Eceng gondok menggila di Sungai Betokan: Ancaman banjir besar, ekosistem tambak udang dan ikan terancam punah

– Kondisi Sungai Betokan yang berada di wilayah Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu, kini kian memprihatinkan. Aliran sungai yang menjadi urat nadi pengairan bagi masyarakat sekitar hampir tertutup oleh tanaman air eceng gondok yang tumbuh subur dan tidak terkendali.

Situasi tersebut memunculkan kekhawatiran akan potensi banjir, terutama di tengah intensitas curah hujan yang meningkat dalam beberapa waktu terakhir.

Bacaan Lainnya

Sungai Betokan sendiri berada di wilayah perbatasan antara Desa Jangga dan Desa Jumbleng. Sungai ini memiliki peran penting bagi masyarakat, baik sebagai saluran pembuangan air, sumber pengairan lahan pertanian, maupun penopang aktivitas tambak ikan dan udang.

Namun, pertumbuhan eceng gondok yang masif dinilai telah mengganggu fungsi utama sungai tersebut.

Salah seorang tokoh masyarakat Desa Jangga, H. Mastuka, mengaku resah melihat kondisi sungai yang hampir tertutup tanaman air.

Menurutnya, eceng gondok tidak hanya menghambat aliran air, tetapi juga berpotensi menimbulkan luapan sungai jika tidak segera ditangani.

“Eceng gondok ini sangat mengganggu aliran air. Kalau dibiarkan terus, apalagi sekarang musim hujan, kami khawatir air sungai bisa meluap ke permukiman dan lahan pertanian. Ini tentu sangat merugikan masyarakat,” ujar H. Mastuka, warga Blok Betokan, Desa Jangga, Minggu 21 Desember 2025.

Ia menjelaskan bahwa selain berisiko menyebabkan banjir, eceng gondok yang membusuk juga dapat menurunkan kualitas air sungai. Air menjadi keruh, berbau, dan berpotensi mencemari lingkungan sekitar, termasuk tambak ikan dan udang milik warga.

“Kalau eceng gondok mati dan membusuk, air jadi bau dan kualitasnya menurun. Dampaknya sangat terasa bagi petambak. Ikan bisa stres, bahkan mati,” jelasnya.

Atas kondisi tersebut, H. Mastuka berharap adanya perhatian dan tindakan nyata dari pemerintah daerah maupun pihak Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS).

Ia menilai penanganan eceng gondok membutuhkan dukungan alat berat dan sistem pengelolaan limbah yang baik agar pembersihan sungai tidak menimbulkan masalah baru.

“Kami berharap pemerintah atau BBWS bisa turun tangan membantu membersihkan eceng gondok sampai tuntas. Jangan setengah-setengah, karena kalau masih tersisa, nanti tumbuh lagi dengan cepat,” tambahnya.

Fenomena pertumbuhan eceng gondok tidak hanya terjadi di Sungai Betokan, tetapi juga di beberapa sungai lain yang melintasi wilayah Kecamatan Losarang.

Kondisi ini mendapat perhatian dari kalangan pemerhati lingkungan yang menilai perlunya penanganan secara terencana dan berkelanjutan.

Endidi, seorang pencinta lingkungan asal Desa Pangkalan, Kecamatan Losarang, menilai bahwa eceng gondok memang menjadi persoalan klasik yang sering berulang setiap musim penghujan. Namun, menurutnya, penanganan masalah ini tidak bisa dilakukan secara sporadis.

“Eceng gondok ini memang menyulitkan. Kalau dibiarkan, sungai tertutup. Tapi kalau diangkat, harus dipikirkan juga ke mana dibuangnya. Jangan sampai menimbulkan masalah lingkungan baru,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya kajian dampak lingkungan sebelum melakukan pembersihan secara besar-besaran. Menurutnya, pemerintah perlu melakukan riset dan perencanaan agar penanganan eceng gondok tidak bersifat reaktif.

“Yang kami harapkan, pemerintah melakukan kajian dampak sejak awal. Jangan menunggu terjadi banjir atau kerusakan lingkungan yang lebih besar, baru kemudian bergerak,” tegas Endidi.

Sejumlah warga dan pelaku usaha tambak di sekitar Sungai Betokan juga menyampaikan harapan serupa.

Mereka berharap penanganan eceng gondok dapat segera dilakukan secara menyeluruh agar aliran sungai kembali lancar dan risiko banjir dapat diminimalkan.

Selain mengancam permukiman, tertutupnya sungai juga dikhawatirkan mengganggu sistem pengairan sawah dan tambak, yang menjadi sumber penghidupan utama masyarakat Losarang.

Jika kondisi ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin akan berdampak pada penurunan hasil panen dan kerugian ekonomi warga.

Masyarakat berharap pemerintah daerah bersama instansi terkait dapat segera mengambil langkah konkret dan berkelanjutan dalam mengatasi persoalan eceng gondok.

Penanganan yang tepat dinilai penting tidak hanya untuk menjaga kelancaran aliran sungai, tetapi juga untuk melindungi ekosistem perairan dan keberlangsungan usaha pertanian serta perikanan di wilayah Kecamatan Losarang.***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *