Di tengah perubahan mendasar dalam struktur kekuasaan global, perempuan kini sedang mengambil alih peran sentral dalam menentukan arah dunia. Dari bidang teknologi hingga politik dan keuangan, wanita-wanita paling berpengaruh di dunia tahun ini menunjukkan pengaruh yang mendalam dan luas. Daftar Forbes Power Women 2025 menyoroti peran mereka dalam memimpin inisiatif-inisiatif strategis yang akan membentuk masa depan.
Perempuan yang Mengubah Dunia
Berikut adalah 10 wanita paling berpengaruh dan berkuasa di dunia pada 2025:
-
Ursula von der Leyen – Presiden, Komisi Eropa, Uni Eropa
Ursula von der Leyen resmi menjabat sebagai presiden Komisi Eropa pada Juli 2019. Dia adalah wanita pertama yang menjabat posisi tersebut, yang bertanggung jawab atas legislasi yang memengaruhi lebih dari 450 juta warga Eropa. Sebelumnya, dia menjabat di kabinet Angela Merkel selama 14 tahun, termasuk sebagai menteri pertahanan Jerman. Pada Juli 2024, dia terpilih kembali untuk masa jabatan kedua, dengan fokus utama pada memperkuat demokrasi Eropa. -
Christine Lagarde – Presiden, Bank Sentral Eropa
Lagarde menjadi wanita pertama yang memimpin Bank Sentral Eropa sejak 2019. Sebagai kepala kebijakan moneter Eropa, dia menghadapi tantangan besar dalam menjaga pertumbuhan ekonomi di tengah inflasi tinggi. Sebelumnya, dia memimpin Dana Moneter Internasional (IMF) dari 2011 hingga 2019. Lagarde juga dikenal sebagai pembela kesetaraan gender dalam industri yang didominasi pria. -
Sanae Takaichi – Perdana Menteri, Jepang
Sanae Takaichi menjadi perdana menteri Jepang pertama dalam sejarah negara itu. Ia dikenal sebagai tokoh konservatif yang sering menyebut Margaret Thatcher sebagai panutan. Selama bertahun-tahun, ia memegang berbagai posisi penting di Partai Demokrat Liberal (LDP), yang semakin condong ke kanan. Saat ini, Jepang menghadapi tantangan seperti inflasi dan stagnasi upah. -
Giorgia Meloni – Perdana Menteri, Italia
Giorgia Meloni menjadi wanita pertama yang menjabat sebagai perdana menteri Italia. Ia juga presiden partai sayap kanan Italia, Brothers of Italy, yang ia dirikan pada 2012. Meloni memiliki latar belakang politik nasionalis dan telah memperjuangkan agenda konservatif sosial serta kebijakan proteksionis. -
Claudia Sheinbaum – Presiden Meksiko
Claudia Sheinbaum mencetak sejarah sebagai presiden wanita pertama Meksiko. Lahir dari keluarga Yahudi, ia juga presiden Yahudi pertama di negaranya. Sebelum menjadi presiden, ia menjabat sebagai walikota Mexico City dan memperkenalkan sistem transportasi baru. Sheinbaum juga merupakan ilmuwan dengan gelar Ph.D. di bidang teknik energi. -
Julie Sweet – Ketua & CEO Accenture
Julie Sweet menjadi CEO Accenture pada 2019. Sebelumnya, ia menjabat sebagai penasihat umum dan kepala wilayah Amerika Utara. Sweet juga aktif dalam berbagai organisasi bisnis dan menekankan pentingnya keberagaman. Menurutnya, budaya kesetaraan tidak hanya bermanfaat bagi wanita, tetapi juga bagi seluruh individu. -
Mary Barra – CEO General Motors
Mary Barra menjadi CEO GM sejak 2014 dan merupakan wanita pertama yang memimpin salah satu produsen mobil besar di AS. Dia telah menginvestasikan miliaran dolar dalam kendaraan listrik dan otonom. Meskipun GM mengalami pemangkasan tenaga kerja, Barra tetap berkomitmen pada investasi di pabrik manufaktur domestik. -
Jane Fraser – Ketua & CEO Citi
Jane Fraser menjadi CEO Citi pada 2021 dan merupakan wanita pertama yang memimpin bank besar Wall Street. Sebelumnya, ia menjabat sebagai presiden Citigroup dan CEO Global Consumer Banking. Fraser juga dipilih sebagai ketua dewan direksi Citi untuk memastikan kontinuitas kepemimpinan. -
Abigail Johnson – Ketua & CEO Fidelity Investments
Abigail Johnson mengambil alih kepemimpinan Fidelity Investments dari ayahnya pada 2014. Kakeknya, Edward Johnson II, mendirikan perusahaan ini pada 1946. Johnson telah mengadopsi mata uang kripto dan meluncurkan platform penyimpanan bitcoin untuk investor institusional. -
Lisa Su – CEO AMD
Lisa Su menjadi CEO AMD pada 2014 dan telah memimpin perusahaan dalam revolusi teknologi. Pendapatan AMD meningkat secara signifikan selama masa kepemimpinannya. Su bersiap untuk bersaing dengan Nvidia dalam revolusi AI. Ia lahir di Taiwan dan tumbuh di New York City sejak usia 3 tahun. Su memiliki latar belakang pendidikan teknik elektro dan pernah bekerja di Texas Instruments, IBM, dan Freescale sebelum bergabung dengan AMD.







