Fenomena Sosial di Balik “Ruang Ketiga” yang Sedang Viral

Beberapa waktu terakhir, kafe menjadi tren di akun media sosial yang setidaknya memiliki satu unggahan yang menunjukkan pemilik akun mengunjungi sebuah kafe. Unggahan tersebut dibuat dengan tampilan mewah, estetis, dan menarik agar bisa menjadi hiasan di akun media sosial tersebut. Ternyata, bisnis ini cukup sukses hingga banyak orang yang ikut mengikuti tren ini. Tren ini semakin meledak dan memengaruhi pertumbuhan kafe-kafe baru yang masuk ke pasar yang sedang ramai. Karena jumlahnya yang sangat banyak, beberapa kafe memiliki konsep dan suasana yang mirip, hanya berbeda dalam menu dan nama saja.

Setiap kafe memiliki keistimewaan masing-masing. Beberapa unggul dalam suasana yang ditawarkan, rasa hidangan dan minuman, akses lokasi, atau variasi menu yang tersedia. Namun, elemen penting dalam sebuah kafe tentu saja terletak pada menu yang disajikan, dan yang paling utama adalah kopinya, sesuai dengan namanya. Setiap kafe memiliki metode produksi sendiri, sehingga menghasilkan perbedaan kecil.

Bacaan Lainnya

Terkadang, kita merasa harga menu di Café terasa “membuat kewalahan” jika setiap hari mengunjungi tempat tersebut. Meskipun harganya cukup mahal, anehnya Café tetap menjadi pilihan bagi berbagai kalangan sebagai tempat berkunjung, bahkan saat sedang bekerja. Hal ini memunculkan pertanyaan “Mengapa mereka masih datang?” Sekarang pertanyaannya bukan lagi tentang murah atau mahal, melainkan apa yang sebenarnya ditawarkan oleh industri kopi modern ini, dan mengapa kita sebagai konsumen dengan senang hati terus pergi ke Café?

Jika kita kembali memperhatikan, suasana dan fasilitas yang tersedia di setiap Cafe umumnya sangat menggembirakan. Kursi khusus yang sesuai dengan tema masing-masing Cafe, AC yang terdapat di setiap sudut, suasana tenang yang menimbulkan kesan mewah, serta rasa istimewa dari setiap hidangan dan minuman yang disajikan di Cafe. Semua hal ini menjadi daya tarik yang meningkatkan harga menu yang ada di setiap Cafe. Hal ini juga didukung oleh penelitian yang ditulis oleh Tondang Grace, dkk. (2023) yang menyatakan bahwa proporsi kontribusi variabel independen (suasana, harga, variasi menu) terhadap variabel dependen (minat kunjungan) sebesar 53 persen, artinya 47 persen berasal dari variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.

Kembali ke pertanyaan sebelumnya, “mengapa kita sebagai pengguna secara sukarela terus datang ke Cafe?”

Jawabannya mungkin berada pada 47 persen faktor yang tidak terduga dan jarang dibicarakan. Intinya sederhana: kita tidak lagi hanya membeli barang, tetapi membeli ruang.

Di tengah era kerja yang semakin fleksibel, kebutuhan akan Third Place (Ruang Ketiga), yaitu ruang komunal antara rumah dan kantor, menjadi sangat penting. Bekerja dari rumah sering kali penuh dengan gangguan lingkungan atau rasa kesepian yang mengurangi kreativitas, sementara kantor terkadang terasa terlalu kaku. Di sinilah kafe muncul sebagai solusi yang sempurna; menawarkan batasan psikologis agar kita dapat memasuki ‘mode kerja’ tanpa beban formalitas kantor maupun gangguan suasana rumah.

Perspektif ini yang menjelaskan mengapa harga menu sering dianggap mahal. Bagi para profesional, pekerja lepas, maupun mahasiswa, kafe berubah dari tempat bersantai menjadi ruang kerja tambahan. Harga kopi yang kita bayar sebenarnya merupakan biaya sewa fasilitas yang cukup wajar.

Bayangkan ini sebagai investasi harian. Dengan hanya membeli kopi seharga 20 ribu rupiah, kita bisa mendapatkan akses ke meja yang nyaman, AC, Wi-Fi cepat, listrik, dan yang paling penting: suasana yang mendorong produktivitas. Suara latar (white noise) di kafe sering kali lebih efektif dalam meningkatkan fokus dibandingkan ketenangan rumah yang terasa kaku. Bila dibandingkan dengan biaya sewa ruang kerja bersama harian, “biaya masuk” ke kafe jelas lebih murah untuk 5–8 jam waktu bekerja yang produktif.

Oleh karena itu, keinginan kita untuk membayar lebih bukanlah tindakan konsumsi yang tidak rasional. Ini merupakan pilihan ekonomi yang masuk akal guna mendukung kenyamanan dan fokus dalam bekerja. Selama kafe mampu menyediakan suasana kerja yang lebih menginspirasi dibandingkan kantor atau rumah, harga yang diberlakukan tidaklah terlalu mahal, melainkan harga yang wajar untuk sebuah ruang yang produktif.

Referensi :

Tondang, G. A., Nasution, M. L. I., & Dharma, B. (2023). Dampak suasana kafe, harga, dan variasi menu terhadap minat kunjungan pelanggan (Studi Kasus: Dbest Cafe Tuamang). Syarikat: Jurnal Rumpun Ekonomi Syariah, Vol. 6, No. 1, hal. 15–26

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *