Ekor dan Jendela Pesawat ATR 42-500 Ditemukan, Nasib 10 Penumpang Masih Mencurigakan

Ringkasan Berita:

  • Bagian ekor dan jendela pesawat ATR 42-500 telah ditemukan di wilayah Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan.
  • Posisi pesawat yang jatuh berada di area yang memiliki kondisi sulit untuk dicapai.
  • Mengenai nasib 10 penumpang, hingga berita ini dirilis belum ada informasi yang jelas.

Kepala Komando Daerah Militer (Kodam) XIV/Hasanuddin, Mayjen TNI Bangun Nawoko, mengatakan bahwa proses evakuasi para korban jatuhnya Pesawat ATR 42-500 akan dilakukan dengan menggunakan helikopter, jika kondisi cuaca memungkinkan.

Bacaan Lainnya

Pesawat yang dimiliki oleh Indonesia Air Transport diketahui mengalami kecelakaan di wilayah Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan (Sulsel).

Posisi pesawat yang jatuh terletak di area yang memiliki kondisi sulit untuk dicapai.

Mengungkapkan, tim Basarnas berhasil menemukan dua bagian besar dari tubuh pesawat.

Temuan tersebut mencakup bagian ekor pesawat serta jendela pesawat, yang menjadi petunjuk penting dalam proses pencarian.

Namun, proses evakuasi masih menghadapi tantangan cuaca dan kondisi medan yang sangat sulit di tempat kejadian.

Bangun mengatakan bahwa kondisi cuaca saat ini masih belum sepenuhnya mendukung.

“Cuaca di lokasi kejadian saat ini cukup berkabut,” katanya dalam konferensi pers terkait pembaruan pencarian Pesawat ATR 42-500, Minggu (18/1/2026), dilaporkan oleh YouTube Kompas TV.

Selanjutnya, Bangun menyampaikan bahwa helikopter akan menjadi pilihan utama dalam proses evakuasi korban, selama kondisi keamanan memungkinkan.

Ia menyampaikan bahwa di puncak Gunung Bulusaraung terdapat area yang cukup layak untuk mendaratkan helikopter.

Syukur kepada Allah, di puncak Gunung Bulusaraung ini terdapat lokasi yang cocok untuk mendaratkan helikopter, sehingga kita dapat mengirimkan Tim SAR.

Jika korban sudah ditemukan, baik dalam keadaan meninggal maupun kondisi lainnya, proses evakuasi akan dilakukan melalui udara dengan tetap memprioritaskan aspek keselamatan.

“Jika sudah menemukan korban, seperti jenazah atau yang sejenisnya, jika kondisi cuaca memungkinkan kami akan melakukan evakuasi dengan helikopter, dengan prinsip utama keselamatan, apabila situasi cuaca dan medan memungkinkan,” katanya.

Namun, bila kondisi cuaca dan medan tidak memungkinkan penggunaan helikopter, proses evakuasi akan dilakukan melalui jalur biasa yang digunakan para pendaki.

Kemudian, korban akan dibawa ke posko utama pencarian pesawat yang terletak di Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkep.

“Jika tidak, nanti kita bawa korban ke pos yang telah beroperasi, yaitu di wilayah Kabupaten Pangkep, khususnya dari pos Desa Tengku Bulu. Di sana sudah terdapat pos bersama, yang terdiri dari TNI, Polri, dan pemerintah daerah,” kata Bangun.

Pesawat yang terbang dari Yogyakarta ke Makassar sebelumnya disewa oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk melakukan patroli udara di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara RI 712, dengan terdapat 7 anggota kru dan 3 penumpang di dalamnya.

Tiga penumpang tersebut adalah anggota KKP, yaitu tim pengawasan udara dari Direktorat Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP), Analisa Pengamat, Penata Muda Tingkat 1 Ferry Irrawan, Penata Muda 1 Deden Mulyana yang menjabat sebagai Pengelola Barang Milik Negara, serta Yoga Naufal sebagai Operator Foto Udara.

“Kami ingin menyampaikan bahwa benar terdapat pegawai KKP di dalam pesawat tersebut yang menjalankan tugas pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan melalui pemantauan udara atau laut di wilayah pengelolaan perikanan Negara Republik Indonesia,” ujar Sakti dalam konferensi pers di Kantor KKP, Jakarta Pusat, Sabtu (17/1/2026) malam.

Kepala Basarnas, Marsdya Mohammad Syafii, juga mengonfirmasi bahwa pesawat ATR 42-500 tersebut sedang menjalani misi penerbangan pengawasan.

“Misinya adalah patroli udara sehingga pesawat tersebut memang bukan dalam misi mengangkut penumpang dari Aerodrome Jogja ke Makassar,” katanya, malam Sabtu.

Keterangan Saksi

Sebelumnya, dua pendaki muda, Reski (20) dan Muslimin (18), yang sedang menikmati pemandangan dari ketinggian, menjadi saksi langsung saat kecelakaan pesawat terjadi.

Pada saat kejadian, Reski dan Muslimin sedang berada di puncak Bulusaraung. Tiba-tiba, sebuah pesawat melewati mereka dengan rendah.

“Saya melihat pesawat itu menghancurkan gunung (Bulusaraung), kemudian meledak dan terbakar. Sekitar pukul 1 siang (13.00 WITA),” ujar Reski dengan suara masih gemetar saat menceritakan kembali kejadian yang ia lihat, dilansir dari Tribun-Timur.com.

Dalam hitungan detik, pesawat tersebut menabrak lereng gunung, ledakan yang diikuti api membuat Reski dan Muslimin terdiam dengan takut.

Reski menyampaikan, jaraknya dari lokasi ledakan sekitar 100 meter.

“Meledak dan ada api. Saya mendapatkan serpihan yang terlempar,” kata Reski, lulusan Pondok Pesantren DDI Tobarakka, Siwa, Kabupaten Wajo.

Pada saat itu, Reski mengakui tidak sempat merekam kejadian secara keseluruhan karena semuanya terjadi sangat cepat.

Setelah kejadian ledakan, kata Reski, ia menemukan sejumlah bagian pesawat yang memiliki logo Kementerian Kelautan dan Perikanan, serta beberapa dokumen yang terbawa angin.

Penemuan tersebut sempat direkam oleh Reski menggunakan ponselnya sebagai bukti awal.

Karena dihinggapi rasa takut dan cemas terhadap situasi di sekitarnya, Reski dan Muslimin akhirnya memutuskan untuk turun dari gunung.

Mereka kembali ke kawasan Balocci dan tiba setelah shalat Ashar, namun membawa berita duka serta sisa-sisa dari tragedi kecelakaan pertama dalam sejarah penerbangan di Tanah Air awal tahun 2026.

Kronologi 

Pesawat dengan nomor registrasi PK-THT dilaporkan kehilangan kontak setelah menerima instruksi terakhir dari Kantor Pengendali Lalu Lintas Udara (ATC) Makassar Area Terminal Service Center (MATSC).

Kepala Badan Perhubungan Udara, Lukman F. Laisa, menyampaikan bahwa pesawat jenis ATR 42-500 yang dibuat pada tahun 2000 tersebut dikemudikan oleh Capt Andy Dahananto dan sedang melakukan pendaratan di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar.

Namun, selama proses pendekatan, pesawat yang teridentifikasi tidak berada di jalur pendekatan yang seharusnya.

“Pada proses pendekatan ke landasan pacu RWY 21, pesawat yang teridentifikasi tidak berada di jalur pendaratan yang seharusnya, sehingga ATC memberikan instruksi perbaikan posisi,” kata Lukman, dilaporkan dari Tribun-Timur.com.

ATC selanjutnya memberikan beberapa arahan tambahan agar pesawat kembali ke jalur pendaratan sesuai dengan prosedur yang berlaku.

“Namun setelah pemberian arahan terakhir, komunikasi dengan pesawat terputus dan dianggap kehilangan kontak,” katanya.

Melanjutkan kejadian tersebut, ATC Makassar segera mengumumkan fase darurat DETRESFA (Distress Phase) dan bekerja sama dengan Basarnas serta aparat kepolisian.

Cabang MATSC AirNav Indonesia segera menghubungi Center Koordinasi Penyelamatan (RCC) Basarnas Pusat serta Polres Maros guna mendukung proses pencarian dan pertolongan.

Daftar Korban

Termasuk 3 pegawai KKP, berikut adalah daftar lengkap korban dari kecelakaan pesawat ATR 42-500:

Keluarga pengawas sumber daya kelautan dan perikanan (PSDKP) adalah tim pemantau air.

  1. Ferry Irrawan, Perancang Muda Tingkat I, posisi Analis Kapal Pengawas
  2. Deden Mulyana, Pemerhati Pemuda Tingkat I, jabatan Pengelola Barang Milik Negara
  3. Yoga Nauval, Operator Fotografi Udara

7 orang awak yang berada di dalam pesawat:

  1. Capt. Andy Dahananto
  2. Yudha Mahardika
  3. Hariadi
  4. Franky D Tanamal
  5. Junaidi
  6. Florencia Lolita
  7. Esther Aprilita S

(TribunTrends/Tribunnews)

Jangan lewatkan berita menarik lainnya di Google News, Threads, dan Facebook

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *