Di antara detik yang pergi dan doa yang tertinggal

Tahun baru selalu datang dengan cara yang agak dramatis. Ia menunggu kita di ujung kalender layaknya tamu yang tidak pernah diundang, tetapi selalu hadir tepat waktu.

Kita boleh pura-pura tidak siap, boleh mengeluh bahwa hidup belum beres, tetapi detik tetap berjalan.

Bacaan Lainnya

Jam tidak peduli apakah kita sudah sukses atau masih bingung mau ke mana. Waktu tidak menanyakan kabar, ia hanya lewat, sambil berbisik lirih: “Aku tidak akan menunggumu.”

Malam pergantian tahun sering kali dipenuhi suara kembang api, padahal yang benar-benar meledak justru perasaan manusia.

Ada yang bahagia, ada yang pura-pura bahagia, dan ada yang sibuk bertanya dalam hati, “Kok hidupku masih begini-begini saja?” Tahun baru memang ahli dalam membuka kembali pertanyaan lama yang belum sempat dijawab.

Kita menyambut tahun baru dengan ritual yang hampir sakral: resolusi. Daftarnya panjang, niatnya mulia, realisasinya… ya, kita tahu bersama.

Kita berjanji akan hidup lebih sehat sambil memegang gorengan. Kita berjanji akan lebih sabar sambil tetap emosi di jalanan. Kita berjanji akan lebih rajin beribadah sembari berkata, “Nanti saja, Tuhan pasti mengerti.” Humor hidup memang sering kali tidak sopan, tapi jujur.

Tahun yang berlalu adalah kumpulan hari yang tidak semuanya ramah. Ada hari-hari yang terasa ringan, ada pula hari yang beratnya seperti membawa galon air sambil menahan tangis.

Kita bertahan, bukan karena selalu kuat, tetapi karena tidak punya pilihan lain selain melanjutkan. Dan anehnya, kita kerap lupa mensyukuri fakta sederhana itu: bahwa kita masih ada, masih bernapas, masih diberi kesempatan.

Tuhan sering bekerja dengan cara yang sunyi. Tidak selalu dengan keajaiban besar, tetapi dengan kekuatan kecil yang tiba-tiba muncul pada saat kita hampir menyerah. Kadang lewat orang asing yang baik hati, kadang lewat kegagalan yang memaksa kita berhenti, kadang lewat rasa lelah yang mengingatkan bahwa kita manusia, bukan pahlawan tanpa batas.

Tahun 2025 mungkin mengajarkan kita tentang kehilangan. Kehilangan rencana, kehilangan arah, kehilangan seseorang, atau bahkan kehilangan versi diri sendiri yang dulu kita kenal.

Kehilangan itu memang menyakitkan, tetapi anehnya, ia juga membersihkan. Ia membuat kita sadar bahwa tidak semua hal harus dipertahankan, dan tidak semua hal yang pergi merupakan kesalahan.

Di sinilah tahun baru berdiri: di antara luka yang belum sepenuhnya sembuh dan harapan yang masih malu-malu. Ia tidak menjanjikan hidup yang lebih mudah, hanya menawarkan halaman kosong.

Seperti biasa, manusia ingin menuliskan cerita yang indah, tetapi sering lupa bahwa cerita yang bermakna hampir selalu melewati konflik.

Humor tahun baru terletak pada kenyataan bahwa kita sering berharap hidup berubah drastis hanya karena kalender berubah. Seolah-olah semesta akan berkata, “Oh, ini Januari? Baik, mari kita perbaiki semuanya.” Padahal, hidup tidak mengenal tanggal merah untuk proses pendewasaan.

Namun, di balik semua kelucuan itu, ada keindahan yang sering terlewat. Tahun baru adalah kesempatan untuk mengucap syukur dengan cara yang lebih dewasa. Bersyukur bukan hanya karena hal-hal baik yang terjadi, tetapi juga karena kita selamat dari hal-hal buruk yang hampir menghancurkan.

Bersyukur kepada Tuhan bukan berarti hidup kita sempurna. Justru sebaliknya, syukur adalah keberanian untuk berkata, “Hidupku berantakan, tapi aku masih percaya Engkau tidak meninggalkanku.” Syukur adalah doa yang tidak selalu indah kata-katanya, tetapi jujur isinya.

