Isi Artikel
Tindakan perusahaan berupa penambahan modal melalui hak membeli saham terlebih dahulu (HMETD) atauright issueramai menghiasi pasar modal Indonesia sepanjang tahun 2025. Sejumlah perusahaan tercatat bersikap agresif dalam memanfaatkan skema ini untuk memperkuat struktur modal, mendanai ekspansi berukuran besar, serta mendukung pengambilalihan dan perubahan bisnis di tengah perubahan ekonomi dan persaingan industri.
Besarnya dana yang terkumpul melalui aksi right issue tidak bisa dianggap remeh. Banyak perusahaan bahkan menargetkan dana dalam jumlah besar hingga triliunan rupiah, menunjukkan besarnya kebutuhan modal serta rencana ekspansi di masa depan. Menariknya, beberapa perusahaan yang melakukan right issue dengan nilai tinggi ini memiliki keterkaitan dengan kelompok usaha konglomerat nasional, mulai dari kelompok Salim hingga bisnis-bisnis yang terkait dengan Hashim Djojohadikusumo.
Dana dari hasil right issue biasanya digunakan untuk pengembangan wilayah properti, perluasan jaringan telekomunikasi dan infrastruktur digital, serta penguatan bisnis inti di sektor transportasi dan jasa.
Berikut daftar perusahaan yang menjalankan atau merencanakan penerbitan saham baru dengan nilai besar sepanjang 2025, beserta tujuan penggunaan dana.
- Daftar Upah Minimum Provinsi 2026 di 35 Wilayah, Pekerja di 30 Wilayah Harus Menggunakan Dana Darurat
- Asing Beli Saham Jelang Natal, Net Buy Rp 4,03 T, FILM Hingga TLKM Dongkrak IHSG
- Profil Agro Bahari (UDNG), Perusahaan yang Dikaitkan sebagai Target Konglomerat
PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI)
Perusahaan milik Aguan-Salim, PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI), menjadi salah satu perusahaan yang mengadakan aksi right issue dengan menargetkan dana besar. Perusahaan menetapkan harga Rp 12.975 per saham dengan menerbitkan maksimal 1,21 miliar saham baru atau 6,69% dari total saham setelah pelaksanaan.
Akibatnya, jika seluruh saham baru tersebut dapat diterima, PANI akan menerima dana segar sebesar Rp 15,73 triliun.
Selanjutnya, jika seluruh saham baru tidak dibeli oleh pemegang HMETD, sisa saham akan dialokasikan kepada pemegang saham lain yang memesan melebihi haknya. Termasuk di dalamnya PT MAP yang bersedia memesan tambahan 450,32 juta saham.
Dana besar tersebut akan digunakan oleh PANI sebagai modal penyertaan kepada anak perusahaannya, PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK). Aksi pengambilalihan saham CBDK akan dilakukan melalui skema pembelian saham yang dimiliki oleh PT Agung Sedayu dan PT Mekar Jaya di CBDK. Dengan aksi ini, PANI dan CBDK akan melakukan pengembangan kawasan PIK2.
“Menyetujui pelaksanaan penambahan penyertaan saham pada anak perusahaan Perseroan melalui pembelian sebagian atau seluruh saham di PT Bangun Kosambi Sukses Tbk serta penerimaan saham baru yang diterbitkan oleh masing-masing PT Panorama Eka Tunggal, PT Cahaya Inti Sentosa dan PT Karunia Utama Selaras,” tulis manajemen PANI dalam pernyataannya.
PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI)
Saudara kandung Presiden RI Prabowo Subianto, Hashim Djojohadikusumo, yaitu PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) juga memiliki dana besar dari hasilright issue. Perseroan telah menyelesaikan tindakanright issue pada Juli 2025 lalu. Melalui aksi ini, WIFI berhasil mendapatkan dana segar sebesar Rp 5,89 triliun.
Melalui aksi tersebut, perusahaan menerbitkan 2,94 miliar saham baru yang setara dengan 55,56% dari modal ditempatkan dan disetor penuh. Sedangkan harga pelaksanaanright issueadalah Rp 2.000 per lembar saham.
Dana right issuedigunakan jaringan WIFI untuk memperluas jaringan serat optik hingga ke rumah (FTTH) melalui entitas anaknya PT Integrasi Jaringan Ekosistem (IJE) dengan menargetkan 4 juta pelanggan yang berada di Pulau Jawa.
Selain itu, IJE sedang membangun jaringan FTTH guna memperluas pangsa pasar dengan menawarkan layanan internet terjangkau seharga Rp 100 ribu per bulan yang diharapkan menjadi sumber pendapatan utama bagi IJE. Saat ini, program layanan internet murah tersebut sudah mulai ditawarkan oleh perusahaan kepada pelanggannya.
Tahun berikutnya, perusahaan menargetkan ekspansi yang agresif. Dalam segmen FTTH, perusahaan menargetkan lebih dari 5 juta rumah terhubung dan lebih dari 3 juta unit.home connectSementara dalam bisnis 5G FWA, WIFI berfokus pada pembangunan lebih dari 5.000 lokasi dan mencapai 5 juta pelanggan.
PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA)
Kemudian, perusahaan yang terkait dengan suami Ketua DPR RI Puan Maharani, yaitu Happy Hapsoro, PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) telah menyelesaikan kegiatan pasar modal.right issuePada 24 November 2025 lalu, melalui aksi ini, perusahaan berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp 603,98 miliar.
Berdasarkan dokumen yang disampaikan perusahaan, dana right issueitu digunakan dalam pengembangan proyek BUVA yang berada di Bali. Salah satunya mengakuisisi entitas bisnis milik anak perusahaan PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) sebesar Rp 416,23 miliar.
Dalam pengumuman terbaru yang dikeluarkan BUVA, perusahaan telah menyelesaikan pembayaran akuisisi PT Bukit Permai Properti dari PT Summarecon Bali Indah dan PT Bali Indah Development yang dimiliki SMRA.
“Setelah selesainya pengambilalihan BPP, maka konglomerat perusahaan memiliki lahan seluas 19,1 hektar yang rencana terkait proyeksi konstruksi serta pengembangannya akan disusun setelah pengambilalihan selesai,” demikian tertulis dalam pengungkapan informasi BEI.
Di sisi lain, dana yang tersisa akan digunakan oleh perusahaan untuk pembelian dan pengembangan lahan di Pecatu, Bali. Selanjutnya, sebesar Rp 76,60 juta dialokasikan untuk penyertaan modal dalam usaha Bukit Permai Properti.
PT Indomobil Multi Jasa Tbk (IMJS)
Perusahaan PT Indomobil Multi Jasa Tbk (IMJS) dari grup berencana mengumpulkan dana melalui aksi rights issue. Dengan aksi ini, perusahaan berharap dapat menghimpun dana sebesar Rp 504,83 miliar. Menurut prospektus yang dirilis oleh perusahaan dalam laporan keterbukaan informasi kepada BEI, emiten di bidang transportasi ini akan menerbitkan maksimal 2,19 miliar saham baru dengan harga Rp 230 per saham.
Seluruh dan right issueperseroan akan menggunakan dana tersebut sebagai setoran modal kepada CSM, sekitar Rp 499,28 miliar yang akan digunakan untuk menyediakan sekitar 1.650 unit kendaraan berupa mobil penumpang jenis city car, Sport Utility Vehicle (SUV), MultiPurpose Vehicle (MPV), pick-up, blind van dan sedan. Sisanya akan digunakan oleh perseroan untuk menutupi biaya operasional seperti biaya penjualan serta biaya umum dan administrasi.
