Hasil pertandingan Liga Inggris musim 2025/26 di minggu ke-22 menunjukkan persaingan yang menarik di papan atas klasemen sementara. Tim-tim yang berada di posisi teratas, khususnya mereka yang bersaing untuk masuk empat besar, mengalami hasil yang cukup berbeda.
Manchester City yang berusaha terus memberi tekanan kepada Arsenal kalah dari rival sekalinya, Manchester United (2-0) di Stadion Old Trafford (17 Januari 2025). Dengan strategi permainan yang tepat, MU berhasil menghentikan dominasi penguasaan bola dari Man City.
Saat Manchester City kalah, Arsenal justru melewatkan kesempatan emas. Tim yang dilatih oleh Mikel Arteta tersebut diimbangi oleh Nottingham Forest.
Akibatnya, Arsenal hanya mendapatkan 1 poin. Jika Arsenal yang saat ini berada di puncak klasemen sementara Liga Inggris musim ini berhasil meraih poin penuh, jarak dengan Man City bisa bertambah hingga 9 poin.
Debut Manis Michael Carrick
Pilihan “Setan Merah” mengangkat Carrick sebagai pelatih sementara memunculkan beberapa keraguan. Riwayat karier mantan kapten tim MU tersebut sebagai pelatih tidak terlalu mengesankan.
Mungkin catatan yang mengesankan Carrick terjadi ketika ia menjabat sebagai pelatih sementara MU setelah menggantikan Ole Gunnar Solkjaer. Pada masa itu, Carrick memimpin dalam tiga pertandingan sebagai pelatih pengganti.
Dalam tiga pertandingan tersebut, Carrick meraih dua kemenangan dan satu hasil imbang. Jika dijumlahkan dengan laga melawan Man City saat kembali menjabat sebagai pelatih sementara, Carrick telah mengantongi tiga kemenangan dan satu kali seri sebagai pelatih MU.
Di sini, Carrick memiliki catatan yang mengesankan sebagai pelatih MU dibandingkan di klub-klub lainnya. Meskipun hampir tiga musim telah berlalu sejak ia meninggalkan Old Trafford, Carrick masih membawa aura dan keberuntungan bagi MU.
Tidak tanggung-tanggung, debut pelatih yang dipekerjakan sementara oleh MU terjadi saat menghadapi Man City. Man City merupakan tim yang cukup stabil dalam musim ini.
Namun, Man City harus mengakui keunggulan taktik Carrick. Carrick yang pernah menjadi bagian dari masa kejayaan pelatih Sir Alex Ferguson menghadirkan kenangan lama tentang dominasi MU atas Man City.
Tidak diragukan lagi, Ferguson yang turut menyaksikan debut dari para pemainnya tidak mampu menahan rasa bahagianya. Carrick tampaknya membawa kembali “keberuntungan” MU sebagai tim yang menguasai kota Manchester.
Tentu saja, pertandingan pertama tidak bisa dijadikan patokan untuk menyatakan bahwa Carrick sudah menjadi pilihan yang tepat bagi MU. Namun, penampilannya dalam debut tersebut telah memberikan semangat bagi Carrick sebagai pelatih sekaligus membawa harapan baru bagi para penggemar klub Merah.
Ternyata keputusan Carrick bukanlah pilihan yang salah. MU justru tampil sangat mengesankan.
Tindakan Carrick yang mengandalkan Kobbie Mainoo bersama Casemiro di lini tengah berjalan dengan baik. Pemain muda yang pernah diabaikan pada masa Ruben Amorim berhasil menunjukkan kemampuannya sebagai pemain yang layak dianggap penting dalam tim MU.
Kemudian, Carrick berani menurunkan Bryan Mbeumo sebagai penyerang tunggal. Keberanian ini membuahkan hasil melalui efektivitas Mbeumo dalam mencetak gol pertama MU.
Carrick mengubah strategi yang sebelumnya diterapkan oleh Amorim. Pemain-pemain yang biasanya tidak dianggap penting juga turut dimainkan. Pemain yang sering tampil di bawah asuhan Amorim kini menjadi bagian dari rotasi tim.
Kemampuan Carrick dalam mengatur taktik bisa menjadi awal untuk mengungkap kelemahan sekaligus kekuatan MU. Dengan kemenangan yang meyakinkan di Old Trafford, Carrick mungkin bisa melihat potensi-potensi yang dapat dimanfaatkan sebagai pelatih sementara.
Kesia-siaan Hasil Imbang Arsenal
Saat Manchester City kalah, Arsenal memiliki peluang untuk memperlebar jarak dengan tim yang dilatih oleh Pep Guardiola. Namun, bermain di markas Nottingham Forest, Stadion City Ground (18 Januari 2026), Arsenal justru ditahan imbang.
Declan Rice dan rekan-rekannya terlihat kebingungan “di hutan” akibat strategi bertahan yang diterapkan oleh Forest. Arsenal yang mencatatkan 9 percobaan dengan 3 tembakan yang mengarah tepat ke gawang tidak mampu mencetak gol.
Beruntung bagi Arsenal yang menerapkan strategi efektif dalam mengatasi kekuatan Nottingham. Kinerja kuat di lini tengah dan pertahanan membuat Nottingham kesulitan untuk membahayakan “Meriam Merah.”
Arsenal seharusnya memanfaatkan kesempatan bermain di kandang Nottingham sebagai bekal untuk memperkuat posisi mereka di puncak klasemen. Namun, menghadapi tim yang berada di peringkat ke-17 klasemen sementara, Arsenal tampaknya kehilangan cara untuk meraih kemenangan.
Di sini, Arsenal mengalami nasib yang sama dalam dua pertandingan terakhir. Pada laga tersebut, Arsenal selalu mendapatkan hasil imbang meskipun berhadapan dengan tim-tim lawan dan gagal meraih poin penuh.
Dengan kata lain, ketika tim-tim lawan mengalami hasil yang buruk, Arsenal terlihat “kewalahan” dalam memanfaatkan kesempatan untuk meraih poin penuh. Jika Arsenal terus mempertahankan pola tersebut, hal ini bisa menjadi hambatan bagi mereka dalam menyelesaikan puasa gelar juara Liga Inggris.
Musim ini sebenarnya merupakan kesempatan berharga bagi Arsenal untuk tampil di puncak juara. Karena, tim-tim besar lainnya tidak terlalu konsisten dalam meraih poin penuh.
Selanjutnya, komposisi tim Arsenal lebih rumit, seimbang, dan secara umum telah terbukti dalam jangka waktu yang cukup lama di bawah arahan pelatih Arteta.
Oleh karena itu, hasil imbang Arsenal terasa seperti pemborosan yang dapat menjadi pelajaran untuk kesempatan berikutnya.
Salam bola
