BEBERAPA penelitian ilmiah mengindikasikan bahwa sejumlah senyawa alami dapat berperan dalam menjaga kemampuan kognitif, seperti konsentrasi, daya ingat, serta kecepatan merespons. Salah satu bahan yang kini menjadi perhatian peneliti adalah Neumenti, ekstrak dari jenis spearmint tertentu yang memiliki kandungan polifenol tinggi.
Anggota Nutrition Advisory Board (NAB) Herbalife Indonesia, Rimbawan, menjelaskan bahwa polifenol dalam spearmint, termasuk asam rosmarinat dan asam salvianolat, memiliki aktivitas antioksidan yang berpotensi melindungi jaringan saraf dari paparan stres oksidatif.
“Berdasarkan penelitian pra-klinis, asam rosmarinat diduga berperan dalam mengurangi stres oksidatif yang bisa menyebabkan kerusakan sel, sekaligus mendukung kesehatan dan fungsi neuron. Senyawa ini juga diprediksi berkontribusi pada peningkatan efisiensi komunikasi antar sel saraf,” kata Rimbawan dalam pernyataan tertulis di Jakarta, Senin 19 Desember 2025.
Ia menyebutkan bahwa ekstrak spearmint telah diuji secara klinis dan menunjukkan kemampuan dalam membantu fungsi psikologis serta kognitif pada orang dewasa, yang menjadi hal penting bagi kesehatan otak secara keseluruhan.
Beberapa uji klinis acak yang bersifat tersamar ganda (double-blind) dilakukan terhadap berbagai kelompok usia. Dalam pengujian pada peserta berusia 18–50 tahun, sebanyak 142 orang sehat mengonsumsi ekstrak spearmint dengan dosis 900 miligram setiap hari selama 90 hari. Hasilnya menunjukkan adanya peningkatan dalam kecepatan respons dan kemampuan menjaga fokus.
Penelitian ini mencatat peningkatan waktu respons dan pengambilan keputusan sejak minggu pertama penggunaan. Di sisi lain, peningkatan konsentrasi jangka panjang terlihat lebih nyata setelah penggunaan selama satu hingga tiga bulan, dibandingkan dengan kelompok plasebo.
Kemampuan untuk menjaga fokus diri sendiri merupakan hal yang penting dalam menjalani kegiatan sehari-hari, seperti bekerja, belajar, atau melakukan perjalanan yang memerlukan tingkat konsentrasi yang tinggi.
Di kalangan usia lanjut, yaitu antara 50 hingga 70 tahun, penelitian terhadap 90 peserta yang mengalami penurunan kognitif akibat penuaan menunjukkan adanya bantuan terhadap memori kerja setelah mengonsumsi secara rutin selama 90 hari. Peningkatan kemampuan memori kerja dilaporkan mencapai sekitar 15 persen dibandingkan dengan kelompok plasebo. Penelitian yang sama juga menemukan adanya perbaikan dalam kualitas tidur, khususnya dalam proses memulai tidur.
Namun demikian, para ilmuwan menekankan bahwa temuan ini masih perlu diikuti dengan penelitian lanjutan untuk mengevaluasi dampak jangka panjang dan konsistensinya pada populasi yang lebih luas. Mereka juga memperingatkan bahwa upaya menjaga kesehatan otak sebaiknya dilakukan secara menyeluruh, mencakup pola makan yang seimbang, aktivitas fisik yang teratur, waktu istirahat yang cukup, serta pengelolaan stres.stres yang efektif.







