Ringkasan Berita:
- DI SUDUT sebuah ruang podcast berukuran 4×6 meter yang sederhana namun penuh energi, Direktur Politeknik Pertanian Negeri Kupang (Politani), Johanis A. Jermias, S.Pt., M.Sc., duduk berbincang hangat terkait capaian ditahun 2025.
- Pertemuan Selasa (22/12) itu, sebuah refleksi mendalam atas lompatan besar yang telah dilakukan Politani sepanjang tahun 2025. Bagi Johanis, tahun 2025 adalah tahun pembuktian.
Laporan Reporter , Ray Rebon
, KUPANG –DI SUDUT sebuah ruang podcast berukuran 4×6 meter yang sederhana namun penuh energi, Direktur Politeknik Pertanian Negeri Kupang (Politani), Johanis A. Jermias, S.Pt., M.Sc., duduk berbincang hangat terkait capaian ditahun 2025.
Mengenakan jas batik yang melambangkan identitas lokal, ia didampingi Wakil Direktur Bidang Akademik, Max Arthur Julian Supit, S.Pt., GDIpC., MFoodTech dan host Jurnalis Pos Kupang, Annie Toda.
Pertemuan pada, Selasa (22/12)itu, bukan sekadar bincang-bincang biasa, melainkan sebuah refleksi mendalam atas lompatan besar yang telah dilakukan Politani sepanjang tahun 2025. Bagi Johanis, tahun 2025 adalah tahun pembuktian.
Ia menjelaskan, setiap gerak langkah lembaga ini dimulai dari komitmen yang tertuang dalam perjanjian kinerja antara Direktur dan Dirjen Diktisaintek. Komitmen ini bukan sekadar dokumen formalitas, melainkan instruksi yang diturunkan secara berjenjang hingga ke staf paling bawah.
“Artinya mulai dari awal tahun kami mulai dari nol. Di mana ada hal-hal spesifik yang harus dicapai tahun ini demi visi menjadi politeknik paling unggul,” tegas Johanis.
Salah satu transformasi paling nyata yang dirasakan mahasiswa tahun ini adalah penerapan metode pembelajaran berbasis proyek atau Project Based Learning (PBL). Politani Kupang perlahan meninggalkan gaya konvensional dan mengajak mahasiswa terjun ke ekosistem kerja yang sesungguhnya.
Johanis mencontohkan bagaimana mahasiswa peternakan kini tidak hanya menghafal teori di kelas, tetapi terlibat penuh dalam proyek ayam broiler. Mereka merancang rencana bisnis, membeli sarana produksi, melakukan pemeliharaan, hingga menghadapi tantangan pasar.
Metode ini telah digalakkan selama tiga semester terakhir dengan porsi yang terus bertambah, memberikan pengalaman nyata yang tidak bisa didapatkan dari sekadar lembar teks buku.
Di ranah riset, Politani Kupang berhasil mencatatkan nama mereka di kancah nasional dengan tinta emas. Dari 100 penelitian yang dibiayai LPDP di seluruh Indonesia, Politani Kupang berhasil masuk dalam jajaran 8 riset terbaik.
Prestasi ini mengantarkan mereka mendapatkan undangan istimewa ke Konvensi Sains dan Teknologi pertama di Indonesia yang diselenggarakan di ITB dan dihadiri langsung Presiden RI.
Riset yang difokuskan pada pertanian di Kabupaten TTU dan peternakan di Kabupaten Kupang ini dinilai sangat berdampak bagi masyarakat kecil.
Tak heran, dalam waktu singkat, Politani telah mengantongi 5 paten yang sudah resmi (granted) dan sedang memproses 11 paten lainnya, di samping puluhan buku dan publikasi ilmiah internasional bereputasi. Gebrakan Politani tidak berhenti di dalam negeri. Melalui kepemimpinan yang progresif, lembaga ini menjadi salah satu pionir politeknik di Indonesia yang memiliki program Join Degree internasional.
Bekerja sama dengan Jiangsu Agri-animal Husbandry College di Cina, mahasiswa D3 Politani berkesempatan mengenyam pendidikan di dua negara dan meraih dua ijazah sekaligus.
Wakil Direktur Bidang Akademik, Max Arthur Julian Supit menjelaskan program ini dirancang agar tetap inklusif bagi mahasiswa. Sejak semester satu, mahasiswa dipersiapkan dengan kursus bahasa Inggris gratis.
Bahkan, skema pembiayaannya pun sangat meringankan karena adanya subsidi dari pemerintah Cina dalam bentuk pengembalian UKT di akhir semester. Hingga kini, program tersebut telah berjalan hingga angkatan kedua dan tengah bersiap menyambut angkatan ketiga.
Keberhasilan akademik ini ditopang kualitas sumber daya manusia yang semakin mumpuni di Politani Kupang. Dalam tiga tahun terakhir, Politani sukses melahirkan 8 orang Guru Besar, dengan dua di antaranya dikukuhkan pada tahun 2025 ini.
Kekuatan intelektual ini kemudian diabdikan kembali kepada masyarakat melalui berbagai program nyata, seperti pembentukan kawasan Agro Edu Wisata di Kabupaten Kupang yang bekerja sama dengan Sinode GMIT.
Di sisi lain, para mahasiswa tetap membumi melalui kegiatan Kema Kerja Bhakti yang tahun ini dipusatkan di Kota Kupang dengan tema “Politani Kupang Berdampak Wilayah”.
Menutup perbincangan, Johanis menekankan bahwa setiap pencapaian di tahun 2025, mulai dari riset LPDP, program internasional di Cina, hingga pengabdian masyarakat adalah potongan-potongan perjuangan yang disusun untuk membentuk wajah Politani sebagai lembaga pendidikan vokasi yang tangguh. (ray rebon)
