Dari Ragu Hingga Berani Berpisah, Cerita Gen Z Hadapi Hubungan Toxik

Memahami Toxic Relationship

Ketika mendengar istilah “toxic relationship”, banyak orang langsung teringat pada kekerasan fisik, verbal, atau bahkan hal-hal yang berbau seksual. Namun, toxic relationship tidak selalu muncul dalam bentuk yang kasat mata. Bisa saja hubungan tersebut terasa seperti “rumah” yang seharusnya memberi kenyamanan, tetapi justru membuat seseorang merasa tidak aman dan tidak nyaman.

Dalam dunia media sosial, kita sering menemukan cerita-cerita tentang toxic relationship. Mulai dari pasangan yang menghina penampilan, meminta penuhan fetish, hingga sampai melakukan kekerasan fisik. Setelah itu, pelaku bisa meminta maaf dengan tindakan romantis, namun pola ini terus berulang. Hal ini sangat menakutkan karena terjadi di kehidupan nyata.

Bacaan Lainnya

Banyak orang tidak menyadari bahwa mereka sedang berada dalam hubungan yang tidak sehat. Ada yang berkata, “Sebenarnya dia baik, cuma kadang bikin capek.” Ada juga yang sudah sadar bahwa hubungannya tidak sehat, tetapi masih sulit untuk melepaskannya karena takut kehilangan atau takut sendirian.

Di sisi lain, ada orang-orang yang akhirnya berani meninggalkan hubungan tersebut. Mereka melihat bahwa hubungan tidak lagi memberikan kebahagiaan, melainkan hanya rasa cemas dan kecewa.

Pengalaman Orang-orang dalam Toxic Relationship

Salah satu teman saya, SA, masih berada dalam hubungan yang kurang sehat. Ia menggambarkan hubungannya sebagai rumit dan penuh konflik. Meskipun tidak secara langsung menyebut hubungannya sebagai toxic, SA mengakui bahwa masalah sering muncul ketika pasangannya merasa tersakiti dan menempatkan dirinya sebagai korban.

“Padahal aku ngerasa aku ngga ngapa-ngapain, tapi pasti selalu ada aja yang bikin ribut,” katanya. Meski begitu, SA tetap memutuskan untuk melanjutkan hubungannya hingga ke jenjang yang lebih serius.

Lain lagi dengan C, yang telah menjalin hubungan selama hampir 6 tahun. Ia menggambarkan hubungannya saat ini sebagai sesuatu yang hampa. Ia tidak lagi merasakan kebahagiaan, hanya rasa kecewa, takut, dan cemas. Red flags terbesar yang ia rasakan adalah perselingkuhan berulang. Pasangan C sering kali berselingkuh dan bahkan diam-diam menghubungi mantannya.

Proses keluar dari hubungan ini sangat berat bagi C. Ia harus belajar menerima dan memaafkan, meskipun prosesnya tidak mudah. Akhirnya, C sadar bahwa selama ini ia terjebak dalam toxic relationship dan memutuskan untuk keluar dari lingkaran setan tersebut.

Pandangan dari Pecandu Hubungan Sehat

AS dan AR adalah dua teman yang berhasil keluar dari toxic relationship. AS menilai bahwa toxic relationship adalah hubungan yang kehilangan keseimbangan dan saling menghargai. Menurutnya, hubungan menjadi tidak sehat ketika hanya satu pihak yang merasa paling berkuasa.

Ia juga menyoroti bagaimana manipulasi sering dibungkus dengan sikap manis di awal, sehingga banyak orang terjebak tanpa sadar. “Pinter-pinter pilih pasangan, jangan gampang kegoda bujuk rayu yang keliatannya romantis,” ujar AS.

Sementara itu, AR menyadari hubungannya toxic ketika pasangannya meminta AR untuk mengirimkan gambar tidak senonoh. Baginya, hubungan yang sehat adalah hubungan yang berjalan beriringan, bukan yang membuat satu pihak merasa dikendalikan atau direndahkan.

Setelah keluar dari hubungan tersebut, AR memahami bahwa rasa lelah dan tertekan yang dulu ia rasakan bukan bagian dari cinta yang sehat.

Kesimpulan

Toxic relationship tidak selalu muncul dengan tamparan atau teriakan. Bisa saja hadir pelan-pelan, dibungkus perhatian, dan dinormalisasi lewat kalimat, “gapapa, nanti juga berubah.”

Jika hubungan yang kamu jalani hari ini lebih sering bikin kamu capek daripada tenang, mungkin masalahnya bukan di kamu. Mungkin, itu memang bukan cinta yang sehat.

Pos terkait