Eksplorasi SDA masif dan ketimpangan oleh pusat, ini perlawanan Hasan Tiro waktu itu

Ketika Daud Beureueh mengobarkan perlawanan terhadap Jakarta (Pusat) pada awal 1950-an, seorang pemuda Aceh bernama Hasan Tiro justru berada ribuan kilometer jauhnya. Ia tengah menempuh pendidikan doktoral di bidang hukum di University of Columbia, New York. Namun jarak geografis itu tidak memadamkan kegelisahan politiknya. Bara kekecewaan terhadap pusat kekuasaan justru tumbuh dan menemukan bentuk baru.  

Sejumlah catatan sejarah, termasuk yang dikutip dari laporan BBC, menyebut bahwa pada masa itu Hasan Tiro menyatakan diri sebagai perwakilan Darul Islam Indonesia di luar negeri. Ia mengamini keyakinan bahwa Aceh telah “dikhianati” oleh Jakarta sebuah pandangan yang kelak menjadi dasar ideologis perjuangannya.

Bacaan Lainnya

 

Dari Darul Islam ke Gagasan Etno-Nasionalisme Aceh

 

Mengacu pada buku Hasan Tiro: Dari Imajinasi Negara Islam ke Imajinasi Etno-Nasionalis (2010) karya Ahmad Taufan Damanik, kegelisahan Tiro tidak surut meski pemberontakan Darul Islam berhasil dipadamkan pada awal 1960-an. 

 

Ia justru mengajukan gagasan baru kepada pemerintah pusat pada saat itu pemerintahan konfederasi, di mana Aceh memiliki kedaulatan luas untuk mengatur urusan wilayahnya sendiri.

 

Namun gagasan itu kandas. Pemerintah pusat menolaknya dengan dua alasan yakni bertentangan dengan prinsip negara kesatuan yang dianut Presiden Sukarno, serta karena Aceh telah diberi status daerah istimewa. Penolakan tersebut menjadi titik balik yang menentukan.

 

Pada Desember 1976, Hasan Tiro mendeklarasikan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Sejak saat itu, arah perjuangan Aceh memasuki catatan baru. Menurut Husaini Nurdin dalam Hasan Tiro: The Unfinished Story of Aceh (2010), terdapat perbedaan mendasar antara GAM dan Darul Islam.

 

Jika Darul Islam dinilai lebih banyak pertimbangan dalam mencapai tujuannya, maka GAM mengambil garis tegas “kemerdekaan mutlak bagi Aceh”, dengan kesediaan menempuh berbagai cara untuk mewujudkannya.

 

Pembentukan GAM kerap disebut-sebut mendapat restu Daud Beureueh. Namun catatan M. Nur El Ibrahimy dalam Tengku Muhammad Daud Beureueh: Peranannya dalam Pergolakan Aceh (1982) justru mengungkap cerita berbeda. Dua kali kunjungan Hasan Tiro kepada Beureueh disebut berujung respons dingin.

 

Penyebabnya, Tiro dinilai gagal meyakinkan Beureueh mengenai ideologi negara yang akan dibangun. Beureueh berpegang pada prinsip bahwa negara yang tidak berlandaskan Islam tidak dapat dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.

 

Islam, Identitas, dan Tafsir Perjuangan Aceh

 

Bagi Daud Beureueh, semangat syahid melawan kolonial Belanda adalah bagian tak terpisahkan dari upaya menegakkan pemerintahan berbasis Islam. Islam, dalam pandangannya, merupakan kunci seluruh aspek kehidupan bernegara.

 

Sebaliknya, Hasan Tiro menempatkan perjuangan Aceh dalam kerangka sejarah dan kesinambungan politik, tanpa secara menegaskan menjadikan Islam sebagai dasar ideologis negara. Perbedaan tafsir inilah yang memperlebar jarak dua tokoh besar Aceh tersebut.

 

Genealogi perjuangan GAM dijabarkan lebih rinci oleh Tim Kell dalam The Roots of Acehnese Rebellion, 1989–1992 (1995). Menurut Kell, ideologi GAM tidak semata bertumpu pada romantisme etnis atau kejayaan masa lalu, melainkan pada pengalaman ketertindasan struktural.

 

Pada era Orde Baru, Aceh mengalami perubahan sosial, ekonomi, dan politik yang cepat. Eksploitasi sumber daya alam berlangsung masif, namun manfaatnya dinilai tidak mengalir ke masyarakat lokal. Ketimpangan pun melebar.

 

Di saat bersamaan, pusat kekuasaan serta pembentuk birokrasi sipil dan militer dari Jakarta dianggap menggerus kekuatan politik lokal. Kondisi ini, menurut Kell, menciptakan luka dalam kekecewaan yang “menyediakan peluang bagi Hasan Tiro dan GAM untuk memperkuat identitas politik Aceh.”

 

Perlahan namun pasti, dukungan mengalir. GAM menjelma menjadi entitas politik yang kokoh, berakar pada rasa ketidakadilan dan pencarian jati diri masyarakat Aceh.

 

Sejarah Hasan Tiro dan lahirnya Gerakan Aceh Merdeka menunjukkan bahwa konflik Aceh bukan cerita pemberontakan saja, melainkan pertemuan rumit antara identitas, ideologi, dan ketidakadilan kepemimpinan. 

 

Dari ruang kuliah di New York hingga belantara Aceh, gagasan Tiro membentuk salah satu bab terpenting dalam sejarah politik Indonesia modern. ***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *