Butuh Cepat, Turunkan Alat Berat ke Lokasi Banjir Sumatera



JAKARTA

Pemerintah telah mengerahkan alat berat ke lokasi banjir di Sumatera sejak pekan lalu. Tapi, berapa jumlah alat berat yang dimiliki Indonesia? Menteri Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menegaskan bahwa pengerahan alat berat menjadi prioritas utama penanganan bencana ini. Fungsi alat-alat berat adalah memulihkan akses transportasi yang rusak parah agar bantuan kemanusiaan dapat segera menjangkau wilayah terdampak.

“Yang paling mendesak adalah memang menggelar secara cepat alat-alat berat untuk memperbaiki jalur-jalur transportasi yang rusak dan hancur,” kata AHY ditemui di Lapangan Tembak Brigade Parako I Pasgat, Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Minggu (14/12/2025). AHY menambahkan, kecepatan distribusi bantuan menjadi faktor penentu dalam menyelamatkan dan melindungi masyarakat terdampak. Penyaluran bantuan kemanusiaan, lanjut AHY, dilakukan melalui berbagai moda transportasi, mulai dari udara, laut, hingga darat. Seluruh mekanisme distribusi telah dikoordinasikan lintas kementerian dan lembaga agar bantuan tiba tepat sasaran.

Bacaan Lainnya

“Sekali lagi, tanpa jalur transportasi, maka bantuan logistik atau kemanusiaan seberapa besar pun akan sulit untuk didistribusikan secara cepat, padahal itu yang paling harus didahulukan,” tambahnya.

Berapa banyak alat berat di Indonesia?

Indonesia memiliki 5.755 unit alat berat. Adapun sebaran alat berat di Indonesia dapat dipetakan, antara lain di Aceh sebanyak 114 unit, Sumatera Utara 254 unit, di Sumatera Selatan 153 unit, di Sumatera Barat 209 unit, di Bengkuli 76 unit, di Riau 69 unit, dan di Kepulauan Riau 68 unit. Sementara itu, di Jambi ada 119 unit, di Lampung 124 unit, di Bangka Belitung ada 63 unit, di Kalimantan Barat ada 130 unit, di Kalimantan Timur ada 118 unit, di Kalimantan Selatan ada 131 unit, di Kalimantan Tengah ada 122 unit, dan di Kalimantan Utara ada 81 unit.

Kemudian, di Banten ada 120 unit, di DKI Jakarta ada 354 unit, di Jawa barat ada 429 unit, di Jawa Tengah ada 472 unit. Lalu, di Yogyakarta ada 212 unit, di Jawa Timur ada 552 unit, di Bali ada 114 unit, di Nusa Tenggara Barat ada 181 unit, dan Nusa Tenggara Timur ada 196 unit. Lalu, di Gorontalo ada 121 unit, di Sulawesi Barat ada 129 unit, di Sulawesi Tengah ada 57 unit, di Sulawesi Utara ada 161 unit, dan di Sulawesi Tenggara ada 72 unit. Kemudian Sulawesi Selatan ada 263 unit, di Maluku Utara ada 102 unit, di Maluku ada 107 unit, di Papua Barat ada 70 unit, di Papua ada 137 unit, di Papua Tengah ada 26 unit, di Papua Selatan ada 16 unit, dan di Papua Barat Daya ada 31 unit.

Peralatan Pendukung Pengendalian Banjir

Kementerian Pekerjaan Umum menyiagakan alat berat dan bahan penanggulangan banjir melalui unit-unit pelaksana teknis yang tersebar di seluruh provinsi. Direktorat Jenderal Sumber Daya Air menyiapkan berbagai peralatan pendukung pengendalian banjir dan evakuasi, mulai dari ekskavator dan ekskavator amfibi, mobil pompa dan trailer pompa, pompa air, mobil tangki air, hingga perahu karet dan perahu fiber. Selain itu, disiagakan pula mesin tempel, self loader, truk trailer, truk crane, forklift, wheel loader, serta berbagai material seperti bronjong kawat, bronjong pasir, geobag, sandbag, dan geobox, untuk penanganan darurat tanggul dan aliran air.

Peralatan untuk Penanganan Jalan dan Jembatan

Direktorat Jenderal Bina Marga menyiagakan peralatan yang difokuskan pada penanganan darurat jalan dan jembatan. Alat-alat tersebut antara lain ekskavator, backhoe loader, tandem roller, motor grader, stamper, genset, dump truck, baby roller, flatbed, truk crane, wheel loader, jack hammer, gergaji mesin, serta kendaraan operasional. Ditjen Bina Marga juga menyiapkan material pendukung seperti bronjong kawat, bahan bakar minyak, water barrier, terpal, coldmix, emulsi, serta material tambalan darurat untuk menjaga akses transportasi tetap fungsional.

Sarana Air Bersih dan Sanitasi Darurat

Adapun Direktorat Jenderal Cipta Karya memfokuskan kesiapsiagaan pada penyediaan sarana air bersih dan sanitasi darurat bagi masyarakat terdampak. Peralatan yang disiapkan meliputi mobil tangki air, hidran umum, instalasi pengolahan air minum (IPA) mobile, toilet portabel, mobil toilet, mobil vakum tinja, tenda darurat, serta perahu karet.

Kerjasama Lintas Sektor

Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo menegaskan bahwa kolaborasi lintas sektor menjadi kunci utama dalam percepatan penanganan darurat bencana. “Dalam situasi darurat, kecepatan dan kolaborasi adalah kunci. Kementerian PU telah menggerakkan seluruh sumber daya mulai dari alat berat, personel teknis, termasuk dukungan logistik untuk membantu penanganan bencana di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh,” kata Dody beberapa waktu lalu.

Progres Pembangunan Infrastruktur

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengatakan bahwa ada perkembangan signifikan dalam pemulihan akses infrastruktur di wilayah terdampak bencana di Sumatera. Di provinsi Aceh, jembatan Bailey di Teupin Manee yang menghubungkan Kabupaten Bireuen dan Bener Meriah kini telah berfungsi penuh. Fungsionalnya jembatan tersebut menjadi jalur vital untuk mendukung mobilitas masyarakat serta memperlancar distribusi bantuan dan logistik ke wilayah terdampak. Selain itu, BNPB juga melaporkan perkembangan akses jalan menuju Bandara Rembele di Kabupaten Bener Meriah. Ruas jalan tersebut sudah dapat dilewati secara terbatas oleh kendaraan roda empat. Akses ini masih bersifat darurat karena kondisi jalan berupa perkerasan batu yang dibersihkan dan ditata sementara.

Di Sumatera Utara, proses pemulihan akses jalan terdampak longsor di Provinsi Sumatera Utara terus menunjukkan perkembangan. Untuk ruas jalan nasional yang menghubungkan Kabupaten Tapanuli Utara dengan Tapanuli Selatan, perbaikan masih berlangsung dan saat ini telah mencapai 95 persen. Di Sumatera Barat, proses pemulihan infrastruktur pasca banjir bandang terus menunjukkan kemajuan. Secara umum, terdapat dua ruas jalan utama yang saat ini masih dalam tahap perbaikan, baik jalan nasional maupun jalan provinsi, yang memiliki peran strategis dalam menghubungkan antardaerah. Upaya percepatan perbaikan kedua ruas jalan tersebut juga didukung dengan pelaksanaan operasi modifikasi cuaca untuk meminimalkan gangguan hujan selama proses pekerjaan berlangsung.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *