LAMPUNG INSIDER- Puisi “Jalan Gelap Undang-Undang” karya Muhammad Alfariezie dapat dibaca sebagai kritik terhadap cara negara mereproduksi relasi produksi melalui aparatus ideologisnya. Dengan pendekatan Althusserian, undang-undang dalam puisi ini tidak dipahami sebagai teks normatif yang netral, melainkan sebagai Ideological State Apparatus (ISA) yang bekerja secara halus, senyap, dan kerap tak disadari oleh subjek yang diaturnya.
Jalan Gelap Undang-Undang
Bukan maksud kami mengganggu
kerja-kerja kalian, tapi ini jalan
undang-undang
Mungkin ini semacam bulan
sesaat setelah adzan, tanda
hujan tak akan datang
Meski gelap tapi tak lembab,
walau gelap tapi penjual mie
tek-tek dan bandrek rezekinya
masih tergarap
2025
Larik pembuka “Bukan maksud kami mengganggu / kerja-kerja kalian” adalah contoh konkret interpelasi ideologis. Subjek “kami” telah lebih dulu dipanggil (interpellated) oleh ideologi hukum sebagai warga yang harus patuh, sopan, dan tidak mengganggu kerja aparatus negara. Di sini, kekuasaan tidak hadir dalam bentuk represif (polisi, penjara), melainkan dalam bentuk bahasa dan etika. Subjek telah “menjadi subjek” justru ketika ia tunduk dan merasa perlu meminta izin untuk bersuara.
Frasa “tapi ini jalan / undang-undang” memperlihatkan fungsi ideologi sebagai penunjuk arah. Undang-undang diposisikan sebagai “jalan”—jalur tunggal yang sah—meskipun jalan itu gelap. Dalam perspektif Althusser, ideologi bekerja bukan dengan memberi terang, melainkan dengan membuat kegelapan terasa wajar. Kegelapan hukum tidak dipertanyakan karena ia telah dinormalisasi sebagai satu-satunya jalan yang mungkin.
Citra “bulan / sesaat setelah adzan” menegaskan peran aparatus ideologis non-negara seperti agama, yang oleh Althusser juga dimasukkan dalam ISA. Bulan pasca-adzan seharusnya membawa petunjuk moral, tetapi dalam puisi ini ia justru menjadi tanda “hujan tak akan datang”. Ini menunjukkan kegagalan ideologi moral dan spiritual untuk mengintervensi kondisi material. Agama tetap bekerja sebagai simbol ketenangan, tetapi tidak mengubah relasi produksi yang timpang—sebuah bentuk ideologi yang menenangkan, bukan membebaskan.
Realisme sosial puisi ini mencapai titik ideologis terpenting pada bait terakhir melalui figur penjual mi tek-tek dan bandrek. Mereka adalah subjek yang sepenuhnya berada di luar perlindungan ISA hukum, namun justru menjadi penopang reproduksi ekonomi sehari-hari. Pernyataan “rezekinya masih tergarap” mengungkap paradoks Althusserian: relasi produksi direproduksi bukan karena keadilan hukum, tetapi karena subjek terus bekerja meski sistem tidak berpihak. Ideologi bekerja efektif ketika kelas pekerja menerima kondisi ini sebagai keniscayaan.
Kalimat “Meski gelap tapi tak lembab” adalah kritik tajam terhadap logika negara yang mengidentikkan keteraturan dengan moralitas. Dalam puisi ini, kebusukan tidak berada di jalan gelap rakyat, melainkan di ruang terang institusi yang memproduksi undang-undang. Althusser menegaskan bahwa ideologi selalu merepresentasikan hubungan imajiner manusia dengan kondisi materialnya—dan puisi ini membongkar imaji hukum sebagai pelindung, dengan memperlihatkan realitas material rakyat yang bertahan tanpa perlindungan tersebut.
Secara estetik, bahasa puisi yang sederhana dan minim ornamentasi sejalan dengan sikap anti-ideologis yang justru ideologis dalam pengertian kritis. Penyair menolak bahasa hukum yang kaku dan elitis, menggantinya dengan bahasa jalanan dan kerja—bahasa kelas yang hidup di luar institusi. Dengan demikian, puisi ini tidak hanya merepresentasikan realitas sosial, tetapi juga melawan cara negara berbicara tentang realitas itu sendiri.
Melalui pembacaan Marxis–Althusserian, “Jalan Gelap Undang-Undang” dapat dipahami sebagai puisi yang menyingkap bagaimana hukum dan moral bekerja sebagai aparatus ideologis negara: memanggil, menundukkan, dan menormalisasi ketimpangan. Muhammad Alfariezie tidak menawarkan jalan keluar, karena dalam logika Althusser, ideologi tidak runtuh oleh wacana, melainkan oleh perubahan relasi material. Puisi ini berhenti pada satu fungsi penting sastra kritik: membuat kegelapan itu terlihat sebagai konstruksi, bukan takdir.***







