KEPALA Pusat Riset Perubahan Iklim (Research Center for Climate Change) Universitas Negeri Padang Nofi Yendri Sudiar memperingatkan potensi banjir bandang susulan yang sangat mengkhawatirkan di Sumatera Barat. Ancaman ini diprediksi akan terus berulang hingga lima tahun ke depan dengan intensitas curah hujan yang semakin tinggi.
“Curah hujan yang intensitasnya 1.000 mm dalam sebulan pernah muncul di tahun 1981-1982. Yang di bulan November, baru sekarang. Itu perulangan 50 tahun,” kata Nofi kepada Tempo, Senin, 29 Desember 2025.
Berdasarkan perhitungan dari tahun 1980-an hingga 2025, Nofi memperkirakan hingga lima tahun ke depan masih ada potensi intensitas curah hujan yang cukup tinggi. “Kalau dilihat dari sisi perubahan iklim, intensitas hujan trennya makin lama makin naik. Cuaca ekstrem yang dulu jarang muncul, sekarang malah sering. Ini menjadi kenormalan baru,” jelasnya.
Menurut analisisnya, kondisi di Padang sejak 6 November hingga 29 November 2025 mencatat intensitas hujan yang sangat ekstrem. Kota ini diguyur hujan hampir dua minggu dengan intensitas mencapai 1.000 mm. “Sebagai perbandingan, curah hujan 1.000 mm itu normalnya dicurahkan dalam empat bulan. Ini hanya dalam dua minggu,” kata Nofi.
Pakar iklim ini menyebut fenomena hujan di Sumatera Barat berbeda dengan Aceh. Di Aceh, intensitas dalam sehari mencapai 400 mm yang memang sangat ekstrem, sementara di Sumatera Barat mencapai 200 mm per hari, namun tidak berhenti dari 6 November. “Curah hujannya sangat lebat sampai ekstrem. Intensitas sehari dari 100 mm sampai 150 mm. Yang 150 mm bahkan sampai 200 mm itu kategori ekstrem selama dua minggu,” imbuhnya.
Menurutnya, yang lebih mengkhawatirkan adalah kondisi tanah di Sumatera Barat saat ini masih dalam keadaan jenuh akibat diguyur hujan dengan intensitas sangat tinggi. Fungsi hutan yang seharusnya menyerap dan menahan air sudah tidak mampu lagi.
“Ketika air hujan turun dengan intensitas sedang, tidak harus lebat, akan terjadi longsor, apalagi di daerah tanah terbuka,” ujarnya. Kondisi ini terbukti dari kejadian di Maninjau pada 25 Desember 2025, di mana hujan dengan durasi hanya satu hingga dua jam langsung menyebabkan banjir susulan.
Hasil pemantauan menggunakan drone dan citra satelit dari BRIN di hulu Sungai Air Dingin dan Kuranji menunjukkan 51 titik longsor di hulu atas Kuranji. “Di hulu-hulu itu banyak yang sudah terbuka, tanggul-tanggul runtuh dan kondisinya labil. Hujan sebentar saja, bisa longsor semua,” katanya.
Nofi mengidentifikasi tiga faktor utama yang menyebabkan cuaca ekstrem di Sumatera Barat. Pertama, krisis iklim yang menyebabkan curah hujan semakin ekstrem. Kedua, fenomena IOD (Indian Ocean Dipole) negatif yang menyebabkan suhu di Pantai Barat Sumatera meningkat sehingga penguapan air banyak terjadi dan membentuk awan hujan. Ketiga, munculnya siklon tropis di daerah tropis yang sebenarnya langka.
“Peningkatan suhu permukaan bumi yang 90 persen diserap oleh laut menyebabkan suhu permukaan laut makin tinggi. Ini memicu munculnya cuaca ekstrem dan siklon tropis di daerah tropis,” jelasnya.
Menurutnya, pemerintah harus menggeser paradigma dari musiman menjadi berbasis parameter iklim. “Parameter iklim harus jadi kebijakan utama dan berbasis lokal. Harus ada edukasi ke masyarakat dan dibuatlah early warning system di hulu-hulu,” ujarnya.
Dia juga mendesak pemerintah menghentikan pemberian izin membangun di jalur air dan melakukan audit ulang RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah). “Buat zona yang jelas. Ada zona yang bisa dibangun, ada yang tidak bisa dibangun. Jangan lagi memberikan izin di daerah tangkapan air,” katanya.
Dia juga mengatakan bahwa bencana hidrometeorologi akan terus berulang di tahun-tahun mendatang. “Siap-siap saja, tahun depan akan berulang kejadian kembali. Dalam krisis iklim, bencana akan sering muncul dan bergeser-geser. Bisa bergeser sebulan lebih awal atau sebulan lebih maju,” ujarnya.







