Cerpen Nurliani Sudrajat

Tentang Dia yang Terbaik

Cerpen Nurliani Sudrajat

“Seorang yang terbaik memang takkan ada marahnya, tetapi, walaupun hubungan spesialnya sudah lama berakhir itu harus saling silaturahmi dengan dianggap saudara sendiri, suatu saat masih ada harapan atau tidak, do’a yang terbaik saja untuk ke depannya.”

Bacaan Lainnya

~ Liya

Suatu hari ada seorang wanita hijab periang yang sangat penyuka banyak bunga, dan juga tiga warna (Merah,pink,biru). Halo, Namaku Nurliani Sudrajat atau biasa di panggil Liya, umurku sekarang pastinya sudah kepala dua (24 tahun). Kisahku pada tahun 2024 ini akan banyak kenangan yang takkan saya terlupakan, terutama mengenal sosok dia yang baik hati dan juga ramah.

Perjalanan waktu pada tahun ini kepada tahun berikutnya, pastinya suatu hal yang harus ku ubahkan lebih baik lagi, supaya dia bisa lebih mengerti, dan masih mengenal denganku ini.

Pada bulan Januari lalu …

Aku itu sedang mengikuti sekolah puisi di tempat gedung yang sangat luas sekali, rasanya ingin betah ketika memulai belajar mengenali dengan puisi dan sastranya. Oh iya, saat kukenal dengan kepala sekolahnya itu bernama Kak Cindy, sejak setahun yang lalu bertepatan 26 Agustus 2023 di saat seminar yang sangat diselenggarakan oleh komunitas-komunitas literasi itu.

Kak Cindy menawarkan poster yang ada di chat pribadiku pada saat masih di Rumah, dan pada akhirnya aku itu mau sekali untuk hal itu.

“Kalau kamu mau, silakan penuhi persyaratan nya ya, Dek Liya,” Suruh Kak Cindy.

Aku bertanya, “Emang alamatnya di mana ya, Kak?”

“Nanti ku kasih sharelock ya, Dek.” Senyum Kak Cindy.

“Siap, Kak!”

Keesokkan harinya … setelah sampai ke Tempat yang di tuju.

Nah, aku sudah siapkan berkasnya dan barang-barang yang harus menginap di asrama itu, tiba-tiba tabraklah aku dengan cowok yang sangat rapi dan pendingin itu.

“Aduhh!!!”

Cowok pendingin berkata, “Ya Allah, Mbak! Saya mohon maaf ya, nggak sengaja nih, soalnya mau buru-buru ke ruang Kak Cindy lho,”

“Oalah, iya, gapapa lah, Mas. Sama dong, kita ke sana saja ya supaya tidak terjadi nyasar,” Ramahku.

Cowok itu kaget, “Masya Allah, ternyata mbak ini sangat baik, terima kasih ya, Mbak,”

“Sama-sama, Mas” Jawabku.

**

Setelah sebulan kemudian, aku sudah lama berposisi dengan kelompok sepuluh di mana wali kelasnya itu adalah Kak Hazna, dan beberapa orang yang baru aku kenal dengan baik. Namun, saat diskusi panel itu dimulai dari kelompok satu sampai akhirnya kelompok sepuluh, setelah adanya kelompok empat adalah perkumpulan nya cowok pendingin itu! Ya, siapa lagi jika dia saat itu jadi moderator bersama Fida.

Saat aku menyimakin mereka tadi, ‘Waduh, ternyata yang cowok yang ku temuin itu namanya Alif Iqbahtullah ya? Bagus juga ihh … ahhh dia umur berapa sih? Pasti masih muda tho,’

Laila, teman sekelompokku yang telah kagetin aku, “Dorrr! Hayooo Kak Liya, naksir sama orang itu kan?”

“Helehh … nggak kok, malahan justru aku belum kenal aja sama dia,” Bohongku itu sengaja supaya lainnya tidak ketahuan.

Saat lainnya melanjutkan, ‘Dia itu pintar juga modertatornya ya, keren sih duhhh pokoknya best banget dehh’ gumamku lagi.

Pada beberapa jam kemudian, saat kelompok sembilan sudah selesai, giliran kelompokku yang akan diskusi panel, di sana itu aku jadi modertator yang ditemani dengan laila agar acaranya akan tetap lancar.

Teman sekelompoknya itu ada temanku, Gita. Dia memang usil dengan cowok pendingin itu.

“Kak Alif, bangun dong!” pukulnya

Cowok pendingin itu menajamkan mata, “Hmm apa? Ini sekarang kelompok berapa, Git?”

“Kelompok terakhir, nah itu moderator nya yang satu ku kenal sih,” Gita itu tahu siapa aku, mestinya sudah kenal sejak lama.

Cowok itu terkejut, “Hah?! Kamu kenal cewek berhijab pink itu?”

“Iya, Kak Alif. Dia itu Kak Liya namanya, memanglah serba bisa … mulai dari modertator acara, jadi admin, jadi penyanyi dan pokoknya begitu deh!” Ceria Gita pada Cowok pendingin.

‘Hmm … Liya namanya? Masya Allah, pantesan dia baik dan periang begitu deh dengan senyumnya,’ Gumamnya

Gita sentuh bahunya, “Hey, Kak Alif! Kok melamun?”

“Ehh! Maaf-maaf, Git. Jadi, yang tadi Nurliani Sudrajat itu teman kamu ya?” Selanya

Gita mau cerita, “Iya dong, dari saya jadi membernya sana, maka dari itu, sampai sekarang memang masih kok, tenang aja kalau dia nggak akan galak, beda dari yang lain, Kak.”

“Ohh … aku udah paham, makasih ya,” Pahamnya Alif itu akan suatu saat lebih mengenal denganku.

Dalam kelompokku itu, sudah sukses dalam kegiatan semua yang Sekolah puisi, tapi sayang tidak ada yang juara sama sekali, tidak apa-apa … pastinya, semua akan lulus dengan terbaik sesuai kehadiran selama ini.

*

Empat bulan kemudian …

Di saat masih di rumah Barokah yang besar dan nan putih itu, salah satu bagian admin tersebut yang bernama Dicky telah membawa brosur saat pulang secara cepat sekali.

“Asalamualaikum, Teh Liya!” Salamnya

Aku menjawab, “Iya Walaikumsalam, ada apa, Dek? Kok ngos-ngosan begitu? Duduklah di sofanya,”

Dicky memberitahu, “Gini Teh, aku kan udah daftar jadi Admin pemateri di sana, Teh Liya mau Admin grup kan?” sambil menyerahkan satu lembar brosur Dream team itu kepadaku.

“Wah, mau banget! Nanti ya aku siapin dulu berkasnya oke! Kamu tunggu di sini, Dek” Riangnya aku sampai ingin mempersiapkan untuk pendaftaran jadi calon admin tersebut.

Dicky akan menungguku dengan agak lama sekali, dan akan pergi dengan motor karena jaraknya ke Kantor Dream Team itu dua jam dari rumah barokah.

“Teh, ini sudah sampai …, Tapi, aku harus pergi kerja lagi di tempat itu, buru-buru soalnya,” gegas Dicky hampir pergi.

Aku teriaknya, “Hey, ini Teteh Liya mau daftar kemana, Dek?”

“Di Ruang Ketua Umum, Teh! Dah, semoga berhasil!” Kata Dicky yang mendahului ke ruangan itu.

‘Ish, Dek Dicky mah agak lain ya? Ya sudah deh aku masuk sendirian, Bismilah …’ keluhku sebuah keyakinan untuk daftar yang Dicky maksud.

Beberapa jam kemudian …

Setelah sampai di depan Ketua Umum, aku memulai masuk dan mengucap salam.

“Asalamualaikum, selamat pagi, Kak,”

“Walaikumsalam, mari duduk dulu, Kak. Oh mau daftar jadi admin ya? Baik, perkenalkan dirimu dulu,” Jawabnya dengan sangat tidak asing di mataku.

Aku malu, tapi harus percaya diri sambil menyerahkan persyaratan yang ada, “Siap, Kak. Namaku Nurliani Sudrajat, Salam kenal ya, Kak. Insya Allah mungkin jadi Admin grup, masih ada ruang kosongnya kah, Kak?”

“Oh, iya, Kak Nurliani Sudrajat. Salam kenal kembali untuk kamu, dan Namaku Alif Iqbahtullah selaku dari Dream Team di sini, Alhamdulillah sih masih ada, Oke, saya terima ya, selamat bekerja.” Senyumnya itu takkan berubah seperti bulan yang lalu.

Ku kaget, ‘Tuh kan, dia teh nggak salah kalau masih baik juga ke aku, Subhanallah!’

“Kak Nurliani? Haloo …! Hemm!” Dia melambaikan diriku sehingga lamunan ku sudah sadar.

Tetapi, aku terlihat sangat bersyukur, “Eh! Alhamdulillah, terima kasih banyak, Kak.”

“Mari saya saja yang mengantarkan Kakak,” Tawarnya dan aku akan tuturnya.

**

Bulan November yang tiba dengan sangat ku tunggu, jabatan di Dream team semakin bertambah, mulai sebelumnya dari Anggota Divisi Dream Team sampai sudah jadi Koordinator admin grup sebagai pengganti Neng Alvi.

Aku mengatakan, “Kak Cindy, sebentar lagi aku ulang tahun lho tanggal 11 November ini,”

“Saya juga Kak Cindy, kebetulan 16 November itu juga sedang bertambah nya umurku,” Sambung Alif.

“Oalah, ayo bikin acara pesta ulang tahun kalian ya!” Ceria Cindy

Aku terlihat curiga, “Kak Alif, emang beneran nanti ulang tahun November juga?”

“Iya dong, Adek Liya.” Senyum lebarnya itu bikin aku senang.

Kami memang sudah jadian pada tiga November di tempat yang sangat rahasia, dan memberitahu semua orang yang membuat senang, tapi, kami berdua tersebut sudah tidak bisa diteruskan karena terhalang restu dari orang tuanya Kak Alif sendiri, dan terakhir dia pernah bilang padaku.

“Semoga bisa menerima iyah adek. Iyah kita jalanin seperti kakak dan adek, seperti biasanya Iyah adek.”

“Baiklah, Kak. Aku sendiri sudah mengikhlaskan kalau kejadian seperti itu, Kak.” Senyum sedihku memang sudah menerima perihal itu.

Suatu saat jika tahun depan itu, terutama 2025 itu memang sementara sebagai saudara sendiri dulu, sehingga kami itu sama-sama susah melupakan kenangan yang lalu itu.

Aku masih jadi jabatan sekarang, merindukan bercandanya dia, tapi, sekarang sudah berbeda karena profesional nya harus kuat sehingga nggak seperti dulu lagi.

‘Hmm … Kak Alif, sebenarnya itu Adek susah move on, apa kalau ngomong dia lagi, takutnya risih lagi,’ Sedihku yang banyak melamun di ruang Koordinator Admin grup itu.

Kak Cindy membuka pintu, “Eh, Dek Liya kenapa? Kok nangis gini?”

“Kak Cindy … (peluk) Dia kok bisa secuek gitu ya ke aku?” Air mataku susah juga menahan ternyata.

Kak Cindy menyuruhku duduk dan memberi nasihat, “Hey, aku udah lihat sendiri, kalau kalian itu berbeda ya? Sabar, Dek Liya … Adek termanisku, jangan sedih ya. Move on yuk,”

“Aku pas putusnya aja udah terlalu tegar, tapi, gimana ya, Kak? Aku nggak bisa lho,” Mataku masih berkaca-kaca.

Kak Cindy memelukku, “Dek Liya, gini ya dia nggak bakalan benci kamu kok, mungkin dia lupa sesuatu dan makanya kecapean saja habis ada kegiatan lainnya.”

“Dan satu hal lagi, aku pernah bicara Alif dari kemarin, bahwa dia masih menyukaimu walaupun saat ini masih sementara jadi Adik kakak, pertahanlah!” terusin sama Kak Cindy itu bikin haru sekali.

Aku ulurkan tangannya, “Yang beneran, Kak? Ya Allah, sepertinya dia posisi sama sepertiku, baiklah aku akan bertahan padanya ya, terima kasih, Kak Cindy!”

“Sama-sama, Dek. Semangat ya.” Senyum Kak Cindy.

Akhirnya memang tahun berikutnya itu, semua perjalanan mengenal dia di tahun 2024, semoga tahun 2025 itu akan terus jadi harapan ataupun tidak kedepannya.

TAMAT

Tasikmalaya, 30 Desember 2024

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *