Isi Artikel
https://mediahariini.com– Peristiwa hujan meteor Geminid akan mempercantik langit malam pada akhir pekan ini. – Malam ini akan disajikan oleh hujan meteor Geminid yang menghiasi langit. – Pada akhir pekan ini, langit malam akan dipenuhi oleh hujan meteor Geminid. – Hujan meteor Geminid akan muncul di langit malam pada akhir pekan ini.
Ahli astronomi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin mengungkapkan, hujan meteor ini berasal dari serpihan komet yang sudah tidak aktif dan berubah menjadi benda langit bernama Phaeton.
“Disebut hujan meteor Geminid karena pertemuan antara serpihan debu komet dengan Bumi terlihat berpusat pada konstelasi Gemini,” katanya kepadahttps://mediahariini.com, Kamis (11/12/2025).
Peristiwa ini dikenal sebagai salah satu hujan meteor yang paling menakjubkan setiap tahun, karena pada saat puncaknya, jumlah meteor yang melewati bisa mencapai ratusan per jam.
Kemudian, kapan puncak hujan meteor Geminid terjadi dan apakah bisa dilihat dari Indonesia?
Hujan meteor Geminid bisa dilihat di Indonesia
Thomas menyampaikan bahwa puncak hujan meteor Geminid diperkirakan akan terjadi pada hari Minggu (14/12/2025) pagi waktu Indonesia Barat.
Pada puncaknya, jumlah meteor dapat mencapai sekitar 140 meteor per jam, selama cuaca langit cerah.
“Hujan meteor Geminid bisa dilihat di Indonesia sekitar pagi hari pada 14 Desember 2025,” ujarnya.
Untuk memperoleh pengalaman terbaik, Thomas menyarankan memilih tempat pengamatan yang jauh dari pencemaran cahaya perkotaan, seperti pantai, dataran tinggi, atau area terbuka.
“Observasi juga memerlukan cuaca yang cerah dan sedikit halangan seperti pohon atau bangunan,” tambahnya.
Durasi hujan meteor Geminid terbatas
Di sisi lain, astronom pemula Indonesia, Marufin Sudibyo menyatakan bahwa hujan meteor Geminid telah berlangsung sejak 4 Desember hingga 17 Desember 2025.
“Durasi hujan meteor ini cukup pendek jika dibandingkan dengan hujan meteor lain yang dapat berlangsung selama sebulan atau lebih,” katanya kepadahttps://mediahariini.com, Jumat (12/12/2025).
Secara singkat, durasi menunjukkan bahwa Geminid masih sangat muda dari sudut pandang astronomi, sehingga kolom debu dan pasir yang menjadi sumbernya belum mengalami penyebaran akibat gangguan gravitasi planet.
Marufin menjelaskan, fenomena ini pertama kali diketahui pada tahun 1862, atau sekitar 1,5 abad yang lalu. Hal ini jauh lebih baru dibanding hujan meteor Perseid (20 abad) atau Leonid (10 abad).
Sejalan dengan pendapat Thomas, ia juga menyampaikan bahwa puncak kegiatan Geminid terjadi pada tanggal 13–14 Desember.
Karena usianya yang masih muda, beberapa meteoroid memiliki ukuran yang cukup besar (sampai sebesar kerikil), sehingga Geminid sering menghasilkan meteor yang terang (fireball),” jelas Marufin.
Asal-usul meteoroid Geminid
Benda meteoroid Geminid diduga berasal dari sisa-sisa patahan komet atau hasil tabrakan antara dua asteroid besar sekitar 2.000 tahun yang lalu.
Sisa kejadian tersebut membentuk tiga asteroid besar, yaitu:
- 3200 Phaethon
- 2005 UD
- 1999 YC.
Partikel kecil berukuran debu hingga kerikil dari peristiwa tersebut memasuki atmosfer Bumi dengan kecepatan 35 km per detik, menghasilkan hingga 150 meteor per jam pada puncaknya (ZHR).
Marufin menjelaskan, sumber radiasi Geminid terlihat berada di dalam konstelasi Gemini, sehingga disebut Geminid.
“Rasi Gemini mulai muncul setelah pukul 22.00 waktu setempat, sehingga hujan meteornya baru terlihat dari tengah malam hingga menjelang pagi,” ujarnya.
“Dengan fase Bulan 27–30 persen (bulan tua) yang baru muncul tengah malam, sebagian meteor Geminid diperkirakan masih bisa terlihat meskipun ada cahaya bulan,” tambahnya.
Selanjutnya, katanya, hujan meteor tidak dapat lagi dilihat ketika langit mulai terang saat pagi hari.







