Capaian komitmen iklim sepanjang 2025, geliat investasi EBT hingga kebijakan melawan Trump

, JAKARTA — Perkembangan komitmen iklim global sepanjang 2025 cenderung berjalan di tempat. Emisi gas rumah kaca global terus meningkat, sementara target penurunan emisi di banyak negara belum bergerak signifikan dan masih jauh dari jalur aman untuk mencegah krisis iklim yang lebih parah.

Ironi tersebut tampak makin jelas dengan kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang secara terbuka menarik kembali sejumlah agenda iklim dan menentang transisi energi bersih. Namun demikian, di balik stagnasi kebijakan dan tekanan politik tersebut, 2025 tetap mencatat sejumlah kemajuan monumental dalam upaya dekarbonisasi global.

Bacaan Lainnya

Secara struktural, Energy and Climate Intelligence Unit (ECIU) mencatat bahwa dunia bergerak lebih cepat menuju ekonomi rendah karbon dibandingkan dengan satu dekade lalu. Investasi global untuk transisi energi bersih, mulai dari energi surya, angin, baterai, hingga penguatan jaringan listrik, diperkirakan mencapai rekor baru sebesar US$2,2 triliun pada 2025. Arus modal ini mencerminkan perubahan fundamental dalam sistem energi global, meski belum cukup untuk sepenuhnya menahan laju pemanasan global.

“Apakah ini cukup untuk menjaga kita tetap aman? Jelas belum. Namun, jika dibandingkan dengan arah yang kita tuju sepuluh tahun lalu, ini adalah kemajuan yang sangat signifikan,” kata Gareth Redmond-King, international lead di ECIU, dikutip dari Bloomberg.

Tahun ini juga menjadi tonggak ketika kapasitas pembangkit energi terbarukan mencapai rekor baru, harga baterai makin terjangkau, dan perlindungan terhadap laut lepas memasuki fase yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Di sisi lain, pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) mempercepat riset iklim dan meningkatkan akurasi prakiraan cuaca. Di tengah dampak perubahan iklim yang kian nyata, masyarakat dan perekonomian global juga mulai memiliki lebih banyak instrumen untuk memitigasi risiko.

Berikut adalah sejumlah kemajuan dalam aspek iklim yang dihimpun oleh Bloomberg.

Booming Energi Bersih

Investasi global pada teknologi bersih tercatat jauh melampaui pendanaan untuk industri berbasis bahan bakar fosil. Setiap US$1 yang dialokasikan untuk proyek fosil, sekitar US$2 mengalir ke energi bersih. Pada negara-negara pengemisi terbesar dunia seperti China, Uni Eropa, Amerika Serikat, dan India, rasio tersebut bahkan mencapai US$2,6.

Pada paruh pertama 2025, aliran dana ke sektor energi terbarukan kembali mencetak rekor dan meningkat 10% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dengan nilai mencapai US$386 miliar menurut kalkulasi BloombergNEF. Pertumbuhan energi surya dan angin bahkan mampu memenuhi seluruh tambahan kebutuhan listrik global pada tiga kuartal pertama 2025.

Dalam tiga tahun terakhir, kapasitas energi terbarukan tumbuh rata-rata hampir 30%. Laju ini menempatkan dunia pada jalur yang relatif dekat dengan target untuk melipatgandakan kapasitas energi bersih pada 2030.

China menjadi motor utama pertumbuhan ini dengan kontribusi sekitar dua pertiga dari penambahan kapasitas surya dan angin global sepanjang 2025. Perkembangan signifikan juga terjadi di sejumlah negara Asia, Eropa, dan Amerika Selatan.

Peran AI dalam Transisi Iklim

Lonjakan kebutuhan listrik akibat pesatnya perkembangan AI turut menghidupkan kembali minat investasi pada teknologi hijau. Sepanjang tiga kuartal pertama 2025, investasi global untuk teknologi bersih yang didominasi oleh reaktor nuklir generasi baru, energi terbarukan, dan solusi pendukung pusat data telah melampaui total investasi sepanjang 2024. Angka ini menjadi kenaikan tahunan pertama sejak puncaknya pada 2022.

Antusiasme pasar juga mendorong peningkatan investasi pada infrastruktur jaringan listrik, tulang punggung transisi energi global. Selain itu, AI berperan penting dalam menghadirkan solusi iklim baru, mulai dari optimalisasi rute kendaraan listrik otonom, perlindungan infrastruktur dari cuaca ekstrem, hingga pemantauan keanekaragaman hayati dan peningkatan akurasi prakiraan cuaca.

Harga Baterai Terus Turun

Harga baterai yang selama ini menjadi kendala utama elektrifikasi terus mengalami penurunan. Pada 2025, harga baterai per kilowatt-jam (kWh) turun 8% menyentuh rekor terendahnya di US$108 dan diperkirakan turun lagi pada 2026. Penurunan ini didorong oleh efisiensi manufaktur, formulasi kimia yang lebih murah, serta kelebihan kapasitas produksi.

Turunnya harga baterai memperbaiki keekonomian berbagai produk, mulai dari kendaraan listrik hingga sistem penyimpanan energi skala besar. Penyimpanan energi dinilai menjadi kunci untuk menampung listrik dari pembangkit surya dan angin, lalu menyalurkannya kembali saat beban puncak.

Kemajuan Kerja Sama Global

Di tengah mundurnya kebijakan iklim di sejumlah negara, komunitas global tetap mencatatkan kemajuan penting. Perjanjian perlindungan laut lepas akhirnya memperoleh ratifikasi yang cukup dan akan mulai berlaku pada awal 2026. Kehadiran perjanjian ini bakal membuka jalan bagi perlindungan sekitar 60% wilayah laut dunia yang berada di luar yurisdiksi negara mana pun.

Selain itu, Mahkamah Internasional mengeluarkan putusan penasihat yang menegaskan bahwa negara dapat dianggap melanggar hukum internasional jika tidak berupaya menahan pemanasan global pada ambang 1,5 derajat Celsius. Putusan ini dinilai berpotensi memperkuat tekanan terhadap pemerintah untuk meningkatkan aksi iklim.

Adaptasi Iklim Mulai Menguat

Pendanaan untuk adaptasi perubahan iklim juga menunjukkan tren meningkat. Komitmen pendanaan baru diarahkan untuk memperkuat ketahanan petani, infrastruktur, dan komunitas rentan. Instrumen keuangan seperti obligasi bencana (catastrophe bonds) mulai dimanfaatkan tidak hanya untuk menutup kerugian, tetapi juga untuk mendanai upaya pencegahan dan adaptasi terhadap cuaca ekstrem.

Secara keseluruhan, meski 2025 menegaskan bahwa dunia masih jauh dari jalur aman iklim, tahun ini juga memperlihatkan fondasi transisi energi dan adaptasi yang makin kuat. Tantangannya kini adalah memastikan laju kemajuan tersebut mampu mengejar urgensi krisis iklim yang terus membesar.

Pos terkait