PT Sanurhasta Mitra Tbk (MINA)
Kemudian, perusahaan lain milik Happy Hapsoro, PT Sanurhasta Mitra Tbk (MINA), juga melakukan tindakan korporasi berupa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu. Berdasarkan prospektus yang diumumkan MINA dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, perusahaan properti ini berhasil mengumpulkan dana segar sebesar Rp 164 miliar. Melalui right issueperusahaan mengeluarkan 3,28 miliar saham baru.
MINA rencananya akan memanfaatkan dana dari penerbitan saham tambahan untuk memperluas operasional bisnis, baik di perusahaan induk maupun anak perusahaan. Manajemen MINA mengungkapkan bahwa setiap saham ditawarkan dengan harga Rp 20. Sementara itu, harga pelaksana yang ditentukan oleh perusahaan sebesar Rp 50 per saham.
PT Cahayasakti Investindo Sukses Tbk (CSIS)
Perusahaan terakhir yang mengumumkan tindakanright issue di tengah transparansi informasi BEI, PT Cahayasakti Investindo Sukses Tbk (CSIS) menjadi perusahaan yang terbuka. Perusahaan sektor properti dan real estate ini menargetkan dana segar senilai Rp 198,66 miliar. Dana tersebut akan digunakan oleh perusahaan sebagai modal usaha anak perusahaannya serta untuk memperluas bisnis.
Melalui aksi tersebut, CSIS menerbitkan 522,80 juta saham baru dengan nilai nominal Rp 100 per saham atau sebanyak-banyaknya 28,57% dari modal ditempatkan dan disetor penuh. CSIS menetapkan hargaright issuesebesar Rp 380 per saham. Pemegang saham utama CSIS, PT Andalan Utama Bintara berperan sebagai pembeli cadangan dan bersedia menyerap sisa sahamright issue.
Secara rinci, manajemen perusahaan menyebutkan bahwa sebesar Rp 193,69 juta dialokasikan sebagai setoran modal ke entitas anak, yaitu PT Bogorindo Cemerlang. Dana ini akan digunakan oleh Bogorindo untuk pembangunan infrastruktur, pembangunan gudang serta penguasaan lahan guna menambah landbank. Sisanya akan digunakan oleh CSIS untuk biaya operasional perusahaan, termasuk di dalamnya biaya gaji dan pengeluaran operasional lain yang diperlukan.
“HMETD ini diperdagangkan di PT Bursa Efek Indonesia dan berlangsung selama 6 hari kerja mulai tanggal 29 Desember 2025 hingga tanggal 7 Januari 2025,” tulis manajemen CSIS dalam prospektusnya.right issue.
PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET)
Mendekati akhir tahun 2025, perusahaan telekomunikasi PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) mengumumkan bahwa rencana aksi right issue perusahaan telah disetujui oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
INET berencana mengumpulkan dana sebesar Rp 3,2 triliun melalui aksi korporasi tersebut. INET akan menerbitkan maksimal 12,8 miliar saham baru dengan nilai nominal Rp 10 per saham pada harga pelaksana sebesar Rp 250 per saham.
Seluruh dana tersebut akan digunakan oleh perusahaan untuk mendukung ekspansi yang besar di bidang telekomunikasi dan infrastruktur digital. Secara rinci, sejumlah Rp 2,8 triliun akan dialokasikan untuk pengembangan FTTH dengan kecepatan tinggi menggunakan teknologi Wi-Fi.
Proyek ini direncanakan akan melayani hingga 2 juta pelanggan di kawasan penting Pulau Bali dan Lombok. Sementara sisanya akan digunakan oleh anak perusahaan PT Pusat Fiber Indonesia (PFI) untuk membayar biaya indefeasible right of use (IRU) jaringan kabel bawah laut kepada PT JMP.
Perusahaan menentukan tanggal cum tight HMETD di pasar reguler pada 2 Januari 2025 dan di pasar tunai pada 6 Januari 2025. Sementara tanggal ex di pasar negosiasi ditetapkan pada 5 Januari 2025 sedangkan di pasar tunai pada 7 Januari 2025. Perusahaan akan mendistribusikan saham right issue pada 7 Januari 2025.