Ada keheningan tertentu di awal tahun, ketika semua orang selesai merayakan dan dunia kembali biasa. Di sanalah banyak orang mulai berdialog dengan dirinya sendiri dan dengan Tuhan.

Doanya sederhana, kadang bahkan canggung: “Tuhan, aku tidak tahu harus bagaimana, tapi tolong jangan tinggalkan aku.” Dan doa seperti itu, meski terdengar rapuh, sering kali paling tulus.

Tahun baru juga mengajarkan bahwa tidak semua orang memulai dari garis yang sama. Ada yang memulai dengan penuh harapan, ada yang memulai dengan kelelahan. Ada yang membawa tabungan, ada yang membawa utang. Ada yang membawa rencana, ada yang hanya membawa diri yang masih bertahan. Semua itu sah. Hidup bukan lomba lari, melainkan perjalanan dengan rute yang berbeda-beda.

Kita mungkin sering iri terhadap hasil orang lain, tanpa melihat prosesnya. Kita ingin sukses seperti dia, tanpa mau jatuh seperti dia. Kita ingin bahagia seperti mereka, tanpa mau menangis seperti mereka.

Tahun baru datang untuk mengingatkan, kadang dengan cara yang tidak lembut, bahwa setiap orang punya waktunya sendiri-sendiri.

Jika tahun baru adalah sebuah puisi, ia bukan sajak tentang menawannnya kembang api, tetapi tentang bara kecil yang tetap menyala di dada. Bara yang bernama harapan. Harapan bahwa besok kita masih bisa mencoba lagi. Harapan bahwa Tuhan masih memberi kita kesabaran. Harapan bahwa luka tidak akan selalu terasa sedalam ini.

Betapa seringnya kita lupa bersyukur atas hal-hal yang terlihat remeh: bangun pagi tanpa rasa sakit yang berlebihan, makan tanpa rasa takut, tertawa tanpa harus berpura-pura. Tahun baru mengajak kita untuk memperhatikan hal-hal kecil yang sebenarnya adalah mukjizat yang terlalu biasa.

Tuhan tidak selalu mengubah keadaan, tetapi sering menguatkan hati. Kita meminta jalan yang mudah, Tuhan memberi kaki yang kuat. Kita meminta hidup yang tenang, Tuhan memberi kemampuan untuk bertahan di tengah badai. Entah mengapa, baru di akhir tahun kita sadar bahwa kita telah melewati begitu banyak hal yang dulu terasa mustahil.

Resolusi tahun baru seharusnya bukan daftar panjang, melainkan satu niat sederhana: hidup dengan lebih sadar. Sadar bahwa waktu terbatas. Sadar bahwa kita sering salah. Sadar bahwa kita butuh Tuhan, bahkan ketika ego berkata sebaliknya.

Hal paling menggelikan dari momen tahun baru biasanya adalah ketika kita berkata ingin berubah, tetapi masih nyaman dengan kebiasaan lama. Kita ingin hidup baru, tetapi enggan meninggalkan cara lama. Lalu Tuhan, dengan kesabaran yang acap kita remehkan, tetap memberi kesempatan.

Tahun baru adalah puisi yang belum selesai. Setiap hari adalah barisnya. Kadang rima indah, kadang terdengar sumbang. Tetapi selama kita masih menulis dengan jujur, cerita itu layak dilanjutkan.

Di penghujung corat-coret ini, mungkin yang paling pantas dinyatakan bukanlah janji besar, melainkan doa sederhana:

“Terima kasih, Tuhan, karena aku masih di sini.

Terima kasih untuk luka yang mengajarkanku.

Terima kasih untuk tawa yang menyelamatkanku.

Dan terima kasih untuk kesempatan baru, meski aku belum sepenuhnya siap.”

Karena pada akhirnya, tahun baru bukan tentang menjadi orang yang sempurna, tetapi tentang menjadi manusia yang bersyukur—yang jatuh, bangkit, tertawa, menangis, dan tetap percaya bahwa hidup ini, dengan segala kekurangannya, masih layak diperjuangkan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *