Cashback, poin, dan kopi gratis: Cara kami menikmati liburan tanpa boros

Dua hari makan di luar, tetap kulineran dan ngopi, tapi pengeluaran tetap terkendali. Bukan karena menahan diri berlebihan, melainkan karena kami memanfaatkan promo, poin, dan kebiasaan kecil yang sering terlupakan.

Bagi kami, liburan hampir selalu identik dengan satu hal: makan-makan.

Bacaan Lainnya

Rasanya hampa jika hanya jalan-jalan tanpa makan di luar. Makan adalah healing tersendiri buat kami, tentunya dengan tetap menjaga kualitas: halal dan thoyyib.

Selain itu, dalam liburan juga ada kebahagiaan sendiri untuk saya, dalam artian: kurang-kurangin masak di rumah. Hehe.

Namun, beristirahat bukan berarti menghamburkan. Kami ingin tetap menikmati hari, tanpa membuat dompet ikut lelah.

Bagaimana caranya?

Dua hari ini, kami memanfaatkan promo dari dua aplikasi bank digital syariah yang menemani keseharian kami.

Hari pertama, kami makan di salah satu restoran keluarga. Tak lama setelah membayar, notifikasi masuk: cashback yang cukup besar Rp50.000.

Keesokan harinya, kami kembali makan di luar, di restoran cepat saji ala jepang favorit kami. Dan lagi-lagi, cashback Rp50.000 kembali kami terima.

Dua hari makan di luar, total pengeluaran kami bahkan tak menyentuh Rp200.000, sekitar seratus ribu lebih sedikit.

Kami memang tidak memesan minuman, sebab air putih selalu kami bawa dari rumah. Hal sederhana yang sudah menjadi kebiasaan kami. 

Lalu, bagaimana dengan kopi?

Ada satu hal yang sulit saya tinggalkan saat jalan, yaitu jajan kopi.

Melalui aplikasi pembayaran digital, saya sering mendapat cashback Rp10.000 saat membeli kopi. Lalu suatu hari, saya juga iseng mengecek aplikasi keanggotaan kopi. Ternyata, poin yang terkumpul sudah cukup untuk ditukar dengan beberapa cup kopi gratis.

Saat menyeruput kopi itu, saya tersenyum sendiri, “Alhamdulillah.., kopi gratis memang lebih mantap rasanya. Hahaa.”

Dari pengalaman kecil kami, inilah beberapa langkah sederhana yang bisa dicoba siapa saja:

1. Fokus pada kebersamaan.

Liburan tidak harus jauh. Berjalan sebentar di pusat perbelanjaan lalu duduk berdua di meja makan sudah bisa menjadi momen berharga.

2. Manfaatkan promo akhir tahun.

Banyak diskon dan cashback besar menjelang akhir tahun sampai awal tahun baru. Sering-sering mengecek aplikasi atau story instagram bank digital kita agar tidak ketinggalan promonya.

3. Gunakan benefit bank digital, jauhi kartu kredit.

Tetaplah bergaya sesuai kemampuan. Jangan berhutang, apalagi hanya demi jajan di luar atau urusan makanan. Nikmati yang ada, bukan memaksakan yang tiada.

4. Manfaatkan poin F&B.

Sekecil apa pun belanja, tetap masukkan nomor member. Sedikit demi sedikit, poin itu bisa menjelma menjadi satu cup kopi gratis. Jangan lupa cek menjelang libur panjang akhir tahun ya. Bisa menjadi kejutan yang menyenangkan tentunya.

Beginilah cara kami berlibur.

Tak selalu jauh, tak selalu mahal, tapi selalu berusaha kami maknai.

Promo, poin, dan cashback hanyalah alat. Yang membuat semuanya terasa berharga adalah bagaimana cara kita mensyukurinya. Sedikit jika pandai mensyukuri, maka akan terasa luar biasa nikmatnya, pun sebaliknya. Sebanyak apapun yang kita dapat, jika tak pandai mensyukuri, maka akan sulit untuk bahagia. 

Dan yang harus selalu kita ingat, rezeki dari Allah juga harus dijaga. Tetap bergaya sesuai kemampuan agar tidak berbalik menjadi beban di hari kemudian.

Alhamdulillah, kami bersyukur sekali.

Dari meja makan yang sederhana itu, kami kembali belajar:

Ketenangan tidak selalu menunggu di tempat jauh. Kadang, ia hadir dalam sepiring makanan hangat dan secangkir kopi yang diminum dengan penuh rasa terima kasih. 

Terima kasih kepada Allah, Sang Pemberi Rezeki. Dan terima kasih pula kepada pasangan, karena di balik setiap kebahagiaan kecil selalu ada peran yang saling mendukung dan melengkapi. 

Intinya, sejauh apa pun langkah liburan kita, dekat atau jauh, tetaplah bersyukur. Berbahagialah dengan versi kita masing-masing, dengan cara yang jujur sesuai kemampuan. 

Disitulah kami menemukan arti liburan yang sesungguhnya: bukan tentang seberapa jauh melangkah, melainkan seberapa dalam kami mampu mensyukuri.

Pos terkait