Fakta Pesawat ATR 42-500 Jatuh di Gunung Bulusaraung: Misi, Kronologi, dan Keterangan Saksi

Ringkasan Berita:

  • Pesawat yang beroperasi pada rute Yogyakarta–Makassar disewa oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk melakukan patroli udara di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara RI 712.
  • Di dalam pesawat terdapat 3 tim pengawasan air yang berasal dari Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) serta 7 orang kru.
  • Saksi mata menyebutkan dalam hitungan detik, pesawat menabrak lereng gunung, ledakan diikuti oleh api
  • Pesawat ATR 42-500 berusia 25,3 tahun dan melakukan penerbangan perdana pada Selasa, 10 Oktober 2000.

 

Bacaan Lainnya

– Pesawat ATR 42-500 yang dimiliki Indonesia Air Transport diperkirakan jatuh di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan (Sulsel), pada hari Sabtu (17/1/2026) sekitar pukul 13.17 Waktu Indonesia Tengah (WITA).

Pesawat yang terbang dari Yogyakarta ke Makassar disewa oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk melakukan patroli udara di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara RI 712, dengan terdapat 7 anggota kru dan 3 penumpang di dalamnya.

Tiga orang penumpang tersebut adalah pegawai KKP, yaitu tim pengawasan udara dari Direktorat Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP), Analisa Pengamat, Penata Muda Tingkat 1 Ferry Irrawan, Penata Muda 1 Deden Mulyana yang bertugas sebagai Pengelola Barang Milik Negara, serta Yoga Naufal yang merupakan Operator Foto Udara.

“Kami ingin menyampaikan bahwa benar terdapat pegawai KKP di dalam pesawat tersebut yang menjalankan tugas pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan melalui pengawasan udara atau laut di wilayah pengelolaan perikanan Negara Republik Indonesia,” ujar Sakti dalam konferensi pers di Kantor KKP, Jakarta Pusat, Sabtu (17/1/2026) malam.

Kepala Basarnas, Marsdya Mohammad Syafii, juga mengonfirmasi bahwa pesawat ATR 42-500 sedang menjalani tugas patroli udara.

“Misinya adalah patroli udara, sehingga pesawat tersebut memang tidak sedang melakukan penerbangan mengangkut penumpang dari Aerodrome Jogja ke Makassar,” katanya, pada malam Sabtu.

Pencarian terus dilanjutkan pada hari Minggu (18/1/2026) pagi ini, dengan fokus pada pencarian korban dan kotak hitam pesawat di Pegunungan Bulusaraung (1.353 -1531 Mdpl), wilayah perbatasan Pangkep-Maros-Bone, Sulawesi Selatan.

Titik dugaan jatuhnya pesawat dengan logo Kementerian Kelautan dan Perikanan berada di bagian utara dan timur Gunung yang merupakan peringkat keenam tertinggi di Sulsel, setelah Bawakaraeng (2.830 mdpl) dan Lompobattang (2.874 mdpl).

Kronologi 

Pesawat dengan nomor registrasi PK-THT dilaporkan kehilangan kontak setelah menerima instruksi terakhir dari Pusat Layanan Terminal Area Makassar (MATSC).

Kepala Badan Perhubungan Udara, Lukman F. Laisa, menyampaikan bahwa pesawat jenis ATR 42-500 yang dibuat pada tahun 2000 tersebut dikemudikan oleh Capt Andy Dahananto dan sedang melakukan pendaratan di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar.

Namun, selama proses pendekatan, pesawat yang terdeteksi tidak berada di jalur pendekatan yang seharusnya.

“Selama proses pendekatan ke landasan pacu RWY 21, pesawat yang teridentifikasi tidak berada di jalur pendaratan yang seharusnya, sehingga ATC memberikan petunjuk perbaikan posisi,” kata Lukman, dilansir dariTribun-Timur.com.

ATC selanjutnya memberikan beberapa petunjuk tambahan agar pesawat kembali ke jalur pendaratan sesuai dengan prosedur yang berlaku.

“Namun setelah pemberian arahan terakhir, komunikasi dengan pesawat terputus dan dianggap kehilangan kontak,” katanya.

Melanjutkan kejadian tersebut, ATC Makassar segera mengumumkan fase darurat DETRESFA (Distress Phase) dan bekerja sama dengan Basarnas serta aparat kepolisian.

Cabang MATSC AirNav Indonesia segera menghubungi Center Koordinasi Penyelamatan (RCC) Basarnas Pusat dan Polres Maros guna mendukung proses pencarian dan pertolongan.

Daftar Korban

Termasuk 3 anggota KKP, berikut ini adalah daftar lengkap korban dari jatuhnya Pesawat ATR 42-500:

Tim pengawas laut berasal dari Badan Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP).

