Isi Artikel
- 1 Dzikir Setelah Sholat Dhuha
- 2 (100 ×) أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ
- 3 (100 ×) سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ
- 4 لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
- 5 Doa Setelah Sholat Dhuha
- 6 اَللهُمَّ اِنَّ الضُّحَآءَ ضُحَاءُكَ، وَالْبَهَاءَ بَهَاءُكَ، وَالْجَمَالَ جَمَالُكَ، وَالْقُوَّةَ قُوَّتُكَ، وَالْقُدْرَةَ قُدْرَتُكَ، وَالْعِصْمَةَ عِصْمَتُكَ. اَللهُمَّ اِنْ كَانَ رِزْقِى فِى السَّمَآءِ فَأَنْزِلْهُ وَاِنْ كَانَ فِى اْلاَرْضِ فَأَخْرِجْهُ وَاِنْ كَانَ مُعَسَّرًا فَيَسِّرْهُ وَاِنْ كَانَ حَرَامًا فَطَهِّرْهُ وَاِنْ كَانَ بَعِيْدًا فَقَرِّبْهُ بِحَقِّ ضُحَاءِكَ وَبَهَاءِكَ وَجَمَالِكَ وَقُوَّتِكَ وَقُدْرَتِكَ آتِنِىْ مَآاَتَيْتَ عِبَادَكَ الصَّالِحِيْنَ
- 7 Hukum Sholat Dhuha
- 8 Tata Cara Sholat Dhuha
Ringkasan Berita:
- Muslim dianjurkan berdzikir dan berdoa setelah sholat dhuha.
- Bacaan dzikir istighfar dan tasbih masing-masing dibaca 100 kali, kemudian ditambah dengan doa lain.
- Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum melaksanakan sholat dhuha.
Sholat dhuha adalah salah satu sholat sunah muakkad atau yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW.
Sholat sunah ini dilaksanakan pada pagi hari ketika matahari mulai naik setelah waktu terbitnya hingga waktu sebelum masuk waktu Zuhur.
Dari Abu Hurairah ra: “Kekasihku SAW mewasiatkan kepadaku tiga hal, yaitu puasa tiga hari setiap bulan, dua rakaat shalat Dhuha, dan shalat Witir sebelum tidur.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Setelah sholat dhuha, muslim dianjurkan untuk berdzikir dan berdoa kepada Allah Swt karena waktu setelah sholat adalah waktu yang paling dekat dengan-Nya.
Dalam buku Berkah Shalat Dhuha oleh M. Khalilurrahman Al Mahfani dan buku Tuntunan Shalat Dhuha oleh H. Sayuti, berikut ini dzikir dan doa setelah sholat dhuha.
Dzikir Setelah Sholat Dhuha
(100 ×) أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ
Astaghfirullāhal ‘azhīm (100 ×)
Artinya: “Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung.”
(100 ×) سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ
Subhanallah wa bihamdih (100 ×)
Artinya: “Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya.”
لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Laa ilaaha illallahu wah-dahu laa syariikalah, lahul-mulku wa lahul-hamdu wa huwa alaa kulli syay-in qadiir
Artinya: “Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kerajaan dan segala puji, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
Doa Setelah Sholat Dhuha
اَللهُمَّ اِنَّ الضُّحَآءَ ضُحَاءُكَ، وَالْبَهَاءَ بَهَاءُكَ، وَالْجَمَالَ جَمَالُكَ، وَالْقُوَّةَ قُوَّتُكَ، وَالْقُدْرَةَ قُدْرَتُكَ، وَالْعِصْمَةَ عِصْمَتُكَ. اَللهُمَّ اِنْ كَانَ رِزْقِى فِى السَّمَآءِ فَأَنْزِلْهُ وَاِنْ كَانَ فِى اْلاَرْضِ فَأَخْرِجْهُ وَاِنْ كَانَ مُعَسَّرًا فَيَسِّرْهُ وَاِنْ كَانَ حَرَامًا فَطَهِّرْهُ وَاِنْ كَانَ بَعِيْدًا فَقَرِّبْهُ بِحَقِّ ضُحَاءِكَ وَبَهَاءِكَ وَجَمَالِكَ وَقُوَّتِكَ وَقُدْرَتِكَ آتِنِىْ مَآاَتَيْتَ عِبَادَكَ الصَّالِحِيْنَ
Allahumma innadh dhuha-a dhuha-uka, wal bahaa-a bahaa-uka, wal jamaala jamaaluka, wal quwwata quwwatuka, wal qudrata qudratuka, wal ishmata ishmatuka. Allahuma inkaana rizqi fis samma-i fa anzilhu, wa inkaana fil ardhi fa-akhrijhu, wa inkaana mu’asaran fayassirhu, wainkaana haraaman fathahhirhu, wa inkaana ba’idan fa qaribhu, bihaqqiduhaa-ika wa bahaaika, wa jamaalika wa quwwatika wa qudratika, aatini maa ataita ‘ibadikash shalihin.
Artinya: “Wahai Tuhanku, sesungguhnya waktu dhuha adalah waktu dhuha-Mu, keagungan adalah keagungan-Mu, keindahan adalah keindahan-Mu, kekuatan adalah kekuatan-Mu, penjagaan adalah penjagaan-Mu, Wahai Tuhanku, apabila rezekiku berada di atas langit maka turunkanlah, apabila berada di dalam bumi maka keluarkanlah, apabila sukar mudahkanlah, apabila haram sucikanlah, apabila jauh dekatkanlah dengan kebenaran dhuha-Mu, kekuasaan-Mu (Wahai Tuhanku), datangkanlah padaku apa yang Engkau datangkan kepada hamba-hambaMu yang soleh.”
Hukum Sholat Dhuha
Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum sholat dhuha, seperti disebutkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam laman resminya.
Ahli hadis, Ibnul Qayyim dalam kitab al-Hadyu menyebutkan beberapa pendapat ulama mengenai pelaksanaan sholat dhuha.
Pendapat pertama menyatakan sholat dhuha hukumnya sunah, pendapat kedua menyebutnya tidak disyariatkan melainkan ada sebab seperti pembukaan Mekkah, pembunuhan Abu Jahal, permintaan sahabat yang bernama ‘Itban agar Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam shalat di salah satu sudut rumahnya, dan pulang dari perjalanan.
Pendapat ketiga menyebutnya sama sekali tidak sunah, sebagaimana sahabat Rasulullah Saw, sebagaimana Abdurrahman bin Auf dan Ibnu Mas’ud, tidak pernah melakukannya.
Pendapat keempat menyebut sholat dhuha hukumnya sunah yang kadang-kadang dilakukan dan kadang-kadang ditinggalkan atau tidak dilakukan terus-menerus.
Ada pun pendapat keempat berdasarkan hadis-hadis berikut:
Dari Abdullah bin Umar: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam itu shalat dhuha sehingga kami mengatakan beliau tidak akan meninggalkannya, dan beliau itu meninggalkannya sehingga kami mengatakan beliau tidak akan melakukannya” (HR. al-Hakim).
Dari Ikrimah (murid Ibnu Abbas): “Adalah Ibnu Abbas itu melakukan shalat dhuha sepuluh (hari) dan meninggalkannya sepuluh (hari).” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf)
Sufyan Ats-Tsauri berkata: Diriwayatkan dari Mansur bin Al-Mu‘tamir: “Para sahabat tidak suka melakukannya terus-menerus seperti shalat wajib.” (HR. Ibnu Abi Syaibah)
Dari Sa’id bin Jubair: “Sungguh aku meninggalkannya padahal aku menyukainya karena aku takut menganggapnya sebagai kewajiban atasku.” (HR. Ibnu Abi Syaibah)
Selain empat pendapat tersebut, ahli hadis Imam Nawawi dalam Kitab Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzab, menjelaskan bahwa hukum sholat dhuha adalah sunnah muakkad atau sunah yang dianjurkan.
“Sholat dhuha adalah sunah yang sangat dianjurkan. Waktunya dimulai sejak matahari naik hingga tergelincir. Penulis kitab Al-Ḥāwī berkata: Waktu yang paling utama untuk melaksanakannya adalah ketika telah berlalu seperempat hari.” (Imam Nawawi dalam Kitab Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzab)
Pendapat tersebut berdasarkan hadis-hadis yang meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw melakukan sholat dhuha.
Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Syaqiq, ia berkata: Aku bertanya kepada ‘Aisyah, “Apakah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam selalu melaksanakan shalat dhuha?”, ‘Aisyah menjawab, “Tidak, kecuali beliau baru tiba dari perjalanannya” (HR. Muslim)
Tata Cara Sholat Dhuha
Sholat dhuha dilaksanakan seperti sholat sunah pada umumnya.
Jumlah rakaatnya minimal dua rakaat dan dilaksanakan pada waktu setelah terbitnya matahari hingga menjelang waktu dhuhur.
- Berniat sholat dhuha, dengan membaca “Ushallī sunnatad–ḍuḥā lillāhi ta‘ālā (Aku niat sholat sunnah Dhuha karena Allah Ta‘ala)”
- Takbiratul ihram
- Membaca Surat Al-Fatihah
- Membaca Surat atau Ayat Al-Quran (yang dihafal)
- Ruku’
- Itidal
- Sujud
- Duduk di antara dua sujud (ifitrasy)
- Sujud kedua
- Berdiri untuk melanjutkan sholat rakaat kedua, hingga sujud kedua (poin 3-9)
- Duduk Tahiyat atau Tasyahud Akhir
- Salam.
(/Yunita Rahmayanti)







