Contoh Khutbah Jumat: Makna Umur Panjang

Khutbah Jumat: Memaknai Hakikat Umur Panjang

Khutbah Jumat kali ini mengajak kita untuk memahami makna sebenarnya dari umur panjang. Umur yang panjang merupakan anugerah dari Tuhan, dengan umur yang panjang juga harapannya manusia dapat berbuat kebaikan yang banyak. Materi khutbah ini bertujuan untuk mengingatkan bahwa diberikan umur panjang tidak otomatis berarti usia sampai tua renta. Dengan demikian, siapa saja yang diberikan kesempatan hidup untuk mengisi dengan kegiatan yang bermanfaat.

Kebahagiaan dalam Beramal

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Kita layak bersyukur lantaran diberikan nikmat iman dan sehat sehingga dapat melaksanakan kewajiban shalat Jumat berjamaah. Semoga seiring dengan bertambahnya waktu, maka kita akan terus meningkatkan takwallah dengan menjalankan perintah dan menjauhi yang dilarang, amin ya rabbal alamin.

Bacaan Lainnya

Jamaah Jumat yang Berbahagia

Umumnya orang berdoa kepada Allah Subhanahu Wa Taala agar diberi umur panjang. Sedikit sekali atau bahkan mungkin tidak ada orang yang menginginkan berumur pendek. Mereka tentu memiliki alasan masing-masing. Namun umumnya alasan mereka adalah karena ingin memiliki amal baik yang cukup semasa hidupnya sebagai bekal hidup abadi di akhirat.

Hadits tentang Orang Terbaik

Hadits Rasulullah Shallahu Alaihi Wasallam menyebutkan:

“Wahai Rasulullah, siapakah sebaik-baik manusia? Beliau menjawab: Orang yang panjang umurnya dan baik amalannya.” (HR Tirmidzi).

Hadits ini telah menginspirasi banyak orang untuk senantiasa berdoa kepada Allah Subhanahu Wa Taala agar diberi umur panjang. Mereka telah meyakini bahwa salah satu tanda orang terbaik adalah apabila seseorang berumur panjang dan hidupnya penuh dengan aneka amal kebaikan.

Makna Sebenarnya dari Umur yang Baik

Namun demikian adalah kenyataan bahwa tidak setiap orang berumur panjang meski mereka berdoa demikian. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah bagaimana dengan mereka yang berumur pendek? Apakah mereka dengan sendirinya tidak termasuk orang-orang terbaik?

Dari penjelasan Allamah Sayyid Abdullah bin Alawi al-Haddad dalam kitabnya, disebutkan bahwa:

“Sebaik-baik umur ialah yang diberkati Allah Subhanu Wa Tala, yang diberi taufik untuk mengerjakan amalan salih dan kebajikan-kebajikan lain baik yang khusus maupun yang umum.”

Jadi kebaikan seseorang sebetulnya tidak semata-mata bergantung pada umurnya yang panjang, tetapi lebih pada seberapa banyak amal kebaikan yang dilakukannya semasa hidupnya. Penjelasan ini sesuai dengan hadits Rasulullah di atas.

Contoh Orang-orang Saleh

Orang-orang seperti ini termasuk orang-orang terbaik karena mampu memanfaatkan umurnya yang pendek untuk berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya. Inilah umur yang penuh dengan berkah dari Allah Subhanahu Wa Taala. Contohnya adalah Abu Abdullah Muhammad ibn Idris asy-Syafii, atau yang lebih dikenal dengan nama Imam Syafií. Beliau wafat dalam usia 54 tahun. Meski usia beliau tidak panjang, namun semasa hidupnya mampu menghasilkan banyak kebaikan seperti karya-karya yang sangat penting bagi kaum muslimin.

Pemahaman yang Lebih Luas

Dari apa yang dijelaskan dan dicontohkan oleh Sayyid Abdullah al-Haddad di atas sangatlah jelas bahwa pemahaman literal tentang umur yang baik hanyalah umur panjang yang dipenuhi dengan kebaikan masih memiliki kekurangan. Pemahaman ini memang tidak salah, hanya belum akomodatif terhadap fakta bahwa banyak orang salih tidak berumur panjang.

Orang-orang seperti ini meskipun tidak berumur panjang, namun amal-amal kebaikannya sangat banyak sebagaimana Imam Syafií dan Imam al-Ghazali. Oleh karena itu, sekali lagi, sebaik-baik umur adalah umur yang diberkati Allah Subhanahu Wa Tala. Hal ini meliputi umur panjang dan banyak digunakan untuk melakukan amal-amal salih dan kebajikan-kebajikan lain.

Batasan Umur dalam Islam

Batasan umur panjang di kalangan umat Islam, memang tidak ada patokan khusus yang disepakati bersama. Hanya kebanyakan umat Islam menjadikan umur Rasulullah shallahu alaihi wa sallam yang mencapai 63 tahun sebagai standar. Artinya mereka yang mencapai umur di atas 63 tahun diyakini telah mendapatkan bonus umur dari Allah Subhanahu Wa Tala.

Sedangkan mereka yang tidak mencapai umur 63 tahun, semisal 50-55 tahun, atau kurang dari itu seperti Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang wafat dalam usia kurang dari 40 tahun termasuk berumur pendek sebagaimana dijelaskan Sayyid Abdullah al-Haddad dalam kitab tersebut di atas. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang memiliki umur yang diberkati Allah Subhanu Wa Tala. Amin ya rabbal alamin.

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *