mengandung jumlah zat aktif yang memadai untuk membahayakan nyawa seseorang jika digunakan secara salah.
Jaringan pasokan global: Tiongkok, Amerika Latin, dan Amerika Serikat
Fentanyl merupakan bahan kimia yang sepenuhnya dibuat secara sintetis dalam laboratorium. Zat ini telah beredar sebagai narkoba ilegal sejak awal tahun 1970, dan produksi yang tidak terkendali mulai meningkat pesat sejak pertengahan dekade 1980-an.
Saat ini, bahan baku dan senyawa kimia dari Tiongkok menjadi bagian krusial dalam pasokan ilegal. Bahan-bahan tersebut diolah menjadi bubuk dan pil fentanil, khususnya di wilayah Amerika Tengah dan Selatan. Dari sana, narkoba ini diselundupkan ke Eropa serta terutama ke Amerika Serikat.
Pada tahun 2022, Badan Penanggulangan Narkoba Amerika Serikat (DEA) menyita lebih dari 50,6 juta pil palsu yang mengandung fentanil, serta sekitar 4,5 ton bubuk fentanil. DEA memperkirakan bahwa jumlah ini setara dengan lebih dari 379 juta dosis yang bisa berakibat fatal. Menurut Anne Milgram, kepala DEA pada masa itu, angka ini “cukup untuk membunuh seluruh penduduk Amerika.”
Artikel ini pertama kali diterbitkan dalam bahasa Jerman.
Diadaptasi oleh Ayu Purwaningsih
Editor: Yuniman Farid
ind:content_author: Alexander Freund







