Isi Artikel
- 1 Analisis Mantan Jenderal Polisi: Motif Belum Terungkap
- 2 Bayang-bayang Motif Politik Tak Bisa Dikesampingkan
- 3 Tubuh Korban Jadi Kunci Pengungkapan
- 4 CCTV, Tetangga, hingga ART Jadi Fokus Penyelidikan
- 5 Jejak Digital Tak Luput dari Penelusuran
- 6 Sudut Pandang Kriminolog: Pencurian yang Berujung Panik
- 7 Orang Dekat Jadi Dugaan Kuat
- 8 Pembunuhan Tak Terorganisir
- 9 Kasus Masih Gelap, Jawaban Ditunggu Publik
Ringkasan Berita:
- Mantan Kabareskrim Komjen Pol (Purn) Susno Duadji menegaskan bahwa hingga kini motif pembunuhan bocah 9 tahun tersebut belum bisa dipastikan
- Susno Duadji tidak menutup kemungkinan adanya motif politik, mengingat korban adalah anak seorang politikus PKS
- Tubuh korban menjadi alat bukti utama melalui visum luar dan dalam
Tragedi memilukan mengguncang Kota Cilegon, Banten. Seorang anak berusia 9 tahun ditemukan tewas secara mengenaskan di rumahnya sendiri.
Korban berinisial MAHM, putra dari Maman Suherman, Anggota Dewan Pakar Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kota Cilegon.
Peristiwa ini sontak menyita perhatian publik, bukan hanya karena usia korban yang masih belia, tetapi juga karena latar belakang sang ayah sebagai tokoh politik.
Di tengah duka mendalam keluarga, berbagai spekulasi bermunculan. Apakah ini murni kejahatan kriminal, atau ada motif lain yang lebih kompleks di balik kematian tragis sang anak?
Analisis Mantan Jenderal Polisi: Motif Belum Terungkap
Komisaris Jenderal Polisi (Purn) Susno Duadji memberikan pandangannya terkait kasus ini.
Dikutip dari tayangan YouTube Kompas TV pada Kamis (19/12/2025), Susno menegaskan bahwa hingga saat ini, motif pembunuhan belum dapat dipastikan.
Menurutnya, kunci untuk mengungkap motif terletak pada proses penyelidikan yang menyeluruh, khususnya melalui pengumpulan bukti dan keterangan saksi.
“Dari keterangan saksi apakah melihat pelakunya. Kalau ketahuan pelakunya, maka motifnya bisa terungkap,” kata Susno.
Ia menekankan bahwa tanpa mengetahui siapa pelaku, spekulasi soal motif hanya akan menjadi asumsi semata.
Bayang-bayang Motif Politik Tak Bisa Dikesampingkan
Susno Duadji juga tidak menutup kemungkinan adanya motif politik di balik pembunuhan ini.
Latar belakang korban sebagai anak seorang politikus PKS dinilai berpotensi menyeret dimensi lain dalam kasus tersebut.
“Apakah motif balas dendam atau apa, ini bisa diungkapkan dengan alat bukti yang ada,” katanya.
Menurut Susno, dugaan apa pun, termasuk balas dendam atau motif tertentu, hanya bisa dibuktikan melalui alat bukti yang sah dan kuat.
Tubuh Korban Jadi Kunci Pengungkapan
Lebih lanjut, Susno menjelaskan bahwa alat bukti penting justru terdapat pada tubuh korban.
Proses visum luar dan visum dalam menjadi langkah krusial dalam mengungkap penyebab kematian.
Dari hasil visum luar, diketahui adanya banyak bekas penganiayaan di tubuh korban.
Fakta ini memperkuat dugaan bahwa kematian tersebut tidak terjadi secara alami dan pasti melibatkan orang lain.
CCTV, Tetangga, hingga ART Jadi Fokus Penyelidikan
Selain pemeriksaan medis, Susno juga menyarankan kepolisian untuk menelusuri kemungkinan adanya rekaman CCTV di sekitar lokasi kejadian.
Rekaman visual dinilai dapat memberikan petunjuk penting terkait pergerakan pelaku.
Tak hanya itu, kepolisian juga diminta untuk menggali keterangan dari berbagai saksi, termasuk tetangga dan asisten rumah tangga (ART) yang berada di sekitar rumah korban.
“Baik yang melihat ataupun yang mendengar kasus pembunuhan itu,” ujar Susno.
Jejak Digital Tak Luput dari Penelusuran
Alat bukti lain yang tak kalah penting, menurut Susno, adalah bukti elektronik.
Ponsel, media sosial, pesan WhatsApp, hingga riwayat panggilan telepon bisa menjadi petunjuk krusial.
Jejak komunikasi dari pihak-pihak yang mencurigakan, baik yang mengarah kepada orang tua korban maupun orang-orang terdekat, dapat membuka tabir pelaku dan motif di balik peristiwa ini.
Sudut Pandang Kriminolog: Pencurian yang Berujung Panik
Di sisi lain, Guru Besar Kriminologi Universitas Indonesia, Prof Adrianus Meliala, memiliki pandangan berbeda. Ia menduga pembunuhan ini berawal dari niat pelaku untuk melakukan pencurian secara diam-diam.
“Saya menduga ini adalah pencurian diam-diam, di mana kemudian pelaku tidak mau memperlihatkan jati dirinya, tapi korban muncul,” katanya.
Menurut Adrianus, kemunculan korban membuat pelaku panik dan bertindak brutal demi menutupi identitasnya.
Orang Dekat Jadi Dugaan Kuat
Adrianus Meliala juga menduga pelaku merupakan orang yang sudah mengenal lingkungan rumah korban, seperti asisten rumah tangga, satpam, atau tamu yang tidak terpantau dengan baik.
Ia bahkan menepis dugaan kuat soal dendam pribadi.
“Saya agak menepis kalau soal dendam, kalau orang dendam sama kita, tentu kita pun merasakan bahwa orang yang tidak suka dengan kita dan kita akan berjaga-jaga,” katanya.
Pembunuhan Tak Terorganisir
Menurut Adrianus, cara pelaku bertindak menunjukkan bahwa pembunuhan ini dilakukan secara spontan dan tidak direncanakan dengan matang.
“Pembunuhan tipe ini kita sebut sebagai disorganized murder atau pembunuhan yang tidak terorganisir,” jelasnya.
Kesimpulan ini memperkuat dugaan bahwa peristiwa tragis tersebut bukan hasil perencanaan matang, melainkan ledakan kepanikan yang berujung fatal.
Kasus Masih Gelap, Jawaban Ditunggu Publik
Hingga kini, kematian MAHM masih menyisakan banyak tanda tanya.
Apakah ini murni kejahatan pencurian yang gagal, atau ada motif lain yang lebih dalam, termasuk kemungkinan unsur politik?
Satu hal yang pasti, publik menanti langkah tegas dan transparan aparat penegak hukum untuk mengungkap siapa pelaku di balik tragedi yang merenggut nyawa seorang anak tak berdosa ini.
***
(TribunTrends/Sebagian artikel diolah dari Kompas)
Jangan lewatkan berita-berita tak kalah menarik lainnya di Google News, Threads dan Facebook







