Bencana Jambi: Duka Akibat Kegagalan Tata Ruang

Banjir Meluas di Kota Jambi, Warga Dievakuasi dan Korban Jiwa Terjadi

Banjir yang melanda Kota Jambi sejak Jumat (12/12/2025) siang hingga malam memicu keadaan darurat di berbagai wilayah. Hujan deras mengguyur kota ini, menyebabkan genangan air yang menggenangi permukiman padat penduduk, jalan protokol, serta fasilitas umum. Kondisi ini memaksa petugas melakukan evakuasi warga, menimbulkan korban tersengat arus listrik, dan bahkan menelan korban jiwa setelah seorang bocah dilaporkan hanyut dan ditemukan meninggal dunia.

Banjir terjadi di beberapa titik strategis seperti Simpang Mayang, kawasan Beliung Lorong SMAN 4 Kota Jambi, serta Kelurahan Suka Karya di Kecamatan Kota Baru. Selain itu, genangan air juga merendam fasilitas umum seperti Sekolah Dasar Negeri (SDN) 98 Kota Jambi, Rumah Sakit Mitra, hingga Gedung Kampus UIN Sultan Thaha Jambi di Kabupaten Muaro Jambi.

Bacaan Lainnya

Hujan deras mulai turun sekitar pukul 15.00 WIB dan berlangsung hingga malam hari. Dalam waktu kurang dari satu jam, air cepat memasuki permukiman warga, dengan ketinggian mencapai pinggang orang dewasa di beberapa lokasi.

Data Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkartan) Kota Jambi mencatat bahwa pada Jumat (12/12/2025), petugas melakukan evakuasi warga terdampak banjir di empat titik lokasi:

  • Evakuasi pertama dilakukan di Lorong Mandiri RT 07, Kelurahan Suka Karya, Kecamatan Kota Baru. Seorang anak berinisial Sy (14) menjadi korban tersengat arus listrik saat rumahnya terendam banjir dan ia berupaya memindahkan stopkontak ke tempat yang lebih tinggi.
  • Evakuasi kedua dilakukan di Lorong Kampung Tengah RT 19, Kelurahan Suka Karya, Kecamatan Kota Baru. Petugas mengevakuasi lima orang warga, terdiri dari dua lanjut usia dan satu balita.
  • Evakuasi ketiga dilakukan di RT 45, Kelurahan Simpang III Sipin, Kecamatan Kota Baru, setelah seorang anak dilaporkan hanyut saat bermain hujan bersama teman-temannya ketika hujan deras mengguyur wilayah tersebut.
  • Evakuasi keempat dilakukan terhadap seorang lansia yang terjebak banjir di RT 45, Kelurahan Simpang III Sipin, Kecamatan Kota Baru.

Peristiwa anak hanyut tersebut kemudian berujung duka. Bocah perempuan bernama Aisyah (5) yang sebelumnya dilaporkan hanyut terbawa arus drainase di Perumahan Sigasland, RT 45, Kota Jambi, pada Jumat (12/12/2025) sore sekitar pukul 16.00 WIB, akhirnya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia pada Sabtu (13/12/2025) pagi.

Korban ditemukan sekitar pukul 09.00 WIB dalam kondisi tersangkut di semak-semak di RT 14, Jalan Sunan Bonang, Kelurahan Simpang III Sipin, Kota Jambi. Jarak lokasi penemuan diperkirakan sekitar lima kilometer dari titik awal korban diduga hanyut.

Komandan Tim SAR Jambi, Djunianto, membenarkan penemuan tersebut. Ia mengatakan korban ditemukan oleh tim SAR gabungan saat melakukan penyisiran lanjutan di sepanjang aliran drainase.

“Korban ditemukan pagi ini sekitar pukul 09.00 WIB, tersangkut di semak-semak wilayah RT 14 Jalan Sunan Bonang. Jarak dari lokasi awal kurang lebih lima kilometer,” ujarnya.

Basarnas Jambi menerima laporan kejadian sekitar pukul 18.30 WIB dari Camat Kota Baru. Delapan personel rescuer langsung diberangkatkan dan tiba di lokasi pukul 18.55 WIB untuk melakukan pencarian. Operasi SAR melibatkan unsur Basarnas Jambi, Polresta Jambi, BPBD Kota Jambi, Damkartan Kota Jambi, serta masyarakat setempat dengan menggunakan rescue car, rubber boat, drone, serta peralatan komunikasi dan navigasi.

Selain menimbulkan korban, banjir juga tercatat terjadi di RT 09 dan RT 11 Kelurahan Simpang IV Sipin, Kecamatan Telanaipura, sekitar pukul 16.00 hingga 17.10 WIB. Banjir tersebut merupakan kejadian ketiga yang dialami warga di kawasan itu sepanjang tahun 2025.

Menanggapi kondisi banjir yang terus berulang, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jambi menilai kejadian ini sebagai tanda krisis ekologis dan kegagalan tata ruang kota. Direktur WALHI Jambi, Oscar Anugrah, menyebut banjir berulang menunjukkan Kota Jambi berada dalam siklus bencana ekologis.

“Di RT 11, warga yang belum pulih dari banjir sebelumnya kembali harus menanggung kerugian. Yang tenggelam bukan hanya lantai rumah, tetapi juga rasa aman dan kemampuan mereka untuk pulih,” kata Oscar dalam rilis pers.

Menurut WALHI Jambi, genangan air juga muncul di sejumlah titik lain seperti Kantor Gubernur Jambi, Simpang Mayang, Simpang IV Sipin, Kenali Asam Atas, Simpang IV Pal 7 Kenali Asam Bawah, dan wilayah lainnya.

Oscar menegaskan banjir tidak bisa lagi dianggap sebagai dampak hujan deras semata. “Ini bukan sekadar cuaca ekstrem. Ini adalah konsekuensi langsung dari pembangunan yang tidak memperhatikan daya dukung dan daya tampung lingkungan,” ujarnya.

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Jambi mengingatkan bahwa wilayah Jambi masih berada dalam periode puncak musim hujan. Koordinator Data dan Informasi BMKG Jambi, Nabilatul Fiqroh, mengatakan hujan masih berpotensi terjadi dalam beberapa hari ke depan.

“Sekarang masih terjadi hujan dan masih dalam periode puncak musim hujan tahun ini,” katanya. Ia menjelaskan, dalam sepekan ke depan diprediksi hujan dengan intensitas rendah hingga sedang masih akan terjadi, bahkan di beberapa wilayah diperkirakan curah hujan di atas 20 milimeter pada 13–14 Desember 2025, terutama di Kabupaten Bungo, Tebo, Sarolangun, dan sebagian Batanghari.

BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada, berhati-hati, dan terus memantau informasi cuaca terkini, mengingat potensi hujan dan banjir masih dapat terjadi.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *