, PONTIANAK – Dwi Sasta Kanaya adalah seorang pendidik, penyiar, serta tokoh yang aktif dalam pemberdayaan pemuda, yang terus berkontribusi di bidang pendidikan, kewirausahaan, dan pengembangan komunitas, baik di tingkat lokal, nasional, maupun internasional.
Ia menyelesaikan gelar Sarjana (S1) Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Tanjungpura, selanjutnya memperluas perspektif internasional melalui Program Bisnis dan Kewirausahaan di Houston Community College, Texas, Amerika Serikat.
Dasar pendidikan ini menjadi dasar yang kokoh dalam perjalanannya sebagai guru, pembimbing wirausaha, serta fasilitator berbagai program pendidikan dan sosial.
Minat besar Dwi terhadap literasi dan membaca sebagai hobi, serta kepeduliannya terhadap kesetaraan akses pendidikan, mendorongnya untuk aktif dalam membangun komunitas, khususnya di daerah-daerah yang kurang mendapat perhatian, terpencil, dan berbatasan dengan Kalimantan Barat.
Salah satu titik penting dalam perjalanannya adalah partisipasinya dalam mendirikan organisasi nirlaba (NPO) Aku Belajar bersama teman-temannya.
Organisasi ini berawal dari sebuah komunitas English Club di Kota Pontianak yang diberi nama EXCELLENCE English Club, yang terdiri dari alumni program Pertukaran Pemuda Antar Negara serta pemuda-pemudi Pontianak.
Seiring berjalannya waktu, komunitas tersebut berkembang menjadi sebuah gerakan pembelajaran yang gratis dan telah beroperasi secara resmi sejak tahun 2013.
“NPO Aku Belajar berawal dari sebuah klub bahasa Inggris yang bernama EXCELLENCE English Club. Saat itu anggota klub kami terdiri dari alumni program Pertukaran Pemuda Antar Negara dan pemuda-pemudi Kota Pontianak,” katanya.
Kepedulian Dwi dan teman-temannya terhadap dunia pendidikan semakin tumbuh melalui sebuah kejadian sederhana yang meninggalkan kesan mendalam di dalam ruang kelas. Pada salah satu program E-Teaching, para relawan mengajar materi tentang impian dan meminta anak-anak untuk menulis harapan mereka di atas sehelai kertas beserta alasan mengapa mereka memiliki impian tersebut.
“Ini sebenarnya berasal dari kegiatan terakhir E-Teaching kami. Anak-anak diminta untuk menulis tentang impian mereka dan alasan mengapa mereka menuliskan impian tersebut,” katanya.
Seorang siswa bernama Hamidah menulis impian masa depannya ingin menjadi seorang ibu rumah tangga. Namun, menjelang akhir kelas, Hamidah kembali mendekati guru-gurunya dan meminta kertasnya untuk diubah.
“Hamidah meminta mengganti impiannya dari menjadi ibu rumah tangga menjadi sebagai pembantu rumah tangga. Kami kaget,” kenangnya.
Pengalaman itu menjadi titik untuk merenung secara mendalam sekaligus memperkuat tekad. Dwi dan teman-temannya menyadari bahwa keterbatasan akses pendidikan juga membatasi cara anak-anak melihat masa depan mereka.
Dari sana, komitmen untuk terus melanjutkan dan memperluas gerakan belajar tanpa biaya semakin kuat.
“Dari sini, kami 11 pendiri berkomitmen untuk melanjutkan pergerakan ini ke daerah-daerah yang terpinggirkan di Kota Pontianak,” katanya.
Sejak tahun 2013, program Aku Belajar telah beroperasi dan terus berkembang di berbagai daerah, seperti Sungai Selamat (2 tahun), Batu Layang (3 tahun), Tambelan Sampit (2 tahun), TPI (2 tahun), Jeruju Besar (3 tahun), dan saat ini masih berlangsung di Sungai Jawi Luar.
Selain itu, Dwi juga ikut serta dalam pembangunan perpustakaan mini di wilayah terpencil dan daerah perbatasan Kalimantan Barat, serta dalam pengembangan program pembelajaran dan pelatihan bahasa, baik Bahasa Inggris maupun Bahasa Indonesia.
Dwi Sasta Kanaya telah memperoleh berbagai penghargaan dan apresiasi, seperti Penerima Program Mahasiswa Wirausaha (PMW) DIKTI, Juara II Kompetisi Penyiaran LPP RRI Kalimantan Barat, Finalis Nasional Technopreneurship Pemuda Kemenristek, Pemuda Pelopor Kota Pontianak dan Kalimantan Barat, serta Penghargaan Perempuan Berjasa dan Berprestasi OASE Kabinet Indonesia Maju.
Ia juga terpilih menjadi Duta Pemuda Indonesia dalam Program Pertukaran Pemuda Indonesia–Malaysia serta mendapatkan dana hibah Community College Initiative dari Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat.
Melalui berbagai peran dan pengalamannya, Dwi Sasta Kanaya terus memperkuat komitmen bahwa pendidikan bukan hanya sekadar proses belajar-mengajar, tetapi jalur untuk memperluas harapan, membentuk impian, serta menghasilkan perubahan sosial yang berkelanjutan.
Di balik berbagai kegiatan dan peran yang dijalani, Dwi mengakui tantangan terbesar sebagai seorang wanita justru berasal dari harapan, baik dari orang lain maupun dari dirinya sendiri.
“Mayoritas wanita yang aktif sering diharapkan untuk selalu mampu, tetap unggul, tetap rendah hati, selalu ada untuk keluarga, dan tetap tangguh secara emosional, hal ini terkadang melelahkan,” katanya.
Ia juga menyatakan adanya perasaan bersalah ketika memutuskan untuk beristirahat atau menolak.
“Waktu aku merasa perlu beristirahat, menolak tanggung jawab, atau mengatakan ‘tidak’, sering muncul rasa seperti aku egois, padahal hal itu merupakan bagian dari menjaga kesehatan mentalku,” katanya.
Dwi tidak menyangkal pernah mengalami kelelahan yang membuatnya ingin menyerah. “Ya, aku pernah merasa ingin menyerah, tepatnya saat kelelahan fisik, mental, dan emosional terakumulasi,” katanya.
Namun, dia memutuskan untuk tetap berada di jalannya dengan mengingat alasan awal memulai. “Aku menyadari bahwa setiap langkah yang aku ambil bukan hanya tentang pencapaian pribadi, tetapi juga tentang harapan, tanggung jawab, dan dampak yang ingin aku berikan.”
Saya ingin membuktikan bahwa perempuan mampu bertahan, berkembang, dan tetap memiliki makna meskipun menghadapi berbagai tantangan,” tambahnya.
Bantuan orang-orang di sekitarnya menjadi penyemangat ketika ia hampir menyerah.
“Mereka mengingatkanku bahwa istirahat diperbolehkan, tetapi berhenti bukanlah satu-satunya jalan. Yang paling penting adalah aku memahami bahwa menyerah bukan berarti kegagalan, melainkan bertahan merupakan bentuk keberanian. Selama aku masih ingin belajar dan terus melangkah, sekecil apa pun itu sudah cukup untuk terus maju,” kata Dwi.
Pada kesempatan itu, Dwi juga menyoroti hal-hal yang diperlukan perempuan Indonesia agar lebih mandiri, mulai dari pendidikan yang baik, ruang untuk menyampaikan pendapat, kesetaraan peluang, hingga rasa percaya diri dan dukungan emosional. Ia menyampaikan pesan kepada perempuan muda yang sedang meragukan dirinya sendiri.
“Keraguan bukan berarti kamu lemah, melainkan tanda kamu sedang berkembang. Kamu tidak perlu sempurna untuk pantas melangkah. Cukup berani mengambil satu langkah kecil hari ini, itu sudah sangat bermakna,” katanya.
Ia mengingatkan agar wanita tidak membandingkan perjalanan hidupnya dengan orang lain.
“Setiap wanita memiliki momennya masing-masing. Tidak masalah jika kamu bergerak perlahan, bahkan jatuh pun tidak apa-apa, yang terpenting adalah kamu tetap percaya pada nilai dirimu. Dunia tidak membutuhkan versi sempurnamu, melainkan versi yang tulus dan berani darimu,” ujarnya.
biofile:
Nama: Dwi Sasta Kanaya
Hobi : Baca
Warna Kesukaan: Hitam
Riwayat Pendidikan:
• Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Tanjungpura
• Program Administrasi Bisnis dan Kewirausahaan di Houston Community College, Texas, Amerika Serikat.
– Baca Berita Terkini Lainnya di GOOGLE NEWS
– Peroleh Berita Tersebar Melalui Saluran WhatsApp
!!!Membaca Berdampak Positif Bagi Pikiran Seperti Olahraga Berdampak Positif Bagi Tubuh!!!