  1. Ferry Irrawan, Perancang Muda Tingkat I, posisi Analis Kapal Pengawas.
  2. Deden Mulyana, Perancang Muda Tingkat I, jabatan Pengelola Barang Milik Negara.
  3. Yoga Nauval, Operator Fotografi Udara.

7 orang awak yang berada di dalam pesawat:

  1. Capt. Andy Dahananto
  2. Yudha Mahardika
  3. Hariadi
  4. Franky D Tanamal
  5. Junaidi
  6. Florencia Lolita
  7. Esther Aprilita S

Keterangan Saksi

Dua pendaki muda, Reski (20) dan Muslimin (18), yang sedang menikmati pemandangan dari ketinggian, menjadi saksi langsung saat kecelakaan pesawat terjadi.

Saat kejadian, Reski dan Muslimin sedang berada di puncak Bulusaraung. Tiba-tiba, sebuah pesawat melewati rendah di depan mereka.

“Saya melihat pesawat itu menghancurkan gunung (Bulusaraung), kemudian meledak dan terbakar. Sekitar pukul 1 siang (13.00 WITA),” kata Reski dengan suara masih gemetar saat menceritakan kembali kejadian yang ia alami, dilaporkan dariTribun-Timur.com.

Dalam hitungan detik, pesawat tersebut menabrak lereng gunung, ledakan yang diikuti api membuat Reski dan Muslimin terdiam dengan rasa takut.

Reski menyebutkan, jaraknya dari lokasi ledakan sekitar 100 meter.

“Meledak dan ada api. Saya mendapatkan serpihan yang terlempar,” kata Reski, lulusan Pondok Pesantren DDI Tobarakka, Siwa, Kabupaten Wajo.

Pada saat itu, Reski mengakui tidak sempat merekam peristiwa secara keseluruhan karena semuanya terjadi sangat cepat.

Setelah kejadian ledakan, kata Reski, ia menemukan sejumlah bagian pesawat yang memiliki logo Kementerian Kelautan dan Perikanan, serta beberapa dokumen yang terbawa angin.

Penemuan tersebut sempat direkam oleh Reski menggunakan ponselnya sebagai bukti awal.

Karena merasa takut dan cemas terhadap situasi di sekitarnya, Reski dan Muslimin akhirnya memutuskan untuk turun dari gunung.

Mereka kembali ke kawasan Balocci dan tiba setelah shalat Ashar, namun membawa berita duka serta sisa-sisa dari tragedi kecelakaan pertama dalam sejarah penerbangan di Tanah Air awal tahun 2026.

Tim Investigasi ATR 42-500 Prancis tentang Kecelakaan

Manajemen pabrikan pesawat ATR 42-500 di Toulouse, Prancis, hari ini akan mengirim teknisi ahli ke kawasan pegunungan Bulusaraung (1.535 mdpl) yang berada di perbatasan tiga kabupaten di Sulsel.

Rencana ini diungkapkan oleh Media Relation ATR Charlotte GIURIA dan Jeanne CAUMONT, seperti yang dilaporkan di situs resmi perusahaan.

“Tim spesialis kami akan bergabung dan memberikan dukungan penuh terhadap investigasi kecelakaan ini bersama tim dan operator di Indonesia,” demikian pernyataan resmi yang dirilis oleh.www.atr-aircraft.com.

Sampai saat ini, penyebab pasti dari kecelakaan masih dalam proses penyelidikan.

Pesawat ATR 42-500 Indonesia Air Transport PK-THT berusia 25 tahun

Pesawat ATR 42-500 diketahui memiliki usia 25,3 tahun dan pertama kali terbang pada Selasa, 10 Oktober 2000, dari pabriknya di Toulouse, Prancis.

ATR adalah kependekan dari Avions de Transport Régional, yaitu pesawat turboprop yang diproduksi melalui kerja sama antara Prancis dan Italia.

Selanjutnya, ATR adalah perusahaan yang didirikan bersama (joint-venture) antara Airbus (Prancis) dan Leonardo (Italia).

Pesawat ATR biasanya digunakan untuk penerbangan jarak pendek hingga sedang, khususnya pada rute antar daerah.

Dikutip dari Planespotters.net,PK-THT pertama kali digunakan oleh Air Dolomiti sejak Maret 2001 hingga 2010.

Air Dolomiti merupakan sebuah maskapai penerbangan asal Italia yang didirikan pada tahun 1989 dan sekarang menjadi bagian dari Lufthansa Group.

Maskapai ini mengoperasikan banyak rute di kawasan Eropa, terutama penerbangan antara Italia dan Jerman.

Kemudian, pada bulan Juli 2010, PK-THT diambil alih oleh Indonesia Air Transport, yang saat itu saham terbesarnya dimiliki oleh MNC Group.

Maskapai Penerbangan Indonesia kemudian menyewakannya kepada Vale hingga Kementerian Kelautan dan Perikanan.

(/Rifqah/Abdi) (Tribun-Timur.com/Nurul/Thamzil)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